Menu
/
Pagi di sudut kota hujan,  langkah-langkah begitu cepat berlalu. Aneka warna warni payung mulai memenuhi ruangan kelas berbentuk segi empat ini. Datang gadis berjilbab putih dengan depan jilbab yang berantakan. 



“Assalamualaikum, ladies” ucap Liyan padaku dan teman-teman yang sedang duduk-duduk dibangku kelas.

“Walaikumsalam, Yan. Ngaca kenapa sih, jilbab kayak kena badai gitu!” Adefit menggerutu.

“Hehehee, boting bomat ah. Ada kabar yang lebih penting dan bagai badai dalam hatiku.” Liyan menambahkan sambil tangannya merapikan ujung jilbannya. 

“Apa,apa,apasih. Ilna Penasaran nih.”  Tanya Ilna sahabatku yang duduk dibelakang.


“Tatap muka aku ya semuanya. Kata Umiku, kalian-kalian semua atau sekelas boleh main kerumah ku di Cianteun. Liburan nanti kan kelas tiga pada UN. Lumayan dari hari sabtu kita berangkat sampai selasa disana.”

Aku dan Ilna agak ragu, dalam pikiran aku dan Ilna sama-sama tentang perizinan. Teman-teman yang lain semua bersorak bahagia menyambut kabar bahagia ini. 

“Kenapa sih Ena dan juga Ilna, muka kalian kusut kayak belum disetrika.” 

“Aku tidak ikut ya,Liyan.Maaf. Ibu pasti gak kasih izin. Ini kalau diizinkan keajaiban dan jadi kali pertama bisa menginap di rumah teman.” tuturku

“Ya ampun gitu doang, nanti kita ramai-ramai ke rumah orangtua untuk meminta izin.Only girls!    Masa gak dapat izin. Semua yang ikut hanya wanita. Ada 4 hari lagi buat minta restu orangtua dan siapkan bekal ya.” Liyan antusias.

Esoknya Adefit, Ria, Diah, Trully, Aina, Ratih, Mira sudah membuat laporan kepada Liyan tentang keikutsertaan mereka. Tinggal aku dan Ilna. Sepulang sekolah inilah jadwal membujuk orangtua Ilna , kami segerombolan mendatangi rumah Ilna.  Hasilnya nihil, ayah Ilna tetap tidak setuju. 

Tinggal menunggu giliranku esok harinya,apakah bernasib sama juga dengan Ilna. Ternyata kali ini jurus Liyan begitu maut,membujuk dan memohon pada ibuku dan akhirnya diberi izin dengan beberapa syarat.  Anggukan kepala kami semua tanda setuju. 

Teman-teman sudah  tidak konsentrasi dalam belajar. Sudah membayangkan kesejukan cianteun.Walau di Bogor kota juga sejuk,tetapi Cianteun lebih sejuk lagi berdasarkan cerita Liyan. 

Rawut kesedihan terpancar dari Ilna, setiap hari ia murung. Tak ada gairah untuk belajar dan ngerumpi cantik. Liyan sebagai pemimpin pasukan tentu merasakan kesedihan salah satu personel cantiknya. Akhirnya pulang sekolah Liyan nekad menginap di rumah Ilna dan akan mengeluarkan jurus maut serta sekuat tenaga memohon izin pada ibunya Ilna. Liyan pun menelpon neneknya, dan mengatakan tidak pulang karena ingin menginap dengan Ilna.Nenek Liyan begitu asyik, nenek sangat hapal pada sahabat Liyan dan juga percaya pada Liyan.Maka tak perlu repot untuk meminta izin.Di  kelasku memang banyak yang tinggal dengan neneknya bukan dengan orangtua  kandung.  Banyak alasan, ada yang hanya karena ingin sekolah disekolah favorit ini, ada yang sudah bercerai orangtuanya,dan keadaan lainnya.

Hari yang mendebarkan tiba. Sepulang pelajaran sabtu ini.Kita akan kumpul jam dua siang di stasiun kota Bogor.tentu dengan sudah mengganti seragam putih abu.Dan membawa lengkap bekal yang sudah diberi tahu Liyan sebelumnya. 
Aku, Ria,Diah,Mira,Trully,Aina dan Ratih sudah berdiri bagai patung di tempat yang sudah dijanjikan. Satu jamsudah berlalu. Aku pun mulai jenuh dan begitu juga Diah dan Trully sudah berkeringat,tubuh gemuknya tak mampu berdiri lama.

