Menu
/


Menjadi seorang ibu berarti belajar sepanjang masa. Ketika anak pertama lahir saya memang masih tahap belajar menjadi seorang ibu baru. "Trial-error" menjalankan ilmu parenting yang telah lama dibaca dari berbagai buku yang dimiliki. Ternyata praktek di lapangan membutuhkan kebijakan yang luarbiasa dalam setiap pengambilan keputusan untuk buah hati.


Seperti halnya ketika anak pertama yang terlahir sehat. Dua hari di ruangan perawatan bayi, wajahnya terlihat lucu sekali. Hari pertama saya datang untuk memberikan ASI, saya peluk hangat tubuhnya. Perjuangan berdua antara ibu dan anak agar ASI melimpah. Ternyata hari pertama, kedua dan ketiga ASI tak kunjung keluar. 

Konsultasi ke dokter kandungan yang memang masih periksa di ruang perawatan ibu pasca persalinan, menyatakan ASI saya melimpah. Saya harus relax, bahagia karena telah melahirkan putra yang gagah dan sehat. Pil pelancar ASI yang saya konsumsi seakan tak bereaksi, sayur mayur yang dimasak oleh keluarga yang saya makan juga tak ada tanda ASI saya akan keluar melimpah. 

Ternyata saya terkena baby blues, banyak pikiran dan tekanan dalam diri yang sulit sekali saya jabarkan. Kondisi saya yang baru resign kerja disaat usia kandungan 9 bulan, sedang menjalankan UAS semester 8 dipertengahan kegalauan menyelesaikan skripsi. Banyak hal yang saya pikirkan dan membuat ASI tak kunjung keluar. 

Sebuah penyesalan, tiga hari terlahir bayi yang tadinya sehatpun menguning. Terpaksa harus inkubator. Sebagai seorang ibu melihat bayinya terpapar cahaya hangat yang terpikirkan adalah pasti si bayi haus dan perlu ASI dari ibunya. 

ruang inkubbator


Hampir menyerah ingin memberikan sufor saja, ternyata prosedurnya cukup ribet. Harus bikin form dan harus ada tanda tangan dokter obigyn dan dokter anak. Saya pikir terlalu lama menunggu dua orang tersebut hanya untuk minta tanda tangan. 

Beruntung rumah sakit tempat saya melahirkan anak pertama ini memang mendukung program ASI. Saya yang dilanda kebingungan, dibantu oleh suster penjaga bayi saya yang sedang diinkubator. Kami berdua duduk di ruangan ASI. Suster membuatkan saya minuman teh hangat, memijat pundak saya yang begitu tegang. Memberikan arahan dan nasehat bahwa ASI pasti akan keluar jika kondisi ibu tenang.

Saya pun mencuci muka dan kedua tangan. Menarik napas perlahan, kemudian memompa ASI, satu jam sudah belum ada tanda ASI keluar. Bayi saya terdengar menangis kehausan, suster menggendongnya dan terus menenangkannya dihadapan saya. Saya tak kuasa menahan air mata saat belum mampu memberikan ASI.

Sejak jam satu pagi saya duduk di ruang ASI dan terus memompa ASI belum juga keluar. Hingga jam menunjukkan jam 3 pagi, bayi itu terus menangis di gendongan suster. Suster terus memberikan arahan untuk terus berjuang memompa ASI hingga akhirnya keluar sedikit.

Alhamdulillah, jam 3 pagi di hari keempat saya dapat memberikan ASI untuk anak saya. Wajah mungilnya menatap tenang dan meminum ASI dari pelukan ibunya dengan sangat kencang hingga ia pun terlelap dalam pangkuan.

Suster kembali membawanya ke ruang inkubator hingga nanti pemeriksaan dari dokter anak esok pagi. Saya berharap ia sehat selalu, sebelum meninggalkan ruangan ASI, saya memompa ASI saya dalam botol. Ya botol inilah yang akan diberikan suster jika nanti bayi saya kehausan lagi. 

Sedangkan saya akan terlelap tidur, karena sudah berjaga hingga pagi. Saya kembali ke ruang perawatan pasca ibu melahirkan. Mata yang tadinya panas selalu terjaga dan berjuang mengeluarkan ASI, sekarang sedikit tenang. Walau ngantuk menyerang tetapi ingin cepat mendengar perkembangan dari dokter anak.

