Menu
/

Kalau ditanya moment yang paling berkesan dan tak terlupakan dalam hidup, jawaban setiap orang pasti akan berbeda-beda. Semua akan bercerita sesuai dengan perjalanan yang dilaluinya. Saya sendiri banyak sekali momen yang tak bisa saya lupakan, bukan hanya satu tetapi lebih dari itu.

Bagi saya momen-momen yang tak terlupakan itu diantaranya adalah ketika akad nikah, ketika keguguran, kemudian hamil lagi dan melahirkan kedua anak saya. Diantara momen itu ternyata yang membuat saya tak bisa melupakan moment indah adalah ketika dua buah cinta saya ini lahir. Selain setiap proses yang dialaminya berbeda dan ada sesautu yang membuat mereka menjadi terkenang selalu.

Saya akan bercerita ketika akan melahirkan anak pertama saya. Waktu itu saya masih hidup dikontrakan berdua dengan suami. Sehari-hari saya sibuk dengan bekerja dan kuliah serta belajar menjadi istri yang baik bagi suami. Saya baru resign kerja ketika usia kandungan 9 bulan :) . Itupun bos saya di kantor memohon jangan resign kalau bisa ambil jatah cuti melahirkan saja yang diberikan kantor selama 3 bulan. Namun, sayang keputusan resign kerja bukan karena saya akan menjadi seorang ibu, tetapi karena saya sedang ketar-ketir juga dikejar-kejar deadline skripsi dan sedang menghadapi UAS tingkat semester akhir. Maka tawaran dari bos pun tidak saya ambil, walau agak alot akhirnya saya dapat juga resign dan teman-teman kantor semua membuat farewel party  dadakn diakhir saya bekerja disana.

Lepas dari jam kantor, bukan berarti hidup semakin santai bagi bumil yang sedang menghitung Hari Perkiraan Lahir (HPL). Nyatanya bolak balik ke kampus, selain UAS juga bimbingan dengan para dosen pembimbing.

Perut sudah besar, masih pergi-pergian ke kampus, ke perpustakaan, ke toko buku, dll semua untuk mencari bahan pendukung skripsi. Tak  sedikit suara  tetangga yang perhatian bertanya-tanya :

Kapan lahiran?
Kok gak lahir-lahir? jangan-jangan hamil kebo?
Duh masih sibuk aja si Neng teh ya, brojol di jalan lho.

Deg, jantung saya pun berhenti sejenak. Kata-kata itu membuat saya takut, seperti menambah kekhawatiran yang sedang saya pikirkan. Saya sendiri sedang galau tingkat akhir. Pertanyaan kapan lahiran seperti serangan ditanya kapan nikahan bagi para jomblo yang bentar lagi lamaran, saya paham HPL lewat itu sungguh bikin jantung deg-deg an. Ini juga pengalaman pertama saya melahirkan jadi saya juga gak tahu gimana rasanya nanti. Dibilang hamil kebo, please atuh jangan, saya mah jangan disamakan dengan kebo, saya pun berdoa semoga dede bayi lahir selamat dan sehat dan tidak menyusahkan siapapun. Dibilang brojol dijalan ini juga bikin keringat dingin saya mengalir, takut menjadi doa, saya yang pernah mengalami kontraksi palsu di kampus ketika sedang ujian, memang sering buat was-was teman-teman sekitar, lagi-lagi saya hanya bisa berdoa, semoga Allah SWT selalu melindungi saya dan buah hati saya dan tidak membuat repot orang lain. Suara bising diluar itu juga, membuat suara batin saya menjadi tambah kekhawatirannya, saya pun selalu berperang dengan perasaan saya yang menjadikan saya penuh kecemasan :