“Aduh lapar nih gue.” Teriak Diah.

“Iya gue juga lapar banget.”sahut Trully

Dua gadis berperawakan subur ini sudah kehabisan stock makanan dilambungnya. Dengan cepat membuka tas dan langsung menyantap bekal di pinggir jalan.

“OMG,kalian gadis-gadis makan dipinggir jalan.” Ria terkejut.
“Duh,biarin aja sih Ria,mereka kan subur makmur,gak bisa nahan lapar.”Mira nyeletuk.
Aku hanya menghela nafas panjang,ada kejutan apalagi. Dan benar tak lama Liyan dan Ilna datang dengan wajah sumringah.
“Wah hebat banget Liyan,bisa bujuk orangtua Ilna.” Aina bangga.
“Tinggal si gadis penghuni gerbong Bojong gedenih, alias Adefit.”  Aku mengingatkan.
Liyan marah-marah,menurutnya dia saja yang datang telat karena harus merayu orangtua Ilna,tetapi ternyata ada yang lebih telat yaitu  Adefit. Tidak bisa diterima alasannya.Kereta kan tidak kena macet apalagi bannya pecah, alasan basi apalagi yang Adefit ucapkan nantinya. 

Tak lama Adefit datang dengan enam orang pengawal, alias teman kami sekelas dan beda kelas.Tetapi keenam pasukan tambahan itu laki-laki.  Sebuah ketakutan datang padaku,yang dapat izin karena akan berangkat tim wanita semua. Disusul Ilna yang matanya langsung melebar juga Liyan yang makin ngamuk karena tidak ada kabar pemberitaan sebelumnya. 

“Sudah sih, izinin aja. Kata Bokap gue mereka ini buat jagain gue aja. Misal ya kita naikoplet jarak jauh.Isinya para  gadis-gadis cantik,terus si supir oplet ini khilap kita dibawa ke kebun teh yang tidak ada penduduk,terus di apa-apain terus lagi kita dijual atau ...”

Kami semua merinding mendengar imajinasi Adefit. Tapi memang benar juga secara untuk jaga-jaga. Tapi bagiku ada yang salah dengan perjanjian izin dengan ibuku,jadi merasa bersalah.

Liyan seperti tak berkutik dengan bom bardir imajinasi Adefit. Apalagi keenam pria itu juga teman Liyan juga.jadi semakin sulit untuk menolak. Dan salah satu ada yang anggota DKM, yang setidaknya bisa dipercaya. 

Perjalanan pun dimulai, jalan berkelok-kelok, jalan tebing dan berbatu telah dilewati. Tibalah pada tempat yang hijau menghampar.Perkebunan teh Cianteun. Perjalanan yang sepertidikocok dalam botol terbayar dengan pemandangan indah. Rumah Liyan yang terbuat dari bilik bambu, juga berbentuk panggung dan hanya ada dua kamar. 

Kami pun semua langsung menuju dapur,meminta izin untuksholat ashar. Dan tidak ada kamar mandi.

“What!” teriak Ria

Liyan membawa kami berjalan beberapa meter. Ada bilik bambu yang tertutup hanya seukuran orang jongkok,dibawahnya ada kolam ikan lele.Ada air pancuran yang selalu mengalir,dan disanalah kita pipis dan berwudu. 

“Duh malu....” ucap lirih Ilna.

Yang pria-pria Liyan menggiring ke sungai. Disana juga ada tempat BAB dekat batu besar, kalau mau berwudu di pinggir sungai ada mata air yang mengalir. 

“What!” Ria kembali berteriak setelah mengetahui BAB harus ke tengah sungai yang mengalir. Juga tanpa penutup. 

“Aku dan teman yang lain pun berdoa semoga tidakBAB selama disini.Walau harus melewati tiga hari disini.masih belum bisa BAB ditempat terbuka.”

Magrib pun sudah datang,aku ingat pesan ibuku yang memberi syarat untuk selalu ngaji setiap ba’da magrib. Sampai ibuku sudah menyelipkan surah yasin bentuk saku,karena aku menolak membawa Al-Quran yang begitu tebal. 

