Menu
/

Menjadi wanita itu berjuta rasanya, banyak fase yang akan dilakui dari anak kecil yang manis, remaja yang cantik, menjadi istri yang taat hingga menjadi ibu yang luarbiasa. Ingat waktu masih kecil suka sekali gendong-gendong boneka selalu mengkhayal itu adalah adik atau anak. Walau hanya mainan tetapi bikin hati senang. 

Memang waktu cepat berlalu, selalu banyak yang bilang kalau anak perempuan itu cepat besarnya, cepat berubah bentuk tubuhnya, cepat nikahnya, cepat pula tuanya. Walau ada juga yang mukanya selalu awet muda alias babyface kayak saya #keselek. 

Nah, sejak menikah pastinya seorang wanita tidak akan terbayang akan memiliki anak berapa, laki atau perempuan atau bahkan kembar. Ada yang hamilnya cepat lahirnya cepat, ada yang hamilnya lama lahirnya juga ribet, bahkan ada yang bikin trauma, alias telah tahu jadi ibu dengan perjuangan yang luar biasa memutuskan untuk cukup satu anak saja. Banyak kok wanita yang memilih seperti ini, walau terkadang takdir mendapatkan berapa anak bukan pilihan tetapi sebuah amanah dari Sang Pencipta.

Kalau jadi wanita yang beranak pinak banyak bagaimana? Ini juga menjalani takdir :) berarti amanah yang diberikan kepadanya untuk menjadi ibu yang memiliki anak banyak. Jangan tanya siap gak siap, semua wanita punya jawaban yang berbeda, jangan juga di bully karena sejatinya mereka pun sedang berdamai dengan kondisi. 

Sejak Menikah pada bulan Februari 2011, pengalaman saya hamil selama 4 kali, ada kisah suka maupun dukanya. Saya akan berbagi pengalaman ini bukan ajang pamer apalagi merasa hebat, ini hanya salah satu cara saya mengenang kehadiran buah hati saya. Karena saya sendiri masih merasa takjud dengan keajaiban-keajaiban kehadiran mereka dengan segala kisahnya #mulaigerimisdimata.

Kehamilan Pertama dan Keguguran


Awal menikah, sebenarnya saya shock banget ketika usia pernikahan baru tiga bulan alias seumur jagung, mulai terdengar paduan suara "Kapan Hamil?" .
Saya dan suami yang sama-sama belum punya pengalaman memiliki anak dan gak tahu cara cepat buat hamil, bingung jawab tim paduan suara seperti ini. Apalagi kalau dikumpulkan ternyata bisa jadi satu album dengan beberapa genre musik dari yang pertanyaannya model Jazz, Pop hingga Rock. Beberapa bikin menusuk jantung saya ketika dibilang saya ini mandul #duhgustisegitunya. Apalagi ada saudara yang bilang saya gak mungkin hamil cepat karena faktor kelelahan fisik (masih status karyawati swasta dan mahasiswi tingkat 5). Sebagai perantau yang masih jadi kontraktor memiliki tetangga yang ternyata lebih kepo lagi, wajah saya yang babyface ternyata membuat saya dipikir istri simpanan. Drama-drama kejam pun berlangsung dari intimidasi hingga bergunjing tanpa seizin saya #berasaartis. Nangis, tentu saja dan bikin tertekan, maklum usia masih dua puluh-an, emosi labil dan masih berteman galau. Tapi jadi tahu setelah berumah tangga ternyata memasuki dunia "bisik-bisik tetangga" walau saya nggak peduli dan tetap melanjutkan kehidupan tetapi ternyata saya ini menyimpannya rapat di hati.

Punya suami sabar dan bijak, sering menasehati saya sudah jangan dengarkan kata orang yang tidak enak, lebih baik fokus sama cita-cita dan selesaikan kuliah. Dan, kesalahan kami berdua hanya ikhtiar mendapatkan anak tanpa mempersiapkan ilmunya, terutama tanda-tanda hamil. 

Sebenarnya bukan gunjingan juga yang membuat beban pikiran, kerjaan yang padat merayap dan mulai menyusun proposal skripsi yang penuh penolakan. Selain itu intern keluarga pun mempengaruhi karena ada sedikit pendapat keluarga yang menyudutkan saya sebagai orang sibuk yang jarang silaturahmi. Padahal seminggu itu waktu yang bikin saya "engap-engapan" subuh sudah berangkat kerja, magrib atau isya sudah di kampus, pulang ke kontrakan sekitar jam sepuluh malam bahkan kadang jam sebelas malam jika ada diskusi tugas, dll. Minggu waktunya nyuci setumpukan dan setrika *masihhobinyetrika :) sama menyempatkan tetap rutin ikut organisasi kepenulisan walau kadang ketumpuk juga sama tugas-tugas kuliah.

Sudah lihatkan, kondisi ini ternyata bikin gak kondusif. Dulu waktu gadis, saya bebas seharian di dalam kamar ngetik-ngetik naskah kalau liburan. Saat ini tiba-tiba banyak tuntutan harus seperti ini itu dari pihak luar. Setelah empat bulan dari tanggal pernikahan, tiba-tiba saya sakit perut, kepala pusing namun sangat sakit sekali dan mual (tapi gak nyadar hamil). Langsung pergi ke dokter umum di rumah sakit swasta, dalam waktu tiga hari keadaan semakin memburuk, tambah lemas dan semakin sakit. Kemudian kembali periksa ke dokter umum yang sama dan dirujuk ke spesialis penyakit dalam.

