Menu
/

Langit begitu cerah dan ombak pantai begitu tenang, tetapi suasana di dalam terumbu karang begitu riuh  dengan suara tiga sekawan. Ada Kankan si ikan lumba-lumba biru yang mondar-mandir penuh keresahan, Binbin si bintang laut pink yang khawatir dengan sahabatnya Kankan dan Gugu si gurita merah dengan bijak memberi solusi. Kankan ribut sekali di dalam terumbu karang milik Binbin, ada misi perjalanan yang harus Kankan jalankan, jika tidak maka Kankan akan dapat julukan seumur hidupnya dari Paul.
“Itu kan jauh dan sangat berbahaya.” teriak Binbin
“Aku harus kesana, agar aku ini tidak diejek lagi. Seperti yang Paul lakukan.”  jelas Kankan pada Binbin dan Gugu.
“Menurutku, izin dahulu kepada orang tua, agar kita dapat nasehat terbaik. Atau jangan hiraukan ejekan Paul si Paus yang makannya rakus.” Gugu dengan bijak menjelaskan.
“Setuju…” lanjut Binbin.
“Kalau kalian tidak ikut juga tidak apa-apa, aku sendiri akan pergi kesana.”
Kankan pergi meninggalkan dua sahabatnya itu. Padahal Gugu dan Binbin masih ingin mendiskusikan dan mencari jalan keluar, kalaupun harus pergi Gugu dan Binbin siap. Sebagai sahabat dari kecil, pertemanan ini bagi Gugu lebih dari teman, Kankan dan Binbin adalah saudara yang selalu menemani hari-hari Gugu.
Gugu mengejar Kankan keluar terumbu karang ternyata sudah tidak terlihat, tinggalah Binbin yang bingung merasa telah membuat sedih Kankan.
Gugu pulang ke rumah untuk meminta izin pada Mom Tata, Ibu Gugu yang sangat mencintai Gugu dan sahabat-sahabatnya. Tibalah Gugu di rumahnya. Mom Tata memakaikan baju hangat yang dibuat sendiri oleh Ibu Gugu. Gugu sangat senang karena Ibu Gugu mengizinkan Gugu membantu Kankan. Gugu memeluk ibunya dan bergegas pergi. Di tengah perjalanan terdengar suara Binbin memanggil.  
“Gu… gu… “ suara Binbin dari jauh.
Gugu langsung berputar arah, dan menghampiri sumber suara yang dikenalnya itu.
“Ada apa Binbin?”
Wajah Binbin pucat, membuat Gugu khawatir. Gugu pun mengajak Binbin untuk istirahat di rumahnya. Binbin menarik Gugu, Gugu bingung sekali dengan tindakan Binbin. Mereka berdua berenang menerobos rumput laut, terumbu karang, dan terus berenang. Tiba-tiba Binbin menangis dan menunjuk arah laut dangkal milik kawasan binatang laut yang liar.
“Di sana… Di sana… ada Kankan seorang diri memasuki kawasan itu”
Gugu kaget, keberanian Kankan memasuki kawasan Laut dangkal memang hebat, namun sungguh membahayakan. Gugu memikirkan cara bagaimana mengeluarkan Kankan dari Laut dangkal yang terkenal dengan kawasan berbahaya.
Kankan disambut dengan sekumpulan ikan badut. Kankan dipaksa ke sebuah tempat dimana semua terumbu karang penuh dengan kaca-kaca. Siapun yang masuk ke terumbu karang tersebut maka akan tersesat. Kankan tidak ingin memasuki terumbu karang tersebut, namun ikan badut mendorongnya terus. Sepanjang perjalanannya yang hanya terlihat kaca dan kaca lagi, Kankan benar-benar tersesat. Di luar, ikan badut menertakawan Kankan, mereka bangga dengan perbuatan yang tidak baik itu dan melapor kepada tuan Paul.
Kankan terkurung, sekarang ia merasa sangat sedih, karena tidak bisa keluar, berteriakpun tak akan ada yang dengar. Kankan rindu keluarganya, pasti mereka tidak tahu karena Kankan pergi tanpa izin orang tua. Kankan kembali ingat semua nasihat Gugu,  sahabatnya yang baik dan bijak. Kankan pun merasa bersalah karena emosinya Kankan meninggalkan sahabat-sahabatnya yang menyayanginya.
Gugu dan Binbin memasuki kawasan Laut dangkal. Di gerbang sudah disambut sekelompok ikan badut. Ikan badut memaksa Gugu masuk ke terumbu karang kaca, tempat dimana Kankan terkurung. Namun Gugu meminta kelompok ikan Badut mengantarkannya kepada Paul. Setelah bertemu Paul, Gugu mengajak usaha perdamaian. Semoga kawasan laut dalam tidak lagi menjadi pelarian binatang terbuang dan tidak menjadi gerombolan penjahat.
Paul sangat marah, atas saran Gugu. Namun tawaran persahabatan yang diucapkan Gugu, membuat hati Paul mau menerima. Memang selama ini mereka hidup dengan menyendiri, dan menjauh dari kelompok hewan laut lainnya. Sebagian dari mereka menjadi penjahat untuk mengganggu binatang laut yang lemah.
“Jika engkau mau jadi sahabatku apa buktinya” Paul menggertak.
“Aku hanya punya baju buatan ibuku, di jahit penuh cinta, jika kau mau aku akan memberikannya…”
“Baju kesayangan, kenapa kamu ingin memberikan untukku” Tanya Paul heran.
Paul menjelaskan bahwa baju yang dirajut sendiri oleh tangan ibunya  setiap sulaman ada cinta yang mengalir, Ibu memberikannya padaku agar aku bisa menjadi sosok penyayang pada orang tua, pada sahabat, dan juga sesama. Jadi setiap memakai baju ini aku selalu berdoa semoga aku menjadi anak yang patuh  dan teman yang baik.
Gugu memakaikan baju kesayangannya pada Paul sebagai bukti persahabatan yang tulus. Paul pun baru pertama kali merasakan punya sahabat, yang mau berbagi dan berkorban untuknya. Paul pun berjanji tidak akan melakukan perbuatan jelek lagi. Semua dijadikan teman tanpa membeda-bedakan.
Paul membebaskan Kankan yang masih ada diterumbu karang. Kankan terkejut melihat Paul memakai kaos bergambar Gugu ada padanya. Kankan merasa bersalah berpikir bahwa Gugu telah dimakan Paus yang rakus akibat keegoisannya. Kankan menangis dihadapan Paul. Tiba-tiba Binbin dan Gugu datang menghampiri. Semua ternyata hanya khayalan pikiran Kankan saja. Akhirnya mereka berempat berpelukan. Kankan dan Paul saling meminta maaf, dan menyesali perbuatannya.
Ibu Gugu, Mom Tata membawa penduduk kota untuk membantu merapikan kawasan laut dalam agar tertata indah dan rapi sehingga tidak terlihat menyeramkan dan kotor. Setelah selesai bergotong royong, semua merayakan pesta persahabatan dan Gugu adalah lambang persahabatan di laut. Semua memakai baju yang yang ada gambar Gugu, dan berdoa agar kebersamaan, persahabatan membawa kedamaian dimanapun. Salam persahabatan!! Gugu pun menyemangati semua warga laut.