Menu
/

www.ernawatililys.com - Pengalaman Merawat Anak Yang Terkena Campak. Walau sudah menjadi ibu tiga orang anak, setiap tumbuh kembang anak itu berbeda-beda, begitupun ketika sakit semuanya berbeda kondisi dan cara penangannya. Seperti anak ketiga saya ini De Fifi yang terlahir sehat, hingga usia 7 bulan selalu sehat tidak pernah sakit, bahkan disuntik imunisasi pun tidak pernah panas tinggi apalagi harus minum obat penurun panas, cukup boaster ASI saja dan nemplok seharian dalam gendongan mamanya, langsung esoknya ceria kembali. Kaku pasca suntikan cukup di kompres dengan air hangat itu saja untuk mengurangi pembengkakan atau kaku pada area yang di suntik. 



Kemarin, De Fifi suntik dasar yang terakhir yaitu suntik campak usia 9 bulan. Masih ada suntik imunisasi lainnya sih nanti yaitu suntik imunisasi pengulangan ketika usianya 1,5 tahun. Kembali ke suntik vaksin campak, pasca suntik Vaksin, De Fifi tertidur dalam gendongan mamanya. Kemudian hari itu saya dan suami dan kedua kakaknya keliling mencari sekolah SD untuk anak pertama kami. Pulang siang hari dan seperti biasa makan siang bubur tim Ati ayam brokoli, disantapnya dengan lahap. Tidak ada demam dihari ini dan berikutnya, De Fifi sehat-sehat selalu. 


Dua minggu berlalu, De Fifi demam tinggi hampir 40 derajat, bersamaan dengan tumbuhnya dua gigi atas bagian depan. Saya pikir demamnya karena tumbuh gigi karena mulai melihat 4 gigi lainnya yang timbul di area mulutnya. Sambil observasi demam juga, dan mulai khawatir ketika demamnya tidak turun-turun. Besoknya demam semakin tinggi dan De Fifi maunya dipeluk dalam gendongan sekalipun tidur harus ditemani, tidak mau jauh-jauh dari mamanya. Namun ketika saya mengantarkan kedua kakaknya yang ikut rewel minta dibelikan es krim, De Fifi bersama dengan ayahnya di rumah dan panas semakin tinggi, hingga kejang. 


Kembalinya saya pun kaget dan langsung memberikan ASI untuk menenangkannya. Kemudian membawanya ke dokter, sebelum ke rumah sakit saya pun memberi obat penurun panas. Sampai di sana, demam De Fifi tetap tidak mau turun selalu mau menembus 40 derajat, sama bu dokter akhirnya dimasukkan obat penurun panas dari duburnya. Kami pun diberi resep obat penurun panas, lacto be dan zinc kid karena panas disertai diare juga. 


Sampai di rumah, De Fifi terlelap tidur panasnya turun. Tetapi jam 3 pagi demamnya tinggi lagi, saya memberikan obat penurun panas. Hingga siang panasnya tidak turun juga. Obat penurun panas pun enggan diminumnya. Akhirnya dibawa ke dokter lagi dan diberi obat penurun panas dari bawah. Kali ini demamnya turun. 

Keesokan paginya jam 2 saya pegang badan De Fifi mulai hangat dan saya ukur suhunya ternyata 39, 7  derajat. Saya pun memberinya obat penurun panas. Kemudian memeluknya terus dengan berbagai metode untuk menurunkan demamnya. Alhamdulillah demamnya telah turun dan tak kembali lagi. Namun muncul ruam merah di sekujur tubuhnya. Mulai keluar cairan putih di hidungnya seperti flu dan ada batuk. Saya searching dibeberapa artikel mendekat gejala campak. Saya pun berencana keesokan mau membawanya ke dokter spesialis anak. Ternyata, malam hari ada lendir darah, saya jadi bingung dan langsung pergi ke dokter. 