Saya dan suami selalu berdua dalam setiap pemeriksaan, dan bilang bahwa kami pasangan baru menikah, apakah kemungkinan sakit saya ini karena mau hamil?

Dokter pun membuat surat pengantar ke laboratorium untuk pengechek-an kehamilan, hasilnya negatif. Kemudian analisa dokter spesialis bahwa saya sakit karena radang lambung kronis.

Pulang membawa obat-obatan sekantong plastis, banyak sekali. Setiap tiga hari kembali check-up untuk pemeriksaan ulang dan hasilnya tambah parah. Saya pun bingung, kenapa bisa terkena penyakit ini, awalnya saya ini sehat-sehat saja. tetapi beberapa bulan menikah langsung ngedrop dan seperti orang stress. Ditambah sekarang saya dibilang penyakitan, aneh status tambahan ini bikin saya sedih sekali.

Beberapa rekan kerja mulai datang menjenguk, mereka pun menanyakan kabar dan kapan kembali ke tempat kerja. HRD juga mulai menginterograsi dan  mengirim utusannya "anak magang" membawa hasil medical chek-up saya yang asli karena belum di fotocopy (ini kesalahan Fatal, ketika pengobatan berlangsung jangan sesekali melepas medical chek-up karena itu adalah riwayat kesehatan yang masih diperlukan sewaktu-waktu dalam keadaan darurat ke rs lain). Ternyata anak magang juga lupa memgembalikan, dan tersimpanlah medical chek-up saya di tempat kerja. 

Teman kuliah pun ada yang menjenguk, bahkan ada yang tidak percaya saya sakit. Sebut saja namanya Titiek malah memaksa untuk periksa ke Bidan terdekat. Sudah saya bilang tidak hamil dan sudah chek lab tetap saja tidak percaya. Dipapahnya saya sore-sore mencari bidan terdekat, mendaftar dan tak berapa lama sudah diperiksa oleh seorang bidan. Agak terkejut ketika dibilang hamil lewat perabaan di perut, kemudian saking tidak percayanya, dan penolakan dari saya, bu Bidanpun mendekatkan perut saya pada alat yang bernama USG, ada segumpalan darah yang disebut janin tanpa kantong, inilah yang membuat saya sakit melilit dan tersiksa.

"Tuh kan hamil, tetapi jangan dipaksa ya Mba, sudah gak sempurna. Minum obat-obatan ya Mba?" tanya Bu Bidan.
Saya hanya menganggukkan kepala. Masih tak percaya apa yang terjadi.
"Obat apa Mba?"
Ini kesalahan saya kedua, tanpa membawa obat-obatan di rumah, saya pun hanya menggelengkan kepala karena tidak bisa menyebutkan nama obat-obatanya. Namun, saya bercerita bahwa saya di diagnosa sakit radang lambung kronis dan sudah pemeriksaan kehamilan tetapi negative maka dokter memberikan obat bukan untuk ibu hamil. 
Kini giliran Bu Bidan yang menganggukkan kepala.

"Kalau terlalu sering mengalami sakit dan semakin sakit, aborsi saja ya Mba." 
Deg, kepala semakin gelap, mendengar kata "Aborsi" ini kan biasa buat pasangan yang nggak mau punya anak. Ya Allah, saya ini seorang wanita yang mau punya anak. Sesak dada ini. 
"Diskusikan saja sama suami dahulu ya." tambahnya
Saya dan teman saya kembali ke rumah saya, dan kami hanya berdiam saling menatap bingung. Kemudian teman saya pamit pulang, minta maaf dan menguatkan saya untuk tetap semangat. 

Menunggu suami pulang kerja, dan ada sms mau ke kampus karena suami sedang kuliah yang kedua juga. Jam sebelas malam lewat suami baru sampai, mandi dan baru rebahan. Sambil berbicara santai dan bertanya-tanya kegiatan apa saja yang saya lakukan hari ini, suami juga mulai penasaran dengan wajah tanpa ekspresi dari saya.

Saya pun biasa, menceritakan kedatangan teman kuliah yang menjenguk, becanda dan hingga dititik saya berhenti tak bersuara, saya tak ingin bercerita. Tetapi cukup sulit untuk menahannya sendiri. Air mata sudah meluncur deras, jelas suami semakin bingung. Namun, perlahan saya pun bercerita apa yang dikatakan Bu Bidan tadi sore kepada saya dengan deraian air mata. 