Alhamdulillah, seminggu dalam perawatan di rumah sakit akhirnya saya dan anak saya diperbolehkan pulang ke rumah. Saya dan bayi saya sehat. 


Drama botol susu dan dot dimulai


Seperti yang saya katakan di atas, bahwa saat melahirkan ini saya masih berstatus mahasiswi tingkat akhir. Masih memiliki kewajiban ke kampus untuk ujian susulan UAS dan menyelesaikan bimbingan skripsi yang sudah masuk bab 2.

Maju mundur ingin mengambil cuti kuliah, karena mau fokus merawat bayi. Sama seperti halnya saya memutuskan resign kerja. Namun, kali ini keluarga tidak setuju. Semua mendukung untuk menyelesaikan kuliah yang hanya tinggal hitungan bulan. Kemudian, saya masih bingung dengan pilihan bayi harus minum ASI langsung dari ibunya atau menyetok di botol susu. 


Selama saya ke kampus saya akan memerah ASI sebanyak 5 botol setiap harinya. Perjuangan sekali untuk menyetok 5 botol ini, karena bayi sedang kuat-kuatnya ASI. Kalau habis ASI in tanpa atur strategi bisa kehabisan nggak bisa nyetok ASI (hihihi, akhirnya bolos kuliah lagi karena nggak punya stock) atau membawa baby setiap bimbingan ke dosen baik di kampus, di restoran atau di tempat yang ditentukan dosen. 

Ketika ujian sidang, saya hampir nyerah karena bersamaan dengan si kecil sedang sakit. Tidak mau minum di botol susu lagi, tidak mau juga minum ASI langsung dari ibunya. Duh, drama juga ya kalau pilih botol susu bikin si kecil bingung puting. Jika si kecil tidak tenang, saya pun jadi pusing dan serba salah. Drama botol susu ini menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk kedepannya bijak memilih dot yang tidak bikin si kecil bingung.

Philips AVENT Botol Natural 2.0


Banyak  yang bilang, ibu tidak bekerja kok memberikan ASI pakai botol sih, seakan si ibu ini banyak gaya (saya pernah menjadi tersangka utama). Sebenarnya, botol susu bukan hanya untuk ibu bekerja saja yang menyetok ASI untuk anaknya ketika si ibu harus kembali bekerja. Tetapi ibu yang anaknya perlu perawatan khusus di rumah sakit sedangkan si ibu di rumah, pasti harus menyerahkan berbotol-botol ASI kepada suster yang menjaga bayinya di rumah sakit, atau seperti saya yang punya kewajiban menyelesaikan akademik.
Saat ini Philips Avent Natural meluncurkan produk terbaru berupa botol natural 2.0, cara paling alami untuk memberikan susu/ASI dengan botol. Botol Philips Avent Natural baru memiliki desain ulir spiral yang memudahkan pergerakan lidah buah hati, bentuk ujung dot yang menyerupai payudara dan materi dot yang diperbarui dengan bahan silikon lembut membuat dot menjadi lebih awet digunakan dan memiliki tekstur yang halus seperti kulit. Dengan begitu keluarga, pasangan dan orang-orang terdekat dapat memberikan ASI kepada buah hati dengan nyaman karena bentuk dot yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan sang buah hati tercinta. 

Keunggulan Philips Avent adalah :


  1. Dot selembut kulit : dirancang untuk minum susu/asi secara alami karena menyerupai payudara
  2. Desain spiral lentur : dikombinasikan dengan kelopak yang nyaman dan unik untuk dot yang lebih lentur, memungkinkan pergerakan lidah yang alami tanpa kolaps.
  3. Bentuk dot yang alami : dot berbentuk payudara yang lebar memudahkan bayi untuk menyusu
  4. Teknologi katup anti-kolik yang unik : Mengurangi rewel dan ketidaknyamanan dengan mengalirkan udara ke dalam botol bukan ke perut bayi. Sehingga tidak menimbukan kembung pada perut bayi. 

