Menu
/
Bismillahirrohmanirrohim,

Perjalanan Panjang Sebuah Novellet Islami Yang Akhirnya Di Filmkan



Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) karya legendaris dari Bunda Helvy Tiana Rosa. Sebuah karya yang ditulis pada tahun 1992 dan diterbitkan pertama kalinya pada tahun 1997. Cetak berulang kali dan best seller. Kisah yang begitu inspiratif dan menjadi penyejuk jiwa bagi para pembaca yang rindu sastra Islami. 


Saya pun membacanya diawal tahun 2000 masih status pelajar, hasil pinjam diperpustakaan kota. Karakter Gagah ini yang ikut mewarnai perjalanan hidup saya.  Walau sudah membacanya, tetapi saya terus mencari buku ini. Setiap ke toko buku selalu tidak ada. Rasa ingin mengenang kisah Gagah dan membacanya kembali agar semangat dakwah itu tak berhenti ketika langkah sedang lelah. Penantian itu datang juga, ketika Mba Elvira Suryani memberi kabar ada buku KMGP edisi tanda tangan Bunda Helvy Tiana Rosa. Saya yang baru saja lahiran anak kedua langsung mengontak Mba Vira untuk pemesanan buku tersebut. Dengan kebaikan hati Mba Vira akhirnya buku KMGP saya dapatkan. Saya pun membaca kembali dan selalu sama ada semangat yang terpancar setelah membaca KMGP. 



Bahagia telah memiliki buku KMGP, tentu membuat saya ingin berbagi juga kepada generasi selanjutnya, tentang sebuah karya yang tak pernah padam. Akhirnya saya pun menuliskan resensinya dan Tayang di Majalah Potret.



Ternyata perjalanan kisah Mas Gagah tak hanya dalam sebuah buku. Kabar gembira datang bahwa KMGP akan difilmkan. Riuh hati menyambut suka cita ini, namun ada perasaan takut yang menghampiri apakah film KMGP ini akan sama seperti dalam buku yang sudah dicetak ataukah akan berubah menjadi tayangan yang komersial dan luntur nilai-nilai Islami yang telah terpatri dalam setiap karakternya?

Bersyukur Bunda Helvy Tiana Rosa pendiri Forum Lingkar Pena, memperjuangkan KMGP ini agar sesuai dengan isi cerita yang ditulisnya. Tak ingin dirubah hanya sekedar meraup untung semata dari sebuah film yang telah dilabeli kata Islami. Perjuangan yang panjang, dukungan dari para pembaca setia hingga relawan yang ingin berpartisipasi untuk mewujudkan film Ketika Mas Gagah Pergi sesuai ruhnya. Tahun berlalu, akhirnya film yang ditunggu-tunggu telah siap tayang. Tentu menonton film KMGP ini bukan sekedar menonton hiburan semata. Masih ada misi dakwah selanjutnya diantaranya untuk membantu pendidikan anak-anak di Wilayah Indonesia Timur dan Palestina.  

Memberi Bantuan Ke Palestina. sumber gambar : sastrahelvy.com


KMGP yang dirilis pada tanggal 21 Januari telah beredar diseluruh bioskop Indonesia. Teman-teman saya yang di Ambon, Balikpapan, apalagi pulau Jawa semua berbondong-bondong membawa kolega untuk menonton bersama. Saya yang tahun 2008 bergabung dengan keluarga FLP Bekasi, begitu terharu melihat semangat dan kebersamaan FLP Bekasi yang mengadakan acara nonton bareng KMGP. Selain itu FLP Bekasi juga mengadakan kuis dan para pemenangnya akan dapat ticket nonton secara gratis. Walau raga tak satu tempat, saya pun berniat memeriahkan kuis tersebut dan menjadi salah satu pemenang yang mendapatkan ticket nonton. Sayang sekali, saya tidak bisa berangkat ke Bekasi karena dua anak balita saya sedang sakit dan saya memilih memberikan ticket tersebut kepada teman-teman saya juga di FLP Bekasi. 