Suami tak kalah kaget dan hanya memeluk, sambil berkata "Allah Yang Maha Tahu Yang Terbaik bagi kita, jika kamu diberi kekuatan untuk jadi ibu yang hebat, kelak akan lahir bayi ini." 

kata-kata dari suami saya ini sungguh membuat saya kuat dan menerima takdir ini. Esok paginya, saya sudah tidak minum obat-obatan dari dokter. Saya minum sari kurma dan madu, rebus telor, dan buah-buahan. Suami juga selalu bilang agar saya menjaga suasana hati saya dan terus bersyukur dengan kehadiran buah hati kami. Suamipun berangkat kerja seperti biasanya, walau ingin cuti tetapi saya tak mengizinkannya, karena sudah banyak cuti kerja diawal-awal saya sakit.

Saya pun istirahat di tempat tidur, tidak banyak aktivitas yang saya lakukan. Saya hanya membaca buku, kemudian teringat kembali untuk menyusun sedikit demi sedikit skripsi yang tertunda, saya pun menyalakan laptop dan sambil online. Ternyata ada teman kampus yang lain menanyakan saya akankah pagi ini ikut pelajaran atau ikut pelajaran kelas malam, saya pun menjawab tidak kuliah dahulu karena masih sakit.

Saya mulai mengetik skripsi, tetapi lama-lama saya lelah dan mengantuk. Lalu saya tertidur sebentar. Ketika terbangun sprei sudah berwarna merah, kasur basah. ada darah segar mengalir terus. Saya lihat jam baru menunjukkan jam 8 pagi. Saya pun mengambil pembalut, saya pikir hanya pendarahan biasa atau haid atau apalah. Tetapi makin  banyak, saya bingung sekali kemudian menelpon kakak saya, saya pun lupa memberi tahu kalau saya hamil. Kakak saya yang tahu saya hanya sakit, hanya bilang mungkin haid atau kelelahan, sudah istirahat kembali. Jadi saya pun istirahat kembali, dzhuhur, ashar semakin banyak bahkan saya semakin lemas. Jam lima sore, saya mulai jalan sendirian, perlahan-lahan mendatangi klinik dekat rumah, dan ada Bu Bidan yang kemarin memeriksa, saya mendaftar dan tetap antri karena pasien sedang banyak. Tetapi selama mengantri saya tidak duduk, takut darah segar menempel di bangku, namun rok yang saya kenakan telah basah dengan darah yang terus mengalir, pembalut sudah saya pakai banyak tetap saja tembus. Kini, tibalah saya masuk, dan jelas-jelas Bu Bidan kaget dengan wajah pucat pasi saya, dibantu suster saya pundi rebahkan di kasur, tensi saya diukur sudah dibawah 60, dan jelas Bu  Bidan panik. 

Saya pasrah, ketika Bu Bidan menyatakan saya keguguran, saya pun menelpon suami yang kebetulan pulang cepat juga hari ini dan masih diperjalanan. Suster lainnya membuat surat keterangan keguguran dan surat rujukan ke rumah sakit lain untuk kuretase apabila obat dari bidan berupa "pil peluntur janin" kurang efektif.

Saya pun menunggu kedatangan suami dan setelah selesai administrasi, suami membawa saya pulang. Berdua di rumah, saling menatap dalam diam. Saya tiduran, suami membersihkan darah-darah yang berceceran dari tempat tidur dan lantai. 

Esoknya saya dan suami memeriksakan ke dokter spesialis kandungan untuk proses pembersihan rahim. Menurut dokter memang keguguran harus ditangani dengan benar dan sampai bersih. Sisa janin tidak boleh menempel didinding rahim atau diluar rahim bisa mengakibatkan timbul penyakit lainnya. Kuretase, transvaginal dan beberapa tindakan dokter yang dilakukan saat pemeriksaan rahim. 

Sejak keguguran ini, saya sangat menyesal dahulu terlalu mendengarkan kata orang. Akhirnya saya berusaha untuk tidak mendengarkan hal-hal negative dari luar namun saya harus terus berbagi aura positif. Tidak mudah larut dalam serangan kata-kataa yang menyakitkan. Menjadi lebih tegar dalam menjalani kehidupan.

Semoga anak pertama saya ini dapat berkumpul dengan kami kelak di syurga, amiin.

Untuk pasangan suami istri yang baru menikah, yang punya pemikiran kalau dikasih anak cepat tidak apa-apa, kalau belum dikasih juga jalani saja kehidupan, berikut tips dari saya :

  • Selalu tumbuhkan perasaan bahagia
Memang kalau belum pernah hamil ditanya hamil itu pasti bingung jawabnya. Juga bikin sedih, maka jangan masukkan ke dalam hati suara-suara sumbang ini. Selalu tumbuhkan perasaan bahagia, apalagi wanita jika dipendam terkadang malah jadi beban pikiran. 
  • Perbanyak membaca Buku Kehamilan 
Walau tidak tahu hamil kapan, terkadang membaca ilmu tentang kehamilan itu perlu, agar tahu ciri-ciri hamil bagaimana. Apalagi banyak pasangan baru yang hidup mandiri dengan pasangannya dan jauh dari orangtua. Kalau satu rumah, biasanya ibu sendiri atau ibu mertua sudah hapal ciri-ciri hamil bagaimana, jadi bisa terdeteksi sedini mungkin. 
  • Tiba-tiba Sakit
Jika awalnya memang tidak memiliki penyakit serius, sehat-sehat saja kemudian setelah menikah beberapa bulan, ada sakit perut, sakit kepala, mual, sebaiknya tidak minum obat-obatan sembarangan, sebaiknya periksa ke bidan atau dokter kandungan. Seperti kasus saya ini deteksi kehamilan selalu lambat, jadi tidak cepat dengan hanya beli testpect saja. 

