Menu
/


"Ma, kakak Mau Sunat." ucap Kakak Fatih.

Sebagai mamahnya, saya seperti naik rollercoster, terkejut sekali mendengar ucapan anak balitaku. Di usianya yang masih dua tahun setengah itu sudah minta khitan. Kebayang mahkhluk mungil di hadapan saya ini apa  mampu menahan sakit? Sepertinya tidak, apalagi saya juga lagi sibuk mempersiapkan kelahiran anak kedua, alias dedeknya Fatih. Akhirnya mendiskusikan kepada suami dan tepat seperti dugaan saya suami memilih menundanya hingga kelak anak kami memang benar-benar siap. 


Ada beberapa alasan orangtua menunda khitan pada anak :

  • Usia yang di rasa belum cukup. Khawatir belum bisa menahan sakit atau terlalu banyak aktif 
  • Kesiapan orangtua untuk siaga pasca anak dikhitan.
  • Tradisi, ada yang memilih ketika usia dan mental anak sudah dirasa cukup.
  • Keuangan keluarga


Bully dan Sunat

Memang setiap tempat tinggal akan ada kebiasaan-kebiasaan yang membuat orang yang tinggal di suatu tempat itu merasa biasa dan ada pula yang tidak biasa. Seperti di tempat sementara kami saat ini di Bogor, tradisi sunat pada anak laki-laki memang terbiasa dari usia bayi, usia 7-40 hari, usia satu tahun, atau usia 3 tahunan. Kebiasaan ini memang banyak alasan, ada yang demi kesehatan, ada yang demi tidak repot kalau sudah anak-anak malah berontak dan ada pula yang sudah turun temurun dari tradisi keluarga  tersebut. 

Terkadang sunat pun terpaksa dilakukan karena adanya bully pada anak. Seperti ketika bermain anak diledek kalau belum sunat, ketika ditempat pengajian atau tempat belajar anak ditanya kapan sunat atau bahkan ada juga masjid yang melarang masuk shafnya anak yang belum  sunat. Sehingga anak memiliki dorongan untuk meminta segera di khitan. Ada orangtua yang menolak permintaan anak seperti saya sampaikan diatas. Adapula orangtua yang langsung menyetujui, dengan persiapan mental dan keuangan keluarga telah disiapkan terlebih dahulu. Kadang orangtua ini mengambil moment khitan mendadak, yang penting anaknya yang memintanya (sudah mempertimbangkan fisik dan mental anak).

Berbeda dengan suatu tempat yang tradisi khitan dimulai dari anak usia 7 tahun, atau sampai usia anak masuk sekolah SMP. Untuk alasan ini biasanya para orangtua ingin anaknya secara fisik dan mental mampu melewati proses khitan tanpa drama ataupun terjadi hal yang tidak diinginkan seperti anak trauma pipis karena tidak bisa menahan sakit sehingga terjadi pembengkakan, dan kejadian yang tidak diinginkan lainnya. 

Akhirnya kami memilih khitan anak kami setelah anak usia 3 tahun 11 bulan. Masih banyak yang bilang bahwa usia khitan anak kami pun terlalu cepat. Apalagi pihak keluarga dari suami, ada yang usianya lebih dewasa dari anak kami dan belum dikhitan. Anak saya meminta khitan ada dua faktor karena tempat kebiasaan kami tinggal banyak anak yang lebih kecil sudah dikhitan, kedua yaitu kasus bully seperti yang saya sebutkan diatas. Maka, ketika anak kami selalu meminta khitan, akhirnya kami pun membawanya ke rumah Khitan.

Kami berempat (Saya, suami, kakak Fatih dan dedek Fay) naik kendaraan umum. Niat sambil jalan-jalan di Kamis sore sambil mencari rumah khitan yang terdekat. Awalnya saya ingin anak kami dikhitan di rumah sakit saja. Ternyata setelah saya tanyakan pada bagian reseptionis, proses khitan tinggal daftar saja dan akan di khitan di ruangan IGD. 