Setelah hasil pemeriksaan, De Fifi memang terkena campak, dan pada diarenya seharusnya diare karena demam saja tanpa darah. Jadi lendir darah itu termasuk ada virus di saluran cerna De Fifi dan kemudian diberikan obat antibiotik. Cukup tiga hari meminum obatnya diarenya pun sembuh, batuk juga hilang dan flu nya juga reda. 



Memang demam pada anak banyak sebabnya :
  1. Tumbuh gigi
  2. Terkena virus,kuman, dll
  3. Kelelahan
  4. Ada yang dirasa pada tubuhnya
  5. Imunisasi
  6. Sakit diarea tubuhnya, seperti terkilir, terjatuh.

Demam pada anak memang harus selalu diobservasi penyebabnya agar tidak salah diagnosa. Seperti anak ketiga saya yang terkena campak, setelah saya baca di alodokter tentang gejala campak yaitu : 


  • Demam tinggi
  • Nyeri.
  • Tidak bersemangat dan kehilangan selera makan.
  • Diare
  • Mata merah, bengkak, dan sensitif terhadap cahaya.
  • Tanda-tanda menyerupai pilek (misalnya sakit tenggorokan, batuk kering, dan hidung beringus).
  • Bercak kecil berwarna putih keabu-abuan di mulut dan tenggorokan..
  • Lemas dan letih.
  • Muntah-muntah.

Setelah mengetahui gejalanya, maka untuk meyakinkan diri yaitu lanjut berkonsultasi ke dokter. Agar ditangani dengan cepat. Pesan dokter kemarin "Terimakasih bu, anaknya sudah di imunisasi campak, sehingga ketika terkena virus tidak begitu parah." 




Saya sedikit lega, walau kedua anak saya yaitu anak pertama dan kedua belum terkena campak. Baru anak ketiga ini. Jadi inilah pengalaman mendebarkan bagi saya merawat anak yang terkena campak. Semoga ibu-ibu di sana bisa tetap tenang dalam merawat anak yang sedang sakit dan terus memperhatikan asupan gizi anak,ekstra perhatian dan segera konsultasikan ke dokter jika ada gejala yang membahayakan. 


Untuk pantangan makan saya tanyakan tidak ada (walau mitosnya tidak boleh makan-makanan amis, tidak boleh kena angin, dll) sebaiknya tanyakan ke dokter langsung saja ya. Saran dokter berikan makanan yang bernutrisi, buah, dan juga istirahat yang cukup serta perbanyak minum air putih, jika ASI tetap berikan ASI dan ibunya pun harus tenang agar ASInya tetap melimpah dan juga asupan makan ibu tetap bernutrisi. Demikianlah pengalaman merawat anak yang terkena campak. Sehat-sehat selalu untuk anak-anak Indonesia semua. Adakah ibu-ibu mengalami pengalaman yang sama ketika merawat anak yang terkena campak, share yuk di komentar. Terimakasih.



Salam Inspirasi 

6 comments

makasih info penting ini ya mbak.. kudu harus imunisasi deh klo begini, demi mencegah campak pada anak-anak nanti :-)

Reply

iya Mba, sama-sama. Sekarang lebih baik cegah dari awal, sebelum ada wabah menyerang. Penyembuhannya pun lebih cepat. Semoga anak-anak kita selalu sehat ya

Reply

Thanks for sharing mom, alhamdulillah anak saya sudah vaksin campak juga. Cuma jaga jaga kalau terkena juga jadi bisa belajar dari pengalaman mom.

Reply

sama-sama Mom duduk paling depan. Alhamdulillah sudah di vaksin ya anaknya, semoga sehat selalu.

Reply

Suka kasihan kalau lihat anak kena campak, nggak tega. Dulu michan karena nggak vaksin jadi kena campak, tapi langsung dibawa ke dokter, alhamdulillah sembuh ^^

Reply

penting banget ya, mbak imunisasi ini buat anak. setidaknya kalau dia tetap terkena penyakitnya tidak terlalu parah gejalanya

Reply

Powered by Blogger.