Jika sudah tahu hamil atau sedang menunggu garis dua itu datang, tetapi sudah mual, pusing dan sakit perut maka yang harus dihindari yaitu :

  • Jangan minum obat sembarangan apalagi obat warung, atau obat tanpa resep dari dokter
  • Jangan kebanyakan jajan diluar apalagi makanan yang penyajiannya atau display nya sudah kena debu dan kurang bersih.
  • Kurangi naik kendaraan bermotor, kelelahan fisik, serta angkat-angkat beban berat
  • Jangan minum jamu
  • Jangan makan buah nanas, anggur
  • Jangan minum minuman bersoda
  • Jangan makan tape ketan item 
  • Jangan sate
  • Jangan makan makanan seafood 

Kehamilan Kedua dan Kehadiran Anak Pertamaku


Pasca Keguguran tiga bulan yang lalu, saya dan suami sempat bertanya pada dokter kandungan yang menangani setiap saya kontrol pemeriksaan kembali rahim saya, apakah sudah benar-benar bersih, dan yang saya tanyakan adalah apakah saya perlu KB? kenapa saya bertanya seperti ini karena ada beberapa saudara yang menyarankan, keguguran ini katanya seperti lahiran rahim juga terluka. Jadi perlu jarak jika mau hamil. Tetapi dokter kandungan saya ternyata tidak menyarankan karena menurut dokter kehadiran anak tetap Kuasa Allah, kecuali saya memang belum siap hamil dan ingin menunda memiliki anak, maka KB bisa menjadi pilihan. Masih kata dokter, ada yang setelah keguguran langsung cepat mendapatkan anak, ada juga yang lama. 

Saya pun jadi lega, dan memilih tidak KB. Tetapi harus menjaga suasana hati dan menjaga kesehatan, itu obat terpenting.

Menjelang ramadhan saya kembali sakit, tiba-tiba lagi sakit perut, mual, sakit kepala. Kali ini saya tidak langsung minum obat, saya langsung periksa ke Bidan terdekat. Bu Bidan hanya menyarankan saya untuk cukup istirahat, makan yang bergizi, dan sediakan testpeck. Karena bulan ramadhan juga saya disarankan sehari puasa sehari tidak, jika sakit ini menganggu aktivitas saya.

Saya pun minum madu, sari kurma, makan sayur dan buah-buahan, tetapi tetap puasa. Kalau tidak hamil malah qodonya banyak nanti, pikir saya waktu itu. Setiap bangun sahur, saya selalu testpeck terdahulu, di rumah sudah saya siapkan satu box testpeck. Sudah mau menjelang akhir ramadhan, di puasa ke 24 tetap saja hasil testpect negative. Tetapi saya tetap sabar dan mendengarkan nasehat Bu Bidan untuk tidak minum obat sembarangan, walau sakit itu selalu datang. 

Saya pun gusar, tetangga lain sudah mulai banyak yang mudik, tinggal saya dan keluarga Pak Haji yang punya rumah kontrakan banyak ini. Saya pun bilang sama suami ingin ikut mudik juga, walau suami tidak yakin dengan kondisi saya, dan akhirnya kami ke Bidan terdekat memeriksakan kembali keadaan saya. Bidan tidak mengizinkan dan masih yakin saya sedang hamil, tetapi nunggu garis dua itu hadir ternyata lama juga ya. 

Akhirnya, H-3 sebelum malam takbiran bergema dan hari Raya Tiba dua garis itu muncul, haru dan penuh kebahagiaan. Akhirnya benar juga, selama ini kalau mau hamil saya ini memiliki tanda-tanda sakit dahulu, memang aneh kedengarannya tetapi inilah saya. Hamil ketiga dan keempat pun nanti saya akan ceritakan ya hampir sama sakitnya dan dramanya aja yang berbeda. 

Lalu setelah positif, saya kedokter spesialis kandungan menjelang H-2 memeriksakan kandungan, dokter kandungan saya pun memberikan obat penguat kandungan (15 buah). Saya diperbolehkan mudik asal jangan terlalu capek dan minum vitamin yang diberikan Bu Dokter. 

Di kehamilan kedua ini, saya tidak mengalami morning sick, tidak muntah-muntah parah, saya juga masih bekerja hingga kandungan saya 9 bulan dan baru resign juga masih tetap kuliah malam, setelah resign kerja baru kuliah pagi hingga menjelang lahiran bahkan beberapa kali kontraksi palsu saat ujian UAS. Skripsi sudah masuk bab 3 dan masih bimbingan dengan dosen pembimbing. 