Alhamdulillah, anak-anak saya berangsur sembuh kembali, tetapi berada ditengah Kota Bogor tak membuat si emak dua anak ini gesit meluncur ke bioskop. Alasannya, suami untuk saat ini tak bisa menemani. Suami sedang ada proyek pekerjaan di Bekasi. Tak hilang semangat, saya pun mengontak teman Asinan Blogger agar nonton berjamaah. Sayangnya, semua sudah punya jadwal sendiri. Alhamdulillah ada Mba Ella Nurhayati, istri dari penulis Bang Syaiha FLP Bogor. Sama-sama punya balita dan akhirnya janjian via whatsapp dan meluncur ke bioskop. Inilah kali pertama pertemuan saya dan mba Ella karena KMGP. 


Sebuah Film Yang penuh Inspirasi dan perenungan


Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP), sebuah kisah yang berawal dari hubungan adik-kakak yang begitu dekat dan kompak. Gagah Perwira Pratama (Hamas Syahid) adalah sosok kakak yang sempurna yang sangat menyayangi adiknya Gita. Inilah salah satu yang membuat Gita Ayu Pratiwi (Aquino) nyaman dan mampu mengisi kekosongan sosok ayah yang telah lama tiada.  Mas Gagah dan Gita selalu bersama, jalan bareng ke mall, nonton, atau kesuatu tempat yang Gita inginkan. Hingga Mas Gagah melakukan kunjungan ke Ternate untuk sebuah penelitian. Disanalah Mas Gagah bertemu seorang ustadz  yang membuat Mas Gagah menjadi berubah, menjadi religius. 


Gita merasa kehilangan Mas Gagah yang dikenalnya.  Hal ini selalu menyulut api amarah Gita untuk menolak perubahan kakaknya, Mas Gagah. Pertengkaran selalu Gita mulai untuk membuat kakaknya kembali seperti kehidupan sebelumnya yang lebih hedonis dan bebas.

Selain itu, sosok Mama (Wulan Guritno) juga tidak menyukai perubahan Mas Gagah yang hanya membuat adiknya Gita merasa tidak nyaman. Sehingga hubungan adik-kakak ini tidak harmonis dan hanya membuat sedih Mama dengan melihat pertengkaran anak-anaknya. Mas Gagah dalam kebingungan ketika dua orang yang begitu dekat dengannya yaitu mama dan adiknya menolak dirinya. Sedangkan Mas Gagah ingin menyampaikan bahwa ajaran Islam itu indah dan penuh cinta. Hal ini juga yang membuat Mas Gagah terus berdakwah diluar bahwa Islam itu Indah. Mengenalkan keindahan Islam yang membuat tiga preman insyaf dan dapat membawa warga di sekitar pesisir kota Jakarta untuk peduli terhadap lingkungan sekitar serta membangun rumah singgah untuk anak-anak. 



Api amarah Gita seakan tambah berkobar dengan bertemunya sosok yang mirip seperti kakaknya, dialah Yudi (Masaji Wijayanto). Gita merasa tersindiri dengan isi ceramah Yudi yang begitu mengena. Yudi sendiri bagi Gita adalah pemuda yang aneh, yang mengahbiskan waktunya hanya untuk berdakwah di angkutan umum.  Sosok Yudi yang bagai air bagi api amarah Gita, ternyata mampu membuat Gita untuk berpikir mengenal Islam.



Ditambah sahabat Gita yaitu Tika yang kemudian berubah memakai jilbab karena mendapat hidayah seperti saudara sepupunya  Mba Nadia yang kuliah di Amerika. Ketika orang terdekatnya membuat Gita ingin memahami ajaran Islam dan apa  tujuannya hingga membuat orang yang dikenalnya banyak yang hijrah, terutama kakaknya yaitu Mas Gagah. 