Kamar yang selalu penuh, karena dihuni 9 orang,dan sholat yang harus gantian karena terbatasnya tempat. Aku pun duduk diatas tempat tidur. Surah yasin sudah kupegang,tinggal aku baca setelah  teman-teman selesai sholat. 

Namun sayang, ternyata suasana begitu ramai.Ada juga yang tidak sholat sedang berganti baju,ada yang menyisir rambut dan ada juga yang membongkar tas. Kamar tak pernah sepi, aku maumengaji jadi malu-malu sendiri. Seharusnya aku tetap mengaji saja,karena ini salah satu pesan ibuku. Ternyata aku mengurungkan niat karena Mira sedang curhat.

Esok paginya,setelah sarapan nasi goreng kunyit, kita semua jalan-jalan.Berfoto diantara pemandangan kebun teh. Ternyata raut wajah-wajah anak mama datang dari para pria, yang sibuk mencari signal hanya untuk mengirim sms dan menelpon orangtuanya.  Jalan sampai bukit signal susah sekali, sampai menuruni bukit tetap tidak dapat signal. 

Siang yang menyengat,Liyan mengajak kami kearea pembuatan teh. Dimana ada bak-bak besi untuk membersihkan teh sebelum  dimasukkan ke mesin produksi teh. Berputar-putar digedung yang sangat besar. Lalu menuju ke belakang gedung,dan terus berjalan menurun,hinggan ada sungai dengan batu-batu yang besar. 

Liyan pun menyuruh kami berfoto dibatu besar. Aku pun yang tidak mau kesungai karena ibu sudah melarang sebelumnya. Jadi ikut turun karena Liyan memaksa, untuk dokumentasi foto bersama. Aku pun segera turun dari batubesar. Menjejakkan kaki dibatu-batu kecil untuk sampai kepinggir sungai kembali. Entah mengapa,Diah dan Trully memelukku dari belakang. Aku yang bertubuh mini pun terpental dari pijakan batu kecil lalu menyebur kedalam sungai. 

Dalam air,mataku aku buka,warna hijau,batu besar yang tadiaku berfoto ria, sebuah lubang yang mirip sumur,semakin gelap dan dalam. Tak ada lagi suara teman-teman. Aku kedinginan dan ketakutan. Sangat takut, mataku perih tak bisa melihat lagi sekitarku. Aku pasrah dan merasa bersalah telah melanggar kepercayaan dan nasihat ibuku. Aku meminta maaf dalam gelap,memohon kepada Allah dan pasrah dengan apa yang akan terjadi.

Tiba-tiba tangan hangat menarikku. Keatas,keatas,dan semakin keatas. Mataku merah dan mulutku tak bisa berkata-kata lagi. Liyan memelukku. Diiringi Ria,Aina,dan Ilna. Trully dan Diah menangis merasa bersalah karena mereka hanya ingin membuatku basah, bukan sampai tenggelam. 

Suasana pulang jadi hening. Berbeda dengan waktu kami berangkat yang begitu riang gembira. Sampai dirumah Liyan,aku mandi dan ganti baju. Aku pun sholat dan langsung mengaji.Seperti nasehat ibuku. Lega rasanya setelah aku jalankan semua nasehat ibuku,walau ada sajayang menertawakan aku mengaji karena dianggap takutnya sama ibu.  Walau menurutku ibuku adamaksud tertentu menyuruhku setiap malam mengaji. Bisa untukmenjaga diri,juga menjadi ingat terus kepada Allah.

Malam ini, tak ada lagi suara gitar anak lelaki yang sambil bakar singkong di depan rumah. Kejadian aku yang hampir tenggelam membuat mereka seperti kembali pada tugas jaga-jaga mereka. Suasana malam yang sepi. Namun jam sepuluh malam,ketika semua telah terlelap tidur. Kami kembali dikejutkan.
Mira,mencakar-cakar wajahnya. Rambutnya kusut berantakan. Matanya  melotot dan bibirnya sedikit berdarah seperti digigit sendiri olehnya. Kami panik dan saling berpelukan dipojokan kamar.  Setelah Liyan berlari keluar dan membangunkan ibu bapaknya juga para pria. Tak kalah lagi semua pria juga yang tidur diruang tamu jadi pada merengut kebingungan. 