Di pertengahan UAS, saya lahiran anak pertama, walau lewat dari hari perkiraan lahir, bayi ganteng kami terlahir dengan normal pada tanggal 21 April 2012, jam 11 malam. Penuh keajaiban, seharusnya operasi cesar karena tidak ada pembukaan naik, selalu dua, selama beberapa hari menginap di ruang bersalin, sudah mulas dengan induksi yang menyiksa, tetap saja bukaan dua. Alhamdulillah atas izin Allah SWT, doa keluarga, dukungan suami yang selalu menemani saya saat persalinan, dan juga semangat dari dokter kandungan saya Ibu Puji Iktiarti dan bidan-bidan pembantu yang begitu sabar menemani proses perdana saya lahiran yang tak bisa saya gambarkan bagaimana nano-nano rasanya. 

Baca juga : Kisah Perjuangan memberikan ASI untuk anak saya 

Alhamdulillah setelah pulang dari rumah sakit, saya langsung ke kampus ujian susulan UAS dan ngejar bimbingan skripsi juga. Hingga sidang dan akhirnya lulus.



Kehamilan Ketiga dan Kehadiran anak kedua 


Ada komunitas emak-emak sundulers, saya dengarnya ingin tersenyum. Pertama saya pikir pasti mereka emak-emak yang punya anak dengan jarak yang sangat dekat dan pasti punya drama-drama seru. Saya yang belum mengalami memang tidak begitu tahu apa saja sih drama para emak sundulers ini. 

Ternyata ketika anak pertama saya usia 20 bulan, saya masih memberikan ASI, kembali badan saya goyah. sakit perut melilit, pusing, kalau abis ASI-in suka meriang dan gak enak banget badannya. 

Saya mulai menyerah hidup merantau, ditambah anak rewel. Akhirnya saya pulang ke rumah ibu saya ditemani suami dan anak saya, ikut semua deh. Di sana suami sudah belikan madu, setiap saya mengeluh sakit selalu bilangnya hamil dan diminta bersabar.

Tetapi saya yang merasakan rasanya mau pecah kepala ini, dan badan rasanya digebukin orang se kampung, rontok banget. Akhirnya saya minta kakak ipar saya buat antar saya ke dokter. Suami bukan gak mau antar, tetapi selalu bilang hamil dan sabar dahulu jangan minum obat. Saya saja yang lupa dengan dua pengalaman sebelumnya, dan bilang ini murni sakit. Padahal saya tipe manusia yang jarang sakit, menurut penuturan suami dan saudara-saudara saya. 

Sampai disana, dokter kasih obat lambung, vitamin penambah darah dan obat lainnya. Pemeriksaan hamil negative, tetapi karena masih menyusui maka diberi obat-obatan yang aman bagi ibu hamil dan menyusui

obat habis diminum, sudah agak berkurang pusingnya. Kembali ke tanah rantau bersama suami dan anak saya. Kembali ke rumah yang telah ditinggal beberapa minggu, hingga rumah yang apek dan berdebu ini bikin saya mual-mual. Ternyata sejak kedatangan sampai dibersihkan suami saya, rumah sudah wangi lagi tetap saja saya mual dan muntah-muntah. 

Akhirnya, pergi periksa lagi ke bidan, dan ternyata positif hamil. Walah, saya pun panik, dan bilang bahwa sebelumnya minum obat-obatan, Bidan pun bertanya obat apa saja yang diminum, ternyata saya lupa dan sudah saya buang juga semua bungkusnya.

Saya pun menelpon kakak saya dan memberi tahu berita kehamilan saya, dan meminta kontak dokter yang dulu periksa saya di kampung halaman, setelah itu saya menelpon dokternya dan bilang saya hamil. Dokter pun meminta saya untuk stop obat yang saya minum, dan saya terlanjur bilang habis. Kemudian dokter bilang tidak apa-apa obatnya aman juga untuk ibu hamil dan menyusui semoga bayi sehat-sehat selalu. 

Trauma keguguran kemarin, apalagi saya keteledoran kembali minum obat, jadi seperti kasus pertama saya hamil, maka dikehamilan ketiga ini saya was-was sekali. Menyesal dan rasa bersalah selalu datang menghampiri apalagi saya juga takut kenapa-kenapa dengan mybaby jika kemarin lalu saya minum obat-obatan itu walau sudah dibilang aman, selalu rasa takut itu datang. 

Saya pun ke dokter kandungan, memeriksa usia janin yang ternyata sudah tiga bulan ini, saya diminta untuk stop ASI untuk anak saya yang pertama jika tidak kuat. Memang saya tidak kuat maka ASI anak saya, saya stop diusianya yang belum genap dua tahun, maafin mama ya Nak. 

Stop ASI anak pertama menjadi pengalaman penuh drama, anak saya menjadi tantrum dan sering ngamuk jika malam hari. Apalagi saya menyetopnya bukan dengan bahasa cinta, tetapi pakai daun pahit samiloto kata tetangga saya mereka biasa memakai cara ini untuk stop ASI anak-anak mereka. Suami saya coba sedikit saja daunnya memang luarbiasa pahit. 

Saya yang juga sedang hamil muda, sering pusing dan mual, setiap malam harus terbangun dengan drama tantrum anak saya, nangislah, ngambek minta gendong, atau mau nya jalan-jalan keluar naik motor. mau malam atau pagi buta selalu ngamuk, saya kurang istirahat pastinya.