“Hidayah itu milik Allah”
Itulah kesan pertama saya menonton film KMGP. Lahir sebagai muslim dari keluarga yang ber-KTP islam belum tentu dapat menjalankan kehidupan berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah. Pemahaman agama yang kurang serta tak ada niat belajar untuk mentadaburi dan mempraktekkan ajaran agama yang telah Allah SWT perintahkan dan Rosulullah SAW contohkan. Potret kehidupan sebagian masyarakat Indonesia yang sebagian mayoritas beragama Islam. Bunda Helvy Tiana Rosa, membingkai sosok keluarga Mas Gagah sebagai salah satu potret keluarga Indonesia. Proses hijrah Mas Gagah juga ternyata membutuhkan perjuangan dan menghadapi beda pemikiran dengan Mama dan Gita Si Adik Manis yang sudah menganggap kakaknya sempurna. Namun, perubahan Mas Gagah menjadi lebih dekat dengan ajaran agama, seakan membuatnya berbeda. 

Inilah bidikan potret dari penulis sekaligus pendiri Forum Lingkar Pena, Bunda Helvy Tiana Rosa. Apa adanya, kisahnya begitu mengalir dan benar-benar dekat dengan kisah-kisah kehidupan di Negeri ini. Dimana masyarakat memang ada yang “alergi” jika agama melekat dekat dengan pribadi seseorang. Apalagi yang pobia Islam, seakan karakter Mas Gagah hanya rekayasa penulis yang tidak perlu diapresiasi apalagi dikasih nilai tanda bintang bersinar terang. Ya, pasti sosok Mas Gagah akan selalu kalah dengan jagoan super hero yang dapat kekuatan dari gigitan binatang, minum ramuan, atau ciptaan teknologi yang pakaiannya super ketat dengan menampilkan sebagian aurat.

Bagi saya, Film Mas Gagah ini begitu dekat dengan apa yang saya alami. Berbeda dan bertahan untuk sesuatu yang memang sudah tertulis jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Saya sendiri, satu-satunya yang memutuskan berjilbab ketika hidayah datang di tanah rantau (semoga saudara-saudara perempuan saya juga dapat hidayah). Sama dengan Mas Gagah yang mendapatkan perubahan di Ternate setelah dekat dengan Ustadz Gufron. Pandangan orang sekitar, melihatnya berbeda. Kenapa Mas Gagah berbeda? Karena masyarakat terbiasa sejak zaman dahulu memisahkan ajaran agama dalam kehidupan. 

Nyatanya, ajaran Islam begitu rahmatan lil’alamin. Setiap aktivitas manusia dimulai dengan do’a dari bangun tidur sampai kembali rehat atau tidur kembali. Mengatur batasan aurat, menjaga pandangan, dari hal kecil hingga besar semua telah diatur. Aturan yang telah dibuat untuk menciptakan ketertiban, menghalau kebebasan, dan tentu kerusakan. Namun sayangnya, sikap toleransi dijadikan jawaban untuk setiap perbedaan. 

“Tak apalah dia tidak menutup aurat, yang penting Islam, tak apalah ia tidak sholat, yang penting Islam. Tak apalah ia pacaran dimuka umum, yang penting ia bukan teroris.”-atas nama toleransi-
Namun, adakah toleransi yang didapat pada, ikhwan berjenggot dengan baju koko dan dengan suara yang selalu menyerukan aroma syurga atau akhwat dengan jilbab lebar, baju gamis tak berbentuk tubuh dengan pandangan tunduk dan selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Mereka inilah yang selalu dibilang berbeda, calon teroris dan kehadiran mereka bagai anak yang tak diinginkan. Jika mau sama, jadilah wanita yang mengumbar aurat, pakai parfum wangi menyengat dan dekat-dekat dengan lawan jenis. Para lelaki juga tak perlu repot-repot pakai jenggot, cukup berpenampilan ala Si Won, Lee Min Ho, atau ikut jejak artis  yang bukan panutan, hidupnya dikejar-kejar wanita, berbaur dan pacaran, baru itu terlihat biasa. 

Mas Gagah bertahan dalam kelembutan hatinya. Disekitar orang-orang yang sama keyakinan agamanya, yaitu Islam namun menolak perubahannya. Bagaimana dengan kita, apakah bisa mencintai dan mempraktekkan ajaran Islam dalam keseharian? 