  • HPL yang telat
  • Tanda tanya bisa lahiran normal atau cesar. Karena kalau normal skripsi bisa lanjut setelah lahiran, tetapi kalau saya operasi cesar maka form cuti kuliah harus segera saya isi dan pasca lahiran bisa kirim ke kampus. Karena pasca cesar pasti pemulihannya tak secepat yang lahiran normal, juga batasan bergerak tak seperti yang lahiran normal.
  • Skripsi nanggung, selain sudah memasuki bab 3, semua biaya telah dibayar, biaya sidang, biaya wisuda, dll. Jika tak sesuai rencana artinya saya juga harus siapkan dana double untuk susulan atau bayar biaya sidang lagi. 
  • Anak sama siapa? sejak nikah saya hidup berdua dengan suami. Melihat mertua yang sudah mengasuh cucu-cucu adik-adik suami, tak mungkin saya tambah bebannya dengan menambah satu cucu lagi, ibu saya beda kota dengan saya tempat tinggalnya. Pengasuh? Suami gak akan kasih izin anak pertama kami harus diasuh orang lain. Walau saya bisa kuliah malam  (karena bayar kelas karyawan bisa ikut pagi atau malam), menunggu suami pulang kerja. 
  • Belum ada ilmu menjadi ibu, jujur selama hamil dan sudah lewat HPL saya belum belajar tentang cara merawat anak, buku-buku sih sudah banyak selain beli juga dapat dari kado teman-teman kantor, tetapi membacanya tak ada waktu karena memang saya berkutat dengan terjemahan skripsi saya yang berbau bahasa Jepang. 

Masuk Rumah Sakit


Seharusnya hari ini ada ujian dan seminggu ke depan saya masih UAS,tetapi takdir berkata lain. Setelah mengantar suami berangkat kerja, sampai di rumah saya mengalami kram perut. Ibu saya yang baru datang untuk menemani saya ini juga belum tahu banyak tempat bidan praktek apalagi rumah sakit. Jadi ketika saya kram perut dan kontraksi cuma bisa elus-elus punggung saya. Berdua menahan cemas yang tak bisa digambarkan.

Saya pun menghubungi bidan terdekat, mau periksa bukaan jalan lahir, sebelum ke rumah sakit. Jalan bersusah payah ke rumah bidan, ternyata malah ditolak, dan dibilang lahiran masih lama. Duh, padahal sudah lewat HPL dan sudah mulai mules-mules. Saya yang bingungpun, mengajukan untuk dirawat di tempat bidan dahulu, karena gak akan mengerti jika kontraksi semakin rutin apalagi tiba-tiba ketuban pecah, pasti bikin panik. Tetapi lagi-lagi ditolak, katanya gak apa-apa lewati saja. Saya jadi ingat bidan Wendi yang begitu baik kepada saya, kalau tidak sedang diklat ke luar kota saya pun akan ke tempat bidan Wendi yang baik hatinya dan ramah sekali orangnya.

Saya dan ibu saya pulang, kemudian kontraksi semakin menjadi dan keluar bercak merah. Panik, saya pun akhirnya memesan taksi dan berangkat ke rumah sakit setelah menelpon suami untuk memintanya pulang cepat dari pekerjaannya.

Sampai di rumah sakit, saya memasuki ruang bersalin, karena menurut suster jaga sudah ada tanda-tanda mau melahirkan, bukaan telah dua dan keluar bercak merah. Seharusnya tinggal menunggu bukaan sempurna maka bayi lahir. Namun, ternyata bukaan tidak naik-naik, dan darah pun berhenti.

Setelah dokter kandungan yang biasa periksa saya sejak awal kehamilan, dan tahu saya ibu yang sedang galau. Dokter pun meminta saya pindah dari ruang bersalin ke ruang perawatan biasa, setelah itu akan diberi obat perangsang kontraksi. Saya yang gak paham efeknya, sebelum dokter meninggalkan saya dan suami di ruang perawatan, saya malah meminta izin ke kampus. Dokter saya pun tersenyum dan bilang fokus dahulu saja dengan lahiran, makan yang banyak agar dapat lahiran normal, dan nanti bisa lanjut ke kampus pasca lahiran. 

Dokter kandungan saya ini sungguh bijak dan menentramkan hati saya. Bagi saya yang menunggu kapan lahiran, jenuh rasanya menginap di rumah sakit. Setiap jam dan dentang detik bergerak melambat ditatapan mata saya. Bosan melanda, saya sudah tak memikirkan sekarang jam berapa dan hari apa, yang ada hanya tanda tanya kapan lahiran. Apalagi disebelah ruangan sudah ada puluhan ibu-ibu yang keluar masuk melahirkan dengan cepatnya. Iri sekali, saya yang belum tahu bagaimana rasanya melahirkan ini seakan ingin mendahului juga untuk segera melahirkan.