Hamil ketiga alias kehadiran anak kedua ini benar-benar pengalaman baru bagi saya. Hamil sekaligus mendamaikan si kakak yang belum paham akan memiliki adik lagi, jadi masih sering ngambek. 

Pengalaman lahiran yang sulit ketika anak pertama, membuat saya pulang ke rumah orangtua saya, karena saudara-saudara menyarankan lahiran disana, agar anak saya ada yang jaga, begitu katanya. Ibu saya juga sudah tua jadi sudah gak bisa bantu-bantu banyak kalau harus ke tanah rantau menemani saya. 

Saya pun memeriksakan kehamilan saya di rumah sakit dengan dokter kandungan perempuan dan selama pemeriksaan selalu oke. Hingga menjelang kelahiran, hasil pemeriksaam lab, HB saya selalu rendah. Vitamin sudah diberikan double, makan ati, daging setiap hari. Bahkan tetap saja HB rendah. Bayam merah, buah naga, tempe, menjadi camilan makanan saya. Semua buat menaikkan HB. 

Hingga menjelang kelahiran, dokter masih saja menyuruh saya cek lab dan memeriksakan HB. Hasil cek lab terkahir tidak saya ambil, rencananya nanti pas jadwal kontrol berikutnya atau sekalian saja pas mau lahiran di rumah sakit. 

Ternyata kelahiran kedua ini membuat saya terkejut, setelah mandikan si kakak saya menyuapinya makan, memang si kakak lagi hobinya lari-lari jadi saya selalu mengejar-ngejarnya. Tiba-tiba mulas, saya pikir, paling baru kontraksi palsu. kemudian mulas teratur dan saya kira juga paling bukaan dua. 

Di rumah saya masih beraktivitas, rapi-rapi kamar, biasanya saya ngepel lantai jongkok tetapi hari ini mulasnya bikin merinding. Saya pun menitipkan anak saya kepada kakak perempuan saya, kemudian saya dan suami mencari bidan terdekat hanya untuk memeriksa pembukaan saja, karena kalau lama-lama menginap di rumah sakit juga kasian si Kakak akan mencari mamanya, dan pastinya dia gak mau tidur kalau gak ada mamanya.

Ternyata pas sampai di Bidan, sudah bukaan lima menuju enam, kata bidan nggak bakalan lama lagi juga lahiran. Jadi kalau ke rumah sakit juga bisa lahiran di jalan. Memang rumah sakit langganan saya begitu jauh juga, akhirnya saya dan suami memutuskan lahiran di bidan saja, bidan juga saya beri tahu pemeriksaan terakhir HB saya selalu rendah. Setelah bidan memeriksakan dan bilang bahwa kondisi saya oke dan bidan juga sudah siap menolong persalinan ini maka saya pun diperbolehkan mondar mandir atau cari posisi enak saja sampai bukaan sepuluh. Setelah dua jam mulas-mulas teratur maka sempurna sudah bukaan sepuluh, siap melahirkan. Alhamdulillah normal mengeluarkan bayi yang hampir 4 kg, dan banyak lilitan di leher, dan panggul bayi. ASI baru keluar 3 hari setelahnya. 


Kehamilan Keempat dan kehadiran anak ketiga 


Si Kakak yang berusia 4 tahun dan adiknya yang berusia 20 bulan sedang aktif-aktifnya. Apalagi saya juga baru pindahan, dua kali berturut-turut pindahan ambil barang-barang di rumah mertua di Setu Bekasi dan ambil barang-barang di Bogor di rumah orangtua saya. Menata semua barang-barang hanya dalam dua hari satu malam, geser-geser lemari hingga angkat box-box penuh buku. 


Setelah selesai semua barang ditata pada tempatnya, saya yang biasanya serba cepat beberes rumah dari mencuci, mengepel, masak, hingga menyapu halaman luar, bersihkan kamar mandi hingga nyabut rumput dihalaman, tiba-tiba sering lelah. 

Apalagi dua anak saya yang super aktif, kalau habis memandikannya semua pakai bajunya suka sambil kejar-kejaran. Belum lagi makan berantakan, dan mainan berserakan. Namun saya selalu membuat tampak rapi dan bersih dalam sekejap. Terakhir gerakan saya semakin melambat. 

Saya juga walau di rumah saja, punya pekerjaan menulis dan online shop yang masih berjalan. Kalau lagi ada orderan naskah pesanan dengan deadline hanya dua minggu untuk ratusan halaman saya sanggup menuliskannya, lalu ditambah dengan jadwal artikel yang siap tayang di blog dan beberapa review berbayar yang menumpuk dideretan email. Kerja sambilan saya ini dibilang santai, hanya putar otak biar lancar menulis dan juga jari lancar mengetik.

Tiba-tiba saya yang biasa mengetik cepat, menulis cepat, buka laptop saja sudah pusing. Baca notif di whatsapp HP juga saya pusing memang ada ribuan notif terus, tetapi biasanya saya baca cepat.

Entah kenapa sejak pindahan saya menjadi sakit, awalnya saya pikir kelelahan. Karena setelah pindahan rumah, saya mengetik naskah juga banyak dan kurang istirahat, ditambah pekerjaan domestik rumah tangga yang begitu banyak.