Nilai Plus Untuk KMGP

Dua karakter Mas Gagah dan Gita ini cukup kuat. Sang Sutradara Firman Syah membuat sosok Gagah ini begitu sempurna. Gagah menjadi pemuda tampan dengan kelebihan yang menawan, saat berubah begitu tampak nyata walau ada beberapa sikapnya yang alami keluar ketika tersulut pertengkaran dengan adiknya. Luarbiasa tangan dingin Sang Sutradara yang begitu menjaga nilai syar'i dalam agedan setiap adegan begitu ketat. Seperti Mas Gagah dan Gita yang tak pernah bersentuhan fisik namun tetap dapat chamistry yang dirasakan oleh kedua peran dari karakter Mas Gagah dan Gita sebagai kakak dan adik.

sumber intagram @immank.fsyah

Para Pemain Film KMGP


Hamas Syahid, perlu dapat point bintang untuk perannya di Mas Gagah. Aura kebaikan hati dan semangat dakwahnya terpancar. Mas Gagah juga sosok yang mengalami perubahan karakter. Yang tadinya hidup seperti pemuda umumnya yang duduk di cafe, berbaur dengan wanita apalagi bergelut dengan profesi modelingnya. Kemudian berubah menjadi lelaki yang mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Hidayah, Allah SWT. Bertahan dalam keyakinan dan bersabar dalam kesedihan ketika tidak diterima oleh orang-orang terdekatnya.


Aquino Umar yang berperan sebagai Gita pun begitu totalitas menjalankan perannya. Bagaimana Aquino memposisikan dua tokoh sekaligus antara si “protagonis yang antagonis” hingga hidayah menjemputnya. Adik manisnya Mas Gagah yang jika marah sangat ekpresif sekali. Aquino juga adik manja, juga memiliki kemauan yang keras. 


Tokoh menentukan selanjutnya yaitu Masaji, pemuda yang memiliki ciri khas kemeja kotak-kotak dan juga bermuka cuek. Berdahwah dengan cara yang berbeda yaitu di tempat umum. Masaji membawakan perannya dengan begitu penghayatan. Ketika berdakwah dengan suara lantang, namun ketika ditentang orangtuanya, suaranya meredup untuk menghormati orangtua dalam dalam baktinya. Benar-benar indah ajaran Islam. 

Dukungan dari para artis ternama juga membuat film ini menjadi sempurna, diantaranya Wulan Guritno, Mathias Muchus, Shireen Sungkar, Epy Kusnandar. Ilustrasi music dari komponis Dwiki Darmawan, dan lainnya.

sumber foto :sastrahelvy.com


Inilah yang membuat KMGP berbeda dengan film yang telah dilabeli kata Islami yang lainnya. KMGP begitu menonjolkan cinta yang diletakkan secara tepat, cinta kepada agama, keluarga, dan masyarakat sekitar. Sebuah bingkai gejolak keluarga yang dikemas secara menarik dan penuh intrik namun pesan dakwah yang tersirat. Skenario yang ditulis oleh Fredy Aryanto begitu apik dan cermat memilih pesan-pesan Islami, sudut pandang yang tidak monoton, juga penyajian mengikuti zaman yang sesuai trend (gadget, bahasa anak muda, dll) sehingga begitu update dalam perkembangan. 

Berbicara soal pengambilan gambar dalam film KMGP, sangat bagus dan tidak ada kritik. Backsound diatur begitu pas dan sesuai moment atau tema yang diangkat. IndoBroadcast Production yang memproduksi film ini begitu luarbiasa hasilnya.

KMGP juga mampu menampilkan ajaran agama Islam dengan penuh cinta kepada masyarakat.  Menjadi cermin untuk tetap berdakwah walaupun langkah dakwah tak selalu mudah, peduli lingkungan dan membantu kaum yang kurang mampu. KMGP adalah arti dari sebuah kesabaran  dan tetap istiqomah pada jalan kebaikan (konsisten). Inilah “ruh” yang dijaga oleh bunda Helvy tiana Rosa. Salut untuk bunda Helvy Tiana Rosa yang mempertahankan film KMGP tidak untuk keuntungan komersil belaka. Tak sia-sia kerja keras bunda Helvy Tiana Rosa  mengajak masyarakat untuk mendanai bersama atau patungan dalam pembuatan film KMGP yang dikenal dengan donasi masyarakat atau cowd funding.