Lemas, badan sudah tak karuan rasanya menahan mulas yang rasanya seperti memaksa saya ingin berteriak. Walau sudah menahan napas, sakit menusuk-nusuk membuat saya harus menahan sakit luarbiasa. Sesak, akhirnya saya memerlukan bantuan oksigen. Pertahanan ingin lahiran normal goyah karena sakit yang luarbiasa dari kontraksi yang tak juga berujung lahiran. Akhirnya, suami tak tega juga dan tandatangani tindakan operasi cesar. 

Keajaiban Melahirkan


Ruang operasi telah siap, dokter anak, dokter bedah telah datang. Dokter kandungan saya pun datang, dan dengan suara keibuannya yang lembut, sambil memeriksa saya, dan bilang gak perlu cesar, ayo kita berjuang lahiran normal ya. Kerahkan tenaganya ya, masih muda harus kuat. Saya pun hanya menganggukkan kepala tanda setuju, mau cesar atau normal yang penting lahiran itu menurut saya.

Benar-benar disisa tenaga terakhir, jagoan ganteng yang ditunggu lahir juga. Dokter bilang, anak saya lahir di tanggal 21 April, mau dikasih nama KARTONO saja ya, saya pun tersenyum mendengar candaan bu dokter yang sedang menjahit pasca saya melahirkan. Suster-suster yang bantu saya melahirkanpun ikut riuh tertawa mendengar nama Kartono. Setelah saya disuntik, saya terlelap tidur di ruang perawatan. Berbeda ruangan dengan si Kartono, eh suami saya yang sudah memberikan nama untuk anak saya dan bukan Kartono :)



Keajaiban yang terulang 


Mungkin jika satu hanya sebuah kebetulan. Bagaimana dengan anak kedua saya? Yang pastinya, hamil pun tak saya rencanakan, apalagi harus menghitung tanggal lahirannya agar bersejarah.

Bagi saya yang dapat status emak sunduler, dengan jarak kehamilan dekat yaitu ketika masa ASI yang belum genap dua tahun, ternyata saya hamil lagi. Pastinya pengalaman baru bagi saya bagaimana menstop ASI anak pertama ini, dan drama tantrum anak pertama.

Saya yang masih belajar menjadi ibu pun melewati hari-hari kehamilan saya dengan tantrum anak pertama saya ini. Hingga memasuki HPL ternyata saya lewat juga, tetapi tidak begitu cemas karena sudah pengalaman melahirkan dan punya keyakinan bahwa bayi akan lahir pada waktunya, tetap kontrol saja ke dokter kandungan rutin, dan tunggu instruksi dari dokter kandungan.

Hasil Lab Yang Selalu Gak OK


Di rumah sakit PMI Bogor, dimana tempat saya akan berencana melahirkan anak kedua saya ini, dengan bu dokter kandungan ibu Rachmawati Tunggal. Disini menjelang kelahiran, saya harus selalu periksa lab. Hasilnya HB saya selalu dibawah rata-rata. maka dokterpun meminta saya minum vitamin dua kali lipat secara rutin, tidak ada makan pantangan, banyak makan ati ayam, daging, tempe, buah bit, bayam merah, buah naga, dan semua makanan yang dapat menaikkan HB saya. 

Saya sudah melaksanakan semuanya, vitamin dan aneka makanan yang disebutkan diatas sudah saya konsumsi setiap hari, pemeriksaan lab berikutnya sama, tetap HB rendah. 

Fokus memikirkan HB yang tak kunjung naik, saya lupa malah sudah melewati HPL. Saya pun ketika periksa ke dokter jadi bertanya-tanya, bahkan anak kedua ini tak ada kontraksi palsu, dll. Sepi senyap, hanya gerakannya saja yang aktif. 

Dokterpun bilang jika melewati seminggu maka siap dirawat untuk induksi atau operasi nanti diputuskan di rumah sakit. Walau sudah merasakan lahiran tetapi lahiran anak kedua ini juga ternyata melewati HPL yang di taksir tanggal 22 Oktober ternyata melewati tanggal ini.

Di bulan oktober ini, saya menutup rapat semua pertanyaan kapan lahir, dll. Waktu saya manfaatkan untuk selalu dekat dengan si Kakak. Saya sering mengajaknya jalan, dan bermain bersama, keliling mall bahkan makan di restorant. Melewati HPL yang sudah lima hari berlalu, saya kembali pasrah. Saya pun segera menyetok kebutuhan perlengkapan rumah yang sekiranya biasa saya beli perbulan, juga peralatan kerja suami saya dari HVS, tinta printer, dll. Ketika saya dari sore hingga malam berputar-putar belanja kebutuhan rumah tangga, dan membelikan mainan untuk si Kakak, pulang ke rumah saya langsung terlelap tidur.

