Menu
/
Di hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke- 70 ini sama seperti tahun-tahun lalu. Pesta rakyat yang meriah dengan aneka lomba dan juga 
ciri khas yang tidak pernah terlewat. Mulai dari balap karung, lomba makan kerupuk sampai lomba panjat pinang. 



Di hari kemerdekaan ini, group FLP Sedunia di whatsapp sudah beberapa anggotanya yang saling kirim puisi. Sehingga mendorong saya untuk turut serta membuat puisi juga. 


Walaupun masih belajar, tetapi selalu semangat dalam berkarya. Maka terimalah puisi persembahan dari saya, perempuan biasa sekaligus ibu dua anak. 

Ulang Tahun Bumi Pertiwi
Oleh : Ernawati Lilys

Wajah lembut itu tersenyum bahagia/
Ada bangga didada yang membuatnya meneteskan airmata/
Pada pancaran matanya ada dua makna yang tersimpan dalam jeda/
Seperti ada sisa duka dalam tawa/

Jeda itu semakin menganga/
Membuat ruang bernama luka/
Perih tak ada yang rasa/
Hanya Pertiwi yang punya/

Gemerlap pesta rakyat yang menjelma/
Tidak bisa menutup luka/
Apalagi menghapus airmata duka/
Pertiwi pun diam tanpa kata/

Zambrut yang terenggut paksa/
Hijau yang tercabut rata/
Merah yang disulap jadi gedung tinggi menjulang ke cakrawala/
Putih air yang ternodai limbah-limbah murka/

Pertiwi tidak lagi bisa bernafas lega/
Saat buminya sudah dikuasai nafsu penguasa/
Apa yang bisa diwariskan untuk anak cucunya/
Jika semua sudah tergadai, terjual, bahkan gunungan hutang yang ada/

Selamat Ulang Tahun Pertiwi Nusantara/
Hanya menjadi kalimat biasa tanpa rasa cinta/
Tidak ada bukti perubahan nyata/
Hingga akhirnya pertiwi tenggelam dalam samudera duka.


Bogor, 
17-08-2015

1 comments:

hohoho..
aku udah baca ini di grup ya, Teh?

cincai lah puisinya <3

Reply