Saya pun mencari rumah khitan, ternyata cukup dekat dengn tempat tinggal kami. Di rumah Khitan, saya pun mendaftar terlebih dahulu. Kemudian mengisi formulir yang terdiri dari data diri orangtua (nama, usia, alamat, nomor telepon) dan data diri anak (nama, usia, alamat, tanggal siap khitan). Proses persiapan khitan ini tidak bisa langsung, paling lambat 1 hari sebelum di khitan, apalagi musim liburan disarankan 1 minggu sebelumnya. Setelah mengisi formulir pendaftaran kemudian membayar administrasi pendaftraran khitan sebesar dua puluh lima ribu rupiah. Biaya khitan di bayar nanti setelah proses khitan karena diukur berdasarkan besar kecilnya penis yang akan dikhitan. 

Hal yang penting untuk dilaporkan pada saat pendaftaran adalah :
- Pasien dengan alergi obat tertentu
- Fimosis (perlengketan kulit)
- Anak kebutuhan khusus (Autis)
- Pasien bila sudah dikhitan tapi memerlukan reparasi khitan.

Khitan anak dan Persiapan Sebelum Khitan

Persiapan sebelum khitan seperti :

  1. Pasien (bayi, anak dan dewasa) dalam keadaan sehat, jika ada kelainan atau alergi terhadap obat-obatan jenis tertentu harap dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter baik datang langsung maupun melalui telepon.
  2. Pasien disarankan mandi terlebih dahulu
  3. Disarankan untuk sarapan pagi (jika mau di khitan pagi) secukupnya.
  4. Bersihkan daerah sekitar kemaluan (penis) pasien anak dengan menggunakan air hangat
  5. Untuk pasien dewasa disarankan mencukur bulu disekitar kemaluannya di rumah terlebih dahulu.


Rumah Khitan yang beralamat di jalan kebon pedes No. 42 Kota Bogor. Yang bisa menerima pendaftaran melalui telepon 0251-8341668 /0852-1010-2877. Metode yang digunakan pada Rumah khitan ini yaitu Tara Klam,

Tara Klamp adalah sebuah perangkat khitanan baru yang terbuat dari bahan plastik berkualitas, tidak berbahaya tidak mengandung bahan beracun/kimia dan higienis. Alat khitan ini digunakan sekali pakai buang (dispossible) dan steril.

Tara Klamp merupakan teknik berkhitan yang sangat mudah dan aman (tidak khawatir Glan penis terluka pisau bedah), tidak ada penjahitan, minimal pendarahan, tidak ada batasan usia khitan, tidak memerlukan waktu yang lama dalam melakukan khitan (kecuali ada faktor penyulit seperti fimosis dan obesitas), tidak menggunakan perban, serta langsung dapat beraktivitas seperti biasa dan langsung memakai celana seperti biasanya. 

Anak saya pun sejak memasuki ruang khitan, tidak ada rasa takut. Karena dokter menyambut di pintu dengan ramah. Sudah ada TV yang mengalihkan perhatian anak. Jadi bisa memonton film DVD yang di stel. Ada juga poster naruto sehingga ruangan tidak kaku dan menyeramkan. 

Tim Dokter juga selalu mengajak berbicara anak, sehingga komunikasi tercipta. Tidak hening. Setelah selesai, dokter memakaikan celana kembali pada anak dan berpesan serta mengucapkan pujian.


Saya pun ke ruangan penerimaan obat yang terdiri dari obat antibiotik dan penghilang rasa sakit. Serta dapat panduan untuk hal apa saja yang dilakukan setelah selesai khitan dan diberi jadwal kontrol serta melepas tara klamp. Selanjutnya membayar biaya khitan. 

Setelah semua selesai, kami pun kembali ke rumah. Anak kami sejak awal sudah bermain. Tetangga pun banyak yang bertanya, baru dikhitan tetapi main seperti biasanya. 