Bunda Helvy telah mendapat dukungan dari banyak komunitas dan lembaga diantaranya Forum Lingkar Pena, Aksi Cepat Tanggap, dan melakukan roadshow keliling Indonesia juga luar negeri untuk mempromosikan KMGP. Juga membentuk Tim promo KMGP yang aktif di berbagai sosial media juga membentuk Sahabat Mas Gagah. Bunda Helvy juga mengawal pembuatan film KMGP dengan tim yang sudah dipercaya untuk dapat dinikmati oleh semua umur jadi aman membawa anak-anak untuk menonton film KMGP.

Hal yang tidak terduga dari film KMGP 1 ini adalah dibagian akhir, ada cuplikan untuk film KMGP 2. Jadi sudah tergambar konflik dan ketegangan berikutnya yang semakin membuat penasaran. Sangat diluar dugaan, inilah kejutan yang menggembirakan bagi para KMGPlovers. 


7 Alasan mengapa perlu mendukung dan menonton film KMGP




Yuk nonton KMGP, ajak semua kolega dan sahabat-sahabatmu. Karena dukunganmu begitu berarti, untuk sebuah cinta dan kebersamaan. 



19 comments

Wiiih lengkapnya. Semoga menang, ya? ^^

Reply

Aminn. Makasi ya Kak AnisaAe doanya. Terima kasih juga kunjungannya.

Reply

Wah, aku belum nulisnya Mb, rencana hari ini deh.

mb erna nontonnya juga ama batita ya, sama ama aku, hehehe

Reply

Blognya sdh kufolow ya Mb erna, biar dapat terus updetannya, hihihi

Reply

reviewnya cakep mbak...banyak film Indonesia yang bagus akhir-akhir ini ya, alhamdulillah sudah bukan masa film pocong dan kuntilanak lagi :D

Reply

ayoo nulis mba.Semakin banyak yang memeriahkan.

Reply

Terima kasih mba Milda. Saling berbagi update yang bermanfaat tentunya.

Reply

Terima kasih mba Dwi, iya KMGP rekomended buat keluarga Indonesia. No pocong-pocong deh. Semoga semakin banyak film-film yang membawa semangat perubahan yang lebih baik.

Reply

Aku belum nonton mak, baca reviewnya mak erna jadi mauu nonton ni,, bagus mak reviewnya.. :)

Reply

Kereeen deh cetar nonton dengan 2 balita dan nulisnya lengkpa banget, semoga menang ya.

Reply

Wih..baru baca postingan mbak Erna.. lengkaaaaap banget. Klo tulisanku lebih ke pengalaman nontonnya sih..hehehe..

Sukses yaaaa.. malam ini trakhir yaaa..hiks aku baru aja posting sejam lalu

Reply

Terima kasih mba Fera, selamat menonton. Dan terima kasih untuk kunjungannya

Reply

Aminn,terima kasih kakaku mba Naqy yang selalu menginspirasiku, ini juga banyak-banyak berdoa. Semoga mba ku juga sukses selalu ya

Reply

Aku juga sudah baca punya mba Ella,detail banget pengalamannya ditulis rapi. Semoga kita berdua menang ya. Hehehe jadi bisa merayakan kembali kebahgiaan emak rempong.

Reply

Wiih mantap :D Saya bisa belajar membuat resensi nih dari postingannya Mba. Good luck untuk lombanya ;)

Berkunjung juga ya ke blog saya http://bit.ly/ayomaubertanya dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak/komen di sana ;)

Reply

Terima Kasih sudah datang berkunjung. Oke saya akan berkunjung ya.

Reply

Mbak Naaaa... keren bangt. Mau nangis bacanya T T inget perjuangan film ini dutayangkan... mau nangis juga ternyata tulisanku acakadut... untung ikut lomba :( semoga menang mbak..

Reply

Makasi Ya Fita sayang sudah membaca review KMGP ini. Amin doanya. doa yang terbaik juga untuk adikku yang manis dek Fita.

Reply