Menjaga kualitas dot


Philips Avent natural 2.0 memiliki dot selembut kulit. Elastisitas yang lembut menyerupai payudara. Untuk kenyamanan maka perlu diperhatikan dalam penggunaan dot :
  • Setiap kali digunakan periksa terlebih dahulu dan tarik dot ke semua arah. Buang segera jika terlihat tanda-tanda kerusakan atau kondisinya sudah tidak bagus lagi.
  • Untuk menjaga kehigienisan, disarankan untuk mengganti dot selama 3 bulan
  • Simpan dot di dalam wadah tertutup dan kering
  • Jangan biarkan dot makanan terkena sinar matahari langsung atau panas, atau ditinggalkan di dalam disinfektan.
Selain itu berikan ukuran dot sesuai usia si kecil. Agar setiap lubang susu/ASI yang disedotnya tidak bleber (jika bayi masih belum menyedot kuat), atau terlalu sedikit susu/ASI yang keluar sedangkan bayi sudah dapat menyedotnya dengan kuat. 



Ada tips dari Philips Avent untuk memilih dot yang tepat bagi bayi 


Dot Philips Avent tersedia dengan laju aliran dengan laju aliran yang berbeda-beda karena dirancang untuk membantu bayi minum. Dot Philips Avent diberi nomor jelas di sampingnya untuk menunjukkan laju aliran.

Gunakan laju aliran yang lebih rendah jika bayi tersedak, meneteskan susu, atau sulit menyesuaikan kecepatan minum. Gunakan laju aliran yang lebih tinggi jika bayi tertidur saat minum, gelisah dan minum terlalu lama. Pastikan ibu menggunakan laju aliran dot yang benar ketika menyuapi bayi. 

Varian laju aliran dot :
  • Dot untuk 0m dapat digunakan sejak hari pertama. Dot silikon ekstra lembut dan dengan laju aliran terendah. Ideal diberikan untuk bayi yang baru lahir dan bayi yang diberi ASI segala usia. Dot hanya memiliki satu bukaan untuk cairan dan angka 0 tercantum pada dot.
  • Dot untuk 0m+ dapat digunakan sejak hari pertama. Dot silikon ekstra lembut dan dengan laju aliran terendah. Ideal diberikan untuk bayi yang baru lahir dan bayi yang diberi ASI segala usia. Dot hanya memiliki satu bukaan untuk cairan dan angka 0 tercantum pada dot.
  • Dot untuk 1m+ dilengkapi dengan dot silikon ekstra lembut. Ideal diberikan untuk bayi yang baru lahir dan bayi yang diberi ASI segala usia. Dot  memiliki dua bukaan untuk cairan dan angka 1 tercantum pada dot.
  • Dot untuk 3m+ dilengkapi dengan silikon ekstra lembut. Untuk bayi yang diberi susu botol berusia 3 bulan ke atas. Dot  memiliki tiga bukaan untuk cairan dan angka 3 tercantum pada dot.
  • Dot untuk 6m+ dilengkapi dengan silikon tahan gigitan. Dot lebih kuat dan ideal untuk bayi yang diberi susu botol berusia 4 bulan ke atas. Dot  memiliki empat bukaan untuk cairan dan angka 4 tercantum pada dot.
  • Dot untuk 9m+ dilengkapi dengan silikon tahan gigitan. Dot lebih kuat dan ideal untuk bayi yang diberi susu botol berusia 6 bulan ke atas. Dot  memiliki lima bukaan untuk cairan dan angka 5 tercantum pada dot.

Selain itu bisa juga membeli dot cadangan sesuai usia bayi. Keterangan laju aliran dan usia bayi terlampir juga dalam kemasan. Jadi nggak perlu khawatir kebingungan saat membeli dot cadangan.



Membersihkan botol dan dot Philips Avent


Membersihkan dot dengan benar penting sekali untuk menjaga kualitas dot yang digunakan. Maka perhatikan langkah berikut : 
  • Setiap kali selesai menggunakan, bongkar semua bagian. Cuci dengan air sabun hangat, bilas hingga bersih. Pastikan semua telah dicuci secara seksama dan permukaan telah bersih sebelum menyentuh komponen yang disterilkan
  • Deterjen yang terlalu pekat dapat menyebabkan komponen plastiknya pecah-pecah. Jika hal ini terjadi, gantilah dengan segera.
  • Aman di mesin cuci piring - pewarna makanan dapat menyebabkan warna komponen berubah.
  • Jangan biarkan dot di bawah sinar matahari langsung atau panas, atau ditinggalkan di dalam disinfektan 'cairan pensteril' lebih lama dari yang direkomendasikan karena hal ini dapat memperlemah dot
  • Bersihkan semua bagian sebelum menggunakan
  • Periksa botol dan dot setiap kali sebelum digunakan dan tarik dot ke semua arah. Buang segera bagian apapun jika ada tanda-tanda kerusakan atau kondisinya sudah tidak bagus lagi. 
Praktis sekali membersihkan botol Philips Avent dengan siket pembersih Avent. Sikat pembersih masuk ke dalam botol sehingga mampu membersihkan dalam botol. 