“Kesurupan, kesurupan.” Liyan panik.

Aku, Ilna, Adefit, Ria, Diah, Trully, dan Aina, berpelukan. Aku pun baca-baca ayat kursi, al-ikhlas, berulang-ulang. Diikuti teman-temanku yang lainnya. Uminya Liyan memeluk Mira yang terus mencakar-cakar wajahnya.  Sambil berdoa juga. Bapak Mira memanggil ustadz dan yang teman pria kami hanya berpelukan seperti teletubbies saja. 

“Ahhhh....hihihihi....hihihihi.”Mira tertawa menyeramkan.

Aku dan teman-teman wanita semua menangis. Benar-benar ingin pulang. Seingatku, kata guru ngajiku kesurupan itu tidak ada. Tetapi kenapa Mira melakukan seperti itu,sampai berdarah-darah pula. 

Istri PakUstad datang dan membawa Mira dikamar, bersama Liyan dan umminya.” 

Tepat jam dua belas malam,tidak ada jua yang keluar dari kamar. Akukhawatir dengan Mira.  Bapak Liyan datang membawa teh hangat dan rebus singkong agar suasana tidak begitu mencekam. Aku dan teman-teman kehilangan selera,masih memikirkan Mira. 

Akhirnya Liyan keluar juga dari kamar, disusul uminya. Mira dan istri PakUstad masih didalam kamar. Liyan hanya tersenyum melihat wajah-wajah kami yang begitu tegang. Liyan pun meminta kami yang diruangan untuk melupakan kejadian kesurupan ini. 

“Bagaimana bisa harus melupakan tiba-tiba. Memang Mira kenapa?”

Liyan pun menjelaskan, “Mira pikirannya sedang tidak menentu. Ditambah sejak awal Mira tidak terlihat sholat, dan dzikir pun tidak. Mira begitu kosong,hingga jiwanya hampa dan tak terkuasai. Besok Mira akan pulang. Kalian juga malam ini istirahat yang cukup. Besok pagi saja berkemas dan benar-benar jangan bertanya hal apapun kepada Mira. Lupakan kejadiian ini.”

Aku dan teman lainnya mengangguk setuju. Hal pertama kali yang pernah aku lihat begitu juga sahabat-sahabatku. Melupakan begitu saja tentu tidak bisa,apalagi kejadian didepan mata. Tapi demi kebaikan keadaan sahabatku, semua menyimpannya dalam diam. 


Pagi  yang cerah kami semua kembali pulang. Membawa oleh-oleh khas Cianteun yaitu teh harum Cianteun. Ibuku pasti menyukainya, dan aku ingin segera memeluknya. Drama Cianteun yang menjadi pengalaman dimasa putih abu yang tak terlupakan.





Keterangan :
Boting Bomat : Bodo teuing bodo amat (tidak peduli)
Nama-nama sahabat sudah disamarkan.

13 comments

Waah nostalgianya ya asyik banget deh aku malu mau nulis hihihi

Reply

Kalo melanggar pesan ortu emang suka gitu, merasa bersalah ya mbak, hihihi.. jadi ingat masa SMA ^^

Reply

Wah, masa SMA yang tak terlupakan, ya? ^^

Reply

cerita tentang masa putih abu memang sangatlah sulit untuk dilupakan, jati diri betul sedang di cari oleh semuanya kala itu jadinya seru menyeru kalau udah ber acara teh ya

Reply

Hihihihi ini miss deadline nulisnya mba naqy.Terima kasih sudah berkunjung ya.

Reply

Iya mba Hidayah. Kata-kata Ortu itu seperti doa.Makanya kalau kata-kata baik orangtua lebih baik dijalankan saja,nanti celaka menyesal. Terima kasih sudah berkunjung.

Reply

Iya kak Nisa, benar-benar seru dan pengalaman yang menyenangkan sekaligus perenungan.

Reply

Benar Pak. Salam kenal dan terima kasih sudah berkunjung ya.

Reply

Wah.. ceritanya seru sekaligus mengharukan

makasih banyak Mba.. ^^

Reply

Mbak naaa, seru banget ceritanya, aku ampe merinding disko pas bagian itu :S

Reply

Mbak naaa, seru banget ceritanya, aku ampe merinding disko pas bagian itu :S

Reply

sama-sama mba :)

Reply