Catatan bagi para orangtua yang hendak mengkhitan anaknya, yaitu tidak sama satu anak dengan lainnya. Jadikanlah anak Anda selalu istimewa dan beri terus dukungan terhadapnya. Secanggih apapun metode khitan, tetap tergantung pada anaknya. 


Salam

20 comments

Fatih habat sudah mau dikhitan. moga jadi anak soleh yg pinter yaa,aamiin.
hutangku tinggal si bungsu dd irsyad nih yg belum dikhitan. bapanya suka ngomporin sih, dd sunat yaa... tapi ddnya cuek aja. emaknya jg belum siap hehe

Reply

Waaaah hebatnya, Bully-annya berpengaruh positiv ya Mak.. Anak aku malah belom berani di khitan.. Masih 4 tahun sih, rencana kita nunggu dia siap aja nanti pas usia SD. Makasi sharingnya ya Mak..

Reply

Kalo di tptku, sunat pas kecil bikin kuntet. Tp malah lbh gampang ngurus anak yg sdh snt saat batita sih

Reply

saya juga lagi persiapan anak pertama mau sunat tapi yang agak takut orang tua bukan anaknya

Reply

keep posting gan semangat hehe, kunjungan di sore hari, ditunggu kunjungan baliknya

Reply

iya mom Inna, emaknya kudu siap juga.

Reply

sama-sama kak.semoga dedenya siap juga di khitan. memang perlu edukasi dan pengarahan juga.kadang anak-anak lebih ditakut-takuti soal sakitnya khitan, bukan manfaatnya.

Reply

wah baru tahu bikin kuntet,hihihi. Semoga sehat2 anak-anak disana ya. makasi kak Jiah sudah mampir.

Reply

Iya saya juga awalnya selalu takut jika anak ga mau pipis habis suna,dll.Bismillah aja,karena anaknya yg minta terus. alhamdulillah lancar. memang dari anak yang sudah memiliki kemauan sunat juga.

Reply

Terima kasih,siap kunjungan balik kapten :)

Reply

wowwww, teringat ketika masih mua duluuu, ehmmm serasa kayak digigit harimau

Reply

hihihi serem amat mas. terima kasih sudah berkunjung

Reply

nice share, semoga kak fatih jadi anak yang sholeh dan makin pinter ya

Reply

siap2 deh ntr kalo anak cowo ku udh rada gedean, hrs sunat juga :D.. eh tapi skr khitan udh ga skit ya mbak... ponakanku umur 3 thn hrs disunat krn masalah kesehatan.. aku kaget pas jenguk ke RS Bunda menteng, dia udh dipakein popok nya lagi... adekku pas sunat duluuu aja, masih nangis2 kesakitan pas obat bius nya ilang. itu ponakanku malah kyk ga ngerasa apa2.. makanya ntr anakku sunat, pgn di rs bunda aja biar anteng anaknya :D.. kalo cerita suamiku beda lagi.. pas di sunat dulu, mertua masih penugasan di Jerman, jd suamiku juga disunat di sana.. dan itu dokternya nunjukin beberpa foto penis yg disunat :D.. jd bntuknya ada macem2 ;p.. suamiku disuruh milih mau bntuk yg mana hihihihi ;p.. dia sendiri bingung dan akhirnya milih yg paling standard ;p

Reply

Kalau ingat khitan, rasanya udah gak pengen ngrasain yang kedua kalinya. Hahaha :D

Reply

terima kasih, amin.

Reply

wah pengalaman yg seru ya,terima kasih sudah mampir dan berbagi Mba Fanny

Reply

eaaa, xixixix tobat ya. :P

Reply

Ini anak bujang ku, sudah 5 harian ini minta khitan.. aku n suami kayak belom siap.. hadeehh.. biaya khitan dg tekhnik tara klamp berapa ya mbak?

Reply