Menu
/

www.ernawatililys.com - Suka duka jadi PJ Antologi. Menerbitkan buku bagi penulis pemula adalah sebuah kebahagiaan. Bisa cepat diterima penerbit, bisa cepat proses terbitnya dan diumumkan karyanya akan menjadi sebuah kebanggaan dalam berkarya. Sekalipun itu baru hanya sebuah antologi. Ya,buku antologi yang ditulis lebih dari dua orang hingga tak terbatas. Tapi Antologi itu jadi karya perdana bagi penulis pemula yang akan selalu ia kenang.



Naskah antologi pun sering disebut naskah keroyokan. Naskah bersama hingga naskah urunan. Yang pastinya naskah-naskah tersebut akan dikumpulkan pada salah satu penanggung jawab alias PJ, kemudian menyusunnya dan mengirimkannya pada penerbit.


Tugas PJ sebelum mengirimkan ke penerbit pun banyak, selain merapikan naskah, membuat kelengkapan naskah mulai dari kata pengantar, daftra isi, check profil penulis, memastikan semua naskah sudah masuk dan enak dibaca. Baru ia mencari penerbit yang kiranya membuka peluang untuk naskah antologi ini.

Nggak selalu berjalan mulus terkadang, pj perasakan menanti kabar dari penerbit yang diajukan, berdebar ketika membaca balasan dari penerbit, sedih sekali ketika naskah yang diajukan tidak diterima. Bahagia ketika naskah teman-temannya diterima dengan baik oleh.


Nah, jadi PJ naskah antologi itu ternyata ada suka dan dukanya juga. Apasaja ya kira-kira? Pengalaman kemarin membidani naskah teman-teman Komunitas Menulis Online, yang pada saat bimbingan semua materi full non fiksi ternyata setelah lulus wisuda mereka nekad bikin antologi cerpen. Tentu saja teori dan praktek berbeda. Kenapa dibilang nekad, karena ternyata menulis itu tidak dipaksakan. Ah biarkan sajalah, yang penting mereka mau mencoba dan hasilnya, eng ing eng...


Suka Duka Jadi PJ Antologi


Sukanya jadi PJ Antologi

  1. Naskah terkumpul cepat karena yang ikut pasti banyak\
  2. Kontributor akan terjalin lebih erat lagi. Karena ini proyek bersama saling dukung dan support
  3. Kemungkinan besar nama PJ lah yang akan tertulis di cover buku, kalau misal hanya satu nama, kalau semua kontributor namanya ditulis bisa juga. Semua kembali ke kebijakan penerbit.
  4. PJ menjadi narahubung semua email-email ke penerbit, perjanjian kontrak, tanda tangan hingga buku terbit
Ada suka ada juga dukanya


  1. Kalau naskah yang dikumpulkan overlimit ternyata harus diseleksi
  2. Harus baca semua naskah dan mulai menyusunnya satu persatu jadi satu naskah
  3. Dirapikan semua file-file terpisah dan dibuat jadi naskah layak baca dan siap diterbitkan
  4. Jika naskah diterima akan berhubungan dengan editor. Jika naskah rapi editor senang, tetapi jika naskah kontributor ada yang perlu operasi besar-besaran editor pun biasanya rewel bolak balik bilang ke PJ nya, kok naskah si A ini typonya banyak, alurnya nggak tahu kemana, dan masa harus saya ubah jalan ceritanyanya yang kurang nyambung ini,dan sebagainya.
  5. Kalau naskah cepat diterima sih aman, tapi kalau ditolak terus lalu ada kontributor yang marah-marah bilang "lama terbitnya dan PHP" pasti sedih kan ya, dear.

Itu saja sih, curhatan suka dukanya jadi pj antologi. Yang penting semangat menghidupkan literasi dan memberi warna yang baik untuk dunia kepenulisan. Antologi pun adalah sebuah karya yang memiliki tempat yang sama dengan karya yang lain. 


Salam Inspirasi 

6 comments

Iya, Mbak. Emang yang dukanya itu kalau kontributornya rewel-rewel. Duh, jadi harus ekstra sabar banget ya.

Reply

Semangat terus Mbak, kalau saya sh belum pernah jadi PJ jadi gak tahu suka dukanya. :D

Reply

Mau ikutan juga gmana bisa nulis sampai jadi buku.

Reply

Huum Mba, pj harus bersabar dan berlapang dada. Sampai membuktikan karya kontributor terbit.

Reply

Iya semangat terus pastinya. :)

Reply

ayooo latihan nulis bareng nanti juga bisa kalau sering latihan.

Reply

Powered by Blogger.