Bangun pagi seperti biasanya, beberes rumah, madiin si Kakak, mengejar-ngejarnya pakai baju karena masih suka lari-lari, menyuapinya sarapan. Saya pun mandi kemudian sarapan pagi, lalu lanjut beberes rumah. Tiba-tiba perut saya kram dan kontraksi mulai dirasakan. Tetapi saya masih dibawa santai, pikir saya pasti baru bukaan satu. Saya lihat jadwal praktek dokter kandungan saya pun adanya sore hari, sekalian ambil hasil lab yang terakhir dan mau kontrol juga nanti sore saja, masih dalam pikiran saya saja. Ternyata kontraksi ini semakin membuat saya sulit bergerak. Saya pun langsung menelpon kakak perempuan saya untuk menitipkan si Kakak.

Saya diantar suami menuju rumah bidan terdekat untuk periksa bukaan sebelum ke rumah sakit. Ternyata sudah bukaan lima dan mau ke enam. Wow, saya terkejut sekali secepat itukah anak kedua ini akan lahir.

Saya pun meminta suami segera membawa ke rumah sakit, karena saya agak khawatir dengan hasil lab saya yang kurang bagus. Tetapi, bu bidan menyarankan saya lahiran di tempatnya. Saya yang belum pernah memeriksakan diri selama hamil ke bidan ini pun, memberitahu tentang hasil lab saya yang terakhir, ada masalah dengan HB. Bu bidan pun memeriksa saya, dan berkata insyaAllah semua akan berjalan baik. Kondisi saya baik-baik saja, posisi oke dan tidak ada masalah.

Lega rasanya, ternyata bukaan sempurna itu cepat juga, saya akhirnya melahirkan anak kedua saya dengan normal dan selamat. Tak beberapa lama, saudara dan tetangga menjenguk saya di tempat lahiran.

Alhamdulillah, lahiran juga ya.
Gak mau kalah ya tanggalnya sama kakaknya 21 April hari kartini, adeknya 28 oktober hari sumpah pemuda.
Kalau operasi cesar kan bisa pesan tanggal cantik gitu, klo normal apalagi dua-duanya lho!
Sudah ngitung tanggalnya ya, kok bisa pas gitu?

Semua pertanyaan itu saya hanya menjawab dengan senyuman. Semua itu Allah SWT yang berkehendak. Saya hanya manusia biasa yang tak kuasa mengintip masa depan apalagi sampai mendesain seperti apa yang saya inginkan. Setelah HPL lewat yang membuat saya cemas, alhamdulillah lahir anak kedua kami pada tanggal 28 Oktober 2012.

Di kehamilan saya yang sekarang, menuju anak ketiga, dan perkiraan HPL pada bulan maret 2017, saya berdoa semoga dimudahkan proses lahirannya dan ibu bayi selamat, sehat.



Bagi seorang ibu dapat melahirkan buah hatinya adalah anugerah yang luarbiasa. Menjadi momen yang tak dapat dilupakan dan sangat berharga sekali dalam hidupnya.


Salam Hangat
9 comments

Wuah luar biasa banget mbaaak,the krucilny lahir di hari2 nasional ;)

Reply

makasi ya DJ, iya kebetulan yang luarbiasa :)

Reply

Benat, Mbak. :) Pati luar biasa rasanya. :)

Reply

Iya mba, sebuah kebetulan yang membahagiakan :)

Reply

alhamdulilah y mba :) pas banget sama tanggal bersejarah

Reply

Oh, ternyata tepat lahiran di hari bersejarah itu. Alhamdulillah. Bukan kebetulan, tapi sudah ketetapan-Nya

Reply

Iya mba benar-benar ketetapanNya yang luarbiasa

Reply

Huum Mas Koko, benar-benar Allah Yang Maha Kuasa :)

Reply

hari lahir dua jagoan itu dirayakan oleh seluruh masyarakat Indonesia yah Mba Erna :)

terimakasih sudah berpartisipasi di GA saya :*

Reply