Kalau saya tahu tempat periksa atau klinik terdekat, mungkin saya sudah periksa ke dokter. Namanya baru pindahan saya masih gak hapal jalan, dan gak tahu klinik-klinik atau bidan dimana. Jelas letak RS juga jauh.

Minta antar suami, malah dibawa ke apotik dan dibelikan testpeck. Agak ragu sih masa hamil, karena tidak ada planning juga dan masih ASI anak kedua.

Menjawab keraguan, akhirnya esok pagi setelah bangun tidur langsung testpeck dan benar juga hamil. Terjawab sudah pusing dan remuk badan ini.

Hal pertama yang dilakukan adalah menyapih anak kedua ini dengan penuh cinta. Berbeda dengan pengalaman pertama yang menyapih dengan penuh drama maka anak kedua ini dibilang mudah karena benar-benar dengan bahasa cinta.

Berikut menyapih dengan bahasa cinta ala saya :

  • Bicarakan kepada anak bahwa stop ASI ini karena ia telah sudah cukup usia (walau sebenarnya usia sampai 2 tahun) anak saya masih kurang 4 bulanan lagi, maaf ya nak.
  • Beri tahu kehadiran adiknya di perut dan beri kedekatan emosional misal dengan memperbolehkan mengusap perut mamanya atau menciumnya. Anak pasti lama-lama akan paham
  • Berikan perhatian ekstra selama tiga hari masa STOP ASI. peluk selalu, cium selalu, ajak senang-senang atau jalan-jalan, becanda bersama, bermain bersama.
  • Perutnya harus kenyang, berikan makan yang teratur, minum yang banyak dan camilan sehat yang banyak stock jangan sampai kosong. 
  • Ketika mau meminta ASI kembali, alihkan perhatiannya dengan makanan dan minuman. Ajak sambil bermain.
  • Selain perhatian mamanya, juga ayahnya agar anak tidak merasa sedih di stop ASI. Bangun kedekatan bersama anak setiap harinya.
Stop ASI dengan cinta ini sukses tanpa drama, alhamdulillah. Dek Fay anak saya mudah sekali berhenti minta ASI nya dan asyik dengan kegiatan barunya.

Walau Stop ASI nggak pakai drama, tetapi kehamilan ke empat ini alias kehadiran janin anak ketiga ini ternyata yang bikin drama. Apa saja yang saya alami :

  • Morning Sick
  • Kepala pusing dan sangat sakit sekali selama sebulan setelah di testpect dan positif hamil sampai saya suka sekali tarik-tarik rambut saya sampai rontok
  • produksi air ludah meningkat dan saya hampir dehidrasi apalagi tempat tinggal yang baru saya tempati ini cukup panas cuacanya. 
  • Muntah dimana-mana, habis makan muntah, naik motor turunnya langsung muntah
  • Mudah lelah, kalau dulu saya hamil masih lincah kerja dan kuliah sekarang tidak lagi. antar anak sekolah saja langsung tepar pulangnya.
  • Sensitif dengan bau, bau sabun cuci baju, bau sabun cuci piring, bau kamar mandi, bau sampai, semua bikin drama muntah-muntah. Bahkan saya harus menutup hidung saya kalau sedang mencuci baju dan mencuci piring. Kalau di kamar mandi saya pasti langsung muntah2 terus, ya inilah perjuangannya. Walau masak setiap hari saya selalu bisa malah bau bumbu dan minyak saya tidak masalah. 
Saya sih tidak mengapa mengalami masa-masa perjuangan ini, kalau selama saya hamil selalu mudah mungkin nanti malah saya akan jadi wanita sombong dan tidak peka. Memang ini masa kehamilan terberat saya, hidup jauh dari orangtua dan saudara, punya dua anak lagi aktif-aktifnya dan juga saya mengalami masa hamil muda yang tak mudah. 

Alhamdulillah sekaarang usia kehamilan saya memasuki 4 bulan, sudah tidak sakit kepala parah, sudah tidak mual dan muntah lagi. Walau kondisi air ludah terkadang saja produksinya naik. Setidaknya sudah enakan lagi. Saya sudah bisa mengetik tanpa disertai pusing hebat, saya bisa mencuci dan memasak seperti biasanya, bisa antar jemput anak sekolah tanpa pusing dengan matahari yang menyengat, dan pastinya bisa memeluk anak-anak dengan penuh bahagia. Sudah enak lagi beraktivitas. 

Hari perkiraan lahir anak ketiga ini yaitu bulan Maret 2017, semoga dimudahkan dan dilancarkan proses persalinannya, bayi dan ibu sehat serta selamat. Amiin.

Saya bisa kembali beraktivitas lagi setelah lahiran, karena si kakak sudah sekolah di kelas bermain, dan masih saya antar, saya tunggu juga sampai pulang bersama Dek Fay adiknya si kakak. 

Aktivitas saya selama hamil selain mengurus rumah, dan menjaga duah buah hati saya, sebagai penulis buku dan blogger tentunya, juga sebagai mentor kepenulisan baik online maupun offline.

