Menu
/
Dari kecil saya suka ikut membantu saudara, ua, bibi, atau tetangga yang menitipkan anaknya kepada ibu saya. Saya yang masih kecil tidak pernah bertanya kemana ibu mereka. Yang saya pahami adalah anak-anak itu akan berada seharian di rumah saya. Waktu terus berjalan hingga saya sekarang sudah menjadi ibu dari satu anak. Merasakan sendiri bagaimana suka dukanya mengasuh anak. Dan tentu disitu saya jadi banyak belajar menjadi orang tua itu tidaklah mudah, membutuhkan kesabaran hingga kekuatan alias kerja sama dengan suami.


Kenapa harus kerja sama? karena suami disinilah diuji menjadi pemimpin sesungguhnya. Jika masih suami-istri alias masih berdua itu bagaikan pacaran setelah nikah saja, hidup berdua, kemana-mana berdua, sambil merencanakan masa depan. Tibalah ketika kita sudah dianugerahkan seorang anak. Disinilah tanggung jawab suami alias ayah dan istri alias ibu dituntut untuk melaksanakan kewajibannya. 
Apa sih kewajiban ayah dan ibu, yaitu :
- Ayah (Suami) tugasnya memberi nafkah, selalu membimbing istri, dan mendidik anak
- Ibu (istri) : Mengandung, melahirkan, menyusui, serta mendidik anak, dan tetap setia mengurus rumah tangga dan melayani suami.
(Versi sederhana ala saya). 

Namun apabila keadaan tersebut tidak sejalan atau tidak seperti biasanya, misalkan ayah dan ibu bekerja. Sedangkan anak yang baru lahir dititipkan kepada nenek, ua, bibi, pengasuh/baby sister, dst.  Maka bagaimana dengan anak-anak yang sudah lahir apakah akan hilang hak nya.

Adapun alasan ibu yang baru melahirkan meninggalkan anaknya untuk bekerja adalah "MEMBANTU SUAMI" dalam artian keuangan keluarga yang tidak stabil. 
sedangkan suami ada yang mau dan rela "DIBANTU" ada pula yang "Tidak Rela DIBANTU", kenapa :
- Suami yang rela dibantu :
Kemungkinan gajinya pas-pas an bahkan kurang, usaha telah maksimal, dan tidak ada lagi peluang untuk mencari nafkah lain untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

-Suami yang tidak rela dibantu oleh istri : Masih memiliki HATI, karena sesungguhnya BUAH HATI yang baru lahirlah yang perlu dibantu, dengan tidak memisahkan anak dan ibunya itu sudah membantu bayi mencintai orang tuanya, memberikan ASI kepada anaknya itu juga membantu kecerdasan dan kesehatan anaknya. Sungguh hal yang tidak bisa digantikan dengan siapapun, dan ini menjadi tanggung jawab kepada sang buah hati dari orang tuanya. 

Pun sebaliknya dengan sang ibu (Ibu mana yang rela berpisah dengan buah hatinya), sesulit apapun ekonomi masih banyak jutaan ibu yang bisa bertahan disamping anaknya, dan karena kekuatan ibu itulah yang membuat anak-anak mereka jadi HEBAT, walaupun hidup dalam kesusahan. Bisa lihat daftar orang sukses yang dulunya hidup dibawah kemiskinan tetapi masih bisa dekat dengan orang tuanya. Dan masih banyak kasus anak-anak liar yang karena kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua.

 Bagi seorang ibu, bekerja ada pula aneka alasannya :
- Ibu yang bekerja demi membantu suami.
Tipe ibu seperti ini tidak ingin menyusahkan orang tercintanya yaitu suaminya, atau "pegal" hati menerima penghasilan suaminya yang jauh dari harapan, atau jenuh hidup kekurangan dan ingin ada tabungan atau juga uang tambahan. Akhirnya anak jadi korban keadaan. Entah dengan cara menitipkan anak ini tidak merepotkan pihak lain? atau ada yang ikhlas mengurus anak orang? atau lain sebagainya. 
Walau ada juga siy nenek (alias orang tuanya) yang bersedia dengan sukarela merawat anak kita selagi kita bekerja sampai kapanpun, klo perlu sampai mapan. 
"Apakah sama nenek dengan ibu kandung sendiri yang merawat?
Jawabannya : Ada pada si bayi. Dan bayi belum bisa bicara tentang keinginannya. Namun sudah jelas bahwa bayi akan nyaman dipelukan sang ibu. 

- Istri/sang ibu yang tidak rela bekerja 
Jika bisa memilih menjaga buah hati tercinta dengan bekerja diluar rumah pasti memilih anaknya tidak tanpa kecuali. Baik suaminya tidak ada penghasilan, tidak bekerja ataupun tiada. Ibu tipe ini akan bekerja di rumah agar baby nya tidak diasuh orang lain. Dari jualan gado-gado, gorengan, nasi uduk, atau jualan online, freelance, penterjemah, penulis dan segudang pekerjaan yang bisa yang bisa dikerjakan dirumah lainnya seperti salon atau jahit baju. 

-Tipe yang memilih bekerja dengan alasan beraneka ragam
Tipe ibu ini adalah yang memilih bekerja mengejar karier ketimbang mengurus anak, mandiin, bersihin empup, atau kena ompol anak. Memang merawat anak itu ektra waktu dan tenaga, kadang istirahatpun sulit. Berbeda dengan duduk manis di kantor pakai baju sekelas eksekutif, blezer, dll. Asi bisa diganti dengan sufor, jadi lebih simple dan bisa bebas pergi kemana saja. Bayi dirawat oleh pengasuh nanti juga besar sendiri. Dengan kariernya yang tinggi dan gaji yang besar akan sangat bisa memanjakan anak dengan mengabulkan keinginan anak, dari mulai mainan yang bagus sampai liburan yang mahal. 

Kalau begitu bisa disimpulkan :
1. Anak butuh ASI atau Susu formula?
2. Butuh Ibu atau pengasuh lain?
3. Anak atau Uang?
4. Kasih sayang atau Mainan mahal?
5. Mendidik sendiri atau panggil orang lain?
6. Menyalahkan suami atas kekurangan ekonomi atau bertahan pas2 an?
7. Anak Sholeh dan cerdas atau anak yang bebas dan liar?


Semua jawaban terserah pada HATI masing-masing. Tidak memojokkan atau lagi menghina, jauh sekali dari pikiran saya. Tulisan ini saya ketik, karena memang saya melihat keadaan dimana sang anak butuh kasih sayang orang tuanya, ketika pelukan pengasuh lain tidak senyaman ibunya. Sikap protesnya anak terlihat dengan aneka ulah yang bisa membuat bahaya dirinya, membuat kenakalan kecil serta tingkah pola lainnya yang membuat dia bisa mengeluarkan ekspresi kerinduan pada sosok orang tuanya. Saya juga sempat melirik dunia kerja kalau tidak diingatkan suami tercinta untuk peran yang sangat penting dalam menjadi ibu yang baik bagi anak. Inilah rumah tangga, bisa sejalan dengan komunikasi yang lancar, serta kepercayaan pada pasangan, bahwa bahagia itu sederhana.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Bahwa hidup sebuah pilihan.