Selain itu ujung sikat pembersih juga dapat digunakan untuk membersihkan dot Philips Avent sehingga lekukan dot dapat dibersihkan. 



Lengkap semua produk yang diberikan Philips Avent untuk memenuhi kebutuhan para ibu. Dari botol Philip Avent, dot dengan beberapa laju aliran, sikat pembersih, serta produk lainnya. Lebih dari 30 tahun, Philips AVENT terus berinovasi dalam menanggapi perubahan gaya hidup dan kebutuhan ibu dan bayi, dari mulai Pompa ASI sampai dengan botol susu natural. Setiap inovasi Philips AVENT terinspirasi dengan mendengarkan apa yang dibutuhkan orang tua saat pemberian ASI. 

Produk-produk inovatif Philips AVENT merupakan sahabat para ibu, mendukung para ibu di setiap langkahnya saat mereka merawat si buah hati. Menurut Yongky

Semua produk Philips Avent dapat dikunjungi pada dealer Philips terdekat atau dapat beli secara online di orami.co.id, lazada.co.id dan elevania.co.id. 




Salam Inspirasi 

23 comments

kualitas dot dan botol susu emang penting, gapapa atuh meski ga kerja tapi pakai asi botol. Kadang asi nya melimpah tapi dedeknya lagi bobo :) yang nyinyir mah ada aja yaa

Reply

Wah hampir mirip ya kejadiannya. ASI tidak keluar. Tapi saya memang tidak keluar sama sekali setelah 6 bulan. Jadinya terpaksa pakai formula deh...

Btw baru tahu kalau ASI tidak keluar penyebabnya karena tegang atau banyak pikiran... Hem... Pantas juga ya...

Reply

iya keep calm be mom :)

Reply

huum mba, ibu tenang bayi pun tenang. sebaliknya juga begitu, ikatan batin ibu dan anak :)

Reply

Dulu anakku pakai Avent dan selama ini dia cocok mba .
Avent emang pilihan yang tepat ya

Reply

Waktu ranu jufa pakai botol avent yg ini, enal ngga bikin bingung puting juga krena bentuknya menyerupai payudara

Reply

Tipsnya berguna bgt buat aku, Teh.
Alhamdulillah babyku ASI.
Tapi tetep aja butuh botol susu, soalnya ASI-ku lumayan melimpah. Kalau gak dibantu pumping emaknya meriang.

Reply

Memang bagus mba botolny awet juga,,, dn sesuai dgn tekstur mpengnya sm mulutbaby

Reply

Prjuangan ibu stelah mlahirkan adalah mnyusui..sbgai ibu tntu pngeen bgt ksdi yg trbaik buat anak..jd tringat wktu nyusuin arfa..asi awal2 jg gk kluar..d pumping jg sama sj. Mngkin mmang bnar stelah lhir masih bnyk rasa trtekan jd asi susah kluar..

Reply

betul banget...sebagai ibu haarus memberi anaknya yg terbaik :D

Reply

iya mba Awet sekali produknya philips :)

Reply

silikonnya memang lembut banget ya mba, elastis.

Reply

hihihi iya lagi banjir ASI ya Busui Lina, semangat pumping

Reply

iya mba awet, serta uniknya dotnya ada laju aluran per usia bayi jadi bisa disesuaikan.

Reply

Iya mba Lingga, sebagai ibu harus banyak belajar, sabar dan tegar serta semangat terus untuk memberikan terbaik bagi anaknya. :)

Reply

Jaman sekarang botol2 susu makin unyu2 ya modelnya, tiap dot pun beda2 sesuai dengan usia bayi. Jaman aku dulu sama saja dotnya hihii

Reply

iya inovasinya semakin berkembang.

Reply

Alhamdulillah ya drama dot terantasi. Aku anak kedua dulu masih bekerja, nyetok ASIP banyak. Emang perlu ilmu ya saat menyusui biar sukses hingga 2 th. Makasih sharingnya

Reply

Sama-sama mba naqi :)

Reply

nice sharing mbak

Reply

sama-sama mba :) terima kasih sudah mampir

Reply

kenapa dulu waktu Dija masih nge dot, belom ada dot kayak gini yaa

Reply