Baca juga aktivitas saya ketika hamil anak ketiga ini : Mengisi Pelatihan Menulis Bersama Pramuda FLP Bekasi



Inilah Kisah kehamilan pertama kedua ketiga dan keempat. Semoga kisah ini dapat berbagi pengalaman dengan ibu-ibu di luar sana. Mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan. Terima kasih sudah membaca kisah perjalanan kehamilan saya, semoga bermanfaat.


Salam Inspirasi


28 comments

super skali y mbk. Makasih sharingnya, brmanfaat dan nambah ilmu walau aku blum nikah.
smoga si dedek dikndungn dan mbk slalu shat :D

Reply

amin mba, makasi sudah bersedia membaca. Semoga jadi bekal ilmu berumahtangga kelak, moga abis ini jodohnya juga datang :) amiin

Reply

ernaaa terus sehat yaaa
duh kebayang gimana riweuhnya dirimu tapi masih produktif nulis, hebatt

Reply

Wow..bener2 luar biasa perjuangan hamilnya. Seorang Ibu mah emang begitu ya, semangaat Mbaa..
Semoga sehat selalu bumil dan debaynya serta kaka2nya yaa..
Selalu salut sama Ibu2 yang mempunyai anak banyak tapi masih bisa produktif ngeblog.

Reply

Wah.. Ini mbanya adalah ibu yg beruntung ya.. Dlm keadaan hamil msh produktif nulis..

Reply

Salut banget dengan mb Ernawati, sedang hamil dan mendampingi 2 anak lainnya, masih produktif dan aktif. Semoga kelahiran anak ketiga nanti lancar, sehat2 ibu dan bayinya.

Reply

saluut sama mbak ernaa, lagi pertengahan UAS maalah melahirkaan, duh perjuangan bangeet >.<

Reply

Masya Allah... perjuangan mba wow banget.. setiap ibu selalu punya cerita ya mba. saya juga lagi hamil anak ketiga, hpl januari 17. semoga kita sama2 dimudahkan ya mba, anak ibu sehat lancar, aamiin

Reply

amin,makasih kaka Inna doanya :)

Reply

Wiih, udah 4x hamil. *hormat
Ini aku baru tiga, ditanya org mau nambah apa ngga, rasanya blm bs jawab apa2. Haha

Reply

makasi teh nchi :)

Reply

kadung cinta sama dunia tulis menulis, kalau gak nulis bagai hampa terasa :)

Reply

hihihi iya, selalu bikin panik teman2 kampus dan dosen, maafkan daku ya, emak2 semangat :)

Reply

Amiin, terima kasih doanya mba Lianny

Reply

Wah, semoga mba shona juga dimudahkan, dilancarkan persalinannya, ibu bayi sehat dan selamat, amiiin

Reply

xixixixi, ngga planning semua mba, tapi menjalani takdir kehidupan.
Ngga usah dijawab mba, senyumin aja, biarlah waktu yang menjawab #asyiik :)

Reply

Mashaallah...
Pengalamannya ttg kehamilan sungguh luar biasa, mba..

Semoga Allah menjaga mba Erna dan kluarga dengan sebaik baik penjagaan.

Aamiin.

Reply

Masya Allah..saluuuut sama perjuangan mba..dan semoga dikehamilan sekarang dilancarkan ya mba sampai proses melahirkan dan setelah melahirkan. Aamiin

Reply

Amin mba Terima kasih doanya :)

Reply

Amin mba, terima kasih doanya :)

Reply

Runtut n detail banget ceritanyambak.Sukses bikin saya termewek2.jadi inget salah satu janin kembar saya juga mninggal n terakhir si bungsu hiks

Reply

waaaaaa mba Erna menginspirasiku, aku masih dalam taraf takut nih mba, karena mata minus katanya harus caesar. Pengenna normal, padahal ak nikah aja belum tapi efeknya ke bawa aja nih, Makasih ya mba sharing ini membuatku ya, lumayan meredakan ketakutan.

Reply

Salut perjuangannya mba. Semoga anak sehat sehat selalu ya mba. Masing2 kehamilan memang memiliki kisah yang berbeda ya

Reply

Dari sini, aku bisa ambil kesimpulan. Kalau wanita itu emang hebat. Semoga diberi kelancara juga kesabaran buat kehamilan keempat, anak ketiga ini ya mbak. Sehat debay juga sehat bundanya juga.... Amiin...

Reply

luar biasa ya pengorbanan seorang ibu dalam mengandung apalagi mbak sampai 4x. Semoga anak-anak tumbuh sehat, eh emaknya juga dong.

Reply

Kisah yang sangat luar biasa. Banyak drama mengiringi kehamilan Mbak Erna, ya... alhamdulillah bisa terlewati dengan baik. Semoga bunda dan anak-anak sehat selalu, ya...

Reply

Baca postingan ini hampir seharian karena baca pelan pelan dan sambil aktivitaa..subhanallah..jadi kangen hamil..aemoga segala sesuatunya dimudqhkan sampai melahirkan..Amiiin

Reply

Hiks, selalu ada ya yg kepo nanyain bikin jadi kepikiran. Saya lg di momen itu mba. Tp mulai masa bodo toh orang cuma bisa komentar (demi menjaga suasana hati)😁

Reply