Menu
/


Pengalaman Bekam Saat Hamil - Setiap kehamilan selalu membawa kisah cerita yang berbeda. Seperti kisah kehamilan anak ketiga saya kali ini, yang cukup lama juga melewati hari perkiraan lahir (HPL). Pastinya mendengar nada kepedulian "Kapan lahiran?" Menjadi sebuah kalimat yang menakutkan. Bahkan dokter sendiri pun tidak akan tahu pasti tepatnya ibu hamil yang periksa dengannya akan melahirkan. Walaupun sudah diperkirakan HPL nya, karena ada yang maju bahkan mundur dari HPL. 


Seperti pengalaman kehamilan anak pertama dan kedua yang juga lewat HPL nya,  namun dalam batas yang masih di toleransi oleh dokter. Kini kehamilan ketiga butuh kesabaran ekstra menanti kehadiran buah hati. Membuang jauh segala sesuatu yang membuat pikiran jadi tidak tenang. Apalagi melihat dua anak balita saya yang ikutan bertanya, "Mama kapan dedenya lahir?" cuma bisa menjawab dengan senyum ketabahan dan memeluk mereka. Walau dijelaskan pun anak-anak tak akan paham, karena masih usia 4 tahun dan 2 tahun. Bahkan orang dewasa pun kalau dijelaskan masalah HPL lewat akan banyak sudut pandang yang berbeda.

Hanya orang-orang yang bersabar dan mengerti bahwa kehidupan ini bukan atas ketetapan manusia, namun ketetapan dari Allah SWT. Memang setiap pilihan pastinya ada resiko yang harus ditanggung. Jika ditanya kapan lahiran pastinya jawabannya hanyalah kesabaran.

"Nanti ketubannya ijo, lho. Si Ibu Anu anaknya meninggal minum ketuban."
"Plasentanya sudah berkapur, si dede bayi nanti lemes di dalam."
"Sudah ceasar aja, nanti kegedean."
"Sudah ceasar aja, takut kenapa-napa."

Pastinya nada diatas semua tak ingin didengar oleh ibu hamil yang lewat HPL termasuk saya. Karena hanya menambah rasa khawatir dan bikin stress saja. waktu anak pertama saya telat HPL seminggu banyak yang bernada seperti diatas. Saya menjadi sedih, apalagi saya waktu itu baru dapat surat pensiun dini dari perusahaan (proses resign yang lama, karena bos inginnya saya cuti melahirkan saja selama 3 bulan). Baru lega sedikit, sudah tidak perlu lagi memikirkan pekerjaan. Tinggal fokus UAS semester 8 dan mengejar skripsi, serta fokus persiapan menjadi seorang ibu. Alhamdulillah, dokter kandungan tempat periksa di rumah sakit sangat mendukung lahiran normal. Karena Bu dokter tahu,  jika saya operasi ceasar maka cuti kuliah setahun. walau di detik-detik proses lahiran yang katanya sudah siap di ruang operasi ceasar, qodarullah, saya dapat melahirkan normal. Sungguh proses melahirkan yang luarbiasa dan penuh keajaiban. Seminggu pulang dari rumah sakit, saya sudah wara-wiri di Kampus, ujian susulan UAS dan mulai mengejar dosen untuk bimbingan skripsi.

Jika tidak ada dokter yang sabar dan yakin bahwa proses lahiran itu memang alami dan ada waktunya. Maka bolehlah pilih second opinion untuk pindah ke bidan. Cari bidan yang benar-benar sabar dan mendukung proses lahiran normal sebagai fitrah alami melahirkan.


Ketika saya menjadi penulis naskah goshwriter untuk tema kehamilan, dari seorang bidan yang berpengalaman selama 20 tahun, dari seorang bidan dan akhirnya memiliki rumah sakit yang sangat mendukung para ibu hamil untuk melahirkan secara normal (proses alami). Beberapa kali saya dengarkan perkatan Bu Bidan bahwa mengembalikan proses alami melahirkan untuk masuk kealam bawah sadar ibu-ibu bahwa melahirkan normal itu mudah. Selain itu juga proses penyembuhannya cepat. Berulang-ulang kali Bu Bidan menekankan bahwa proses lahiran itu alami. Bayi-bayi akan lahir pada waktunya dengan izin Sang Pencipta.

Masuk dalam pikiran saya bahwa lahiran ini adalah proses alami. Jadi ketika saya memang telah melewati HPL tepatnya lewat 2 minggu, saya hanya pasrah dan banyak-banyak berdoa bahwa dengan izin Allah SWT, bayi saya yang ketiga pun akan lahir pada waktu yang sudah ditetapkannya. Berdoa selepas sholat wajib dan sunnah, memohon doa orangtua, serta melakukan ikhtiar lainnya untuk kelahiran anak ketiga ini,  dengan cara :


  • Rutin periksakan kehamilan 
Melewati HPL memang setiap periksa terkadang banyak petugas atau tenaga medis yang gemes-gemes gitu sama ibu hamil yang lewat HPL, dibilang kurang banyak gerak'lah jadi ga lahiran-lahiran,dll. Ada juga yang to the point bilang sudah ceasar saja dari pada kenapa-kenapa.

Yang penting dalam periksa kehamilan adalah :

  1. bayi bergerak aktif, 
  2. jantung sehat, 
  3. ketuban cukup, 
  4. plasenta bagus 
  5. Berat bayi ideal
  6. ibu bayi tenang tidak dalam kondisi stress. Kondisi ibu hamil semua baik-baik. 

  • Asupan Gizi 
Melewati HPL memang menjadikan hari seakan terasa lambat. Menanti dengan cemas bahkan bisa membuat seorang ibu hamil yang tadinya bahagia akan menyambut buah hatinya menjadi down karena bayi tak kunjung lahir. Sehingga berpengaruh dalam hal nafsu makan. Bisa menjadi kurang berselera. Ketakutan bayi besar di dalam serta hal lainnya yang membuat ibu hamil menjadi tidak nafsu makan. Jika kondisi ibu hamil kurang gizi tentu akan berpengaruh pada janin di dalam. Sehingga asupan gizi ibu hamil harus diperhatikan.

  • Istirahat yang cukup
Banyak pikiran dan kurang nafsu makan menjadi faktor ibu hamil tidak bisa istirahat dengan tenang. Tidur yang tidak nyenyak akan membuat kesehatan ibu hamil terganggu. Untuk itu dukungan keluarga pun sangat dibutuhkan agar melewati HPL yang harap-harap cemas ini banyak support dari orang-orang terdekat.

  • Olahraga yang teratur
Banyak yang bilang kalau ibu hamil yang lewat HPL lama itu kurang gerak, malas gerak. Walaupun hal itu tidak dibenarkan ya. Sebaiknya sebarkan aura positif untuk para ibu hamil. Saya sendiri termasuk yang aktivitasnya padat. Hamil anak pertama kerja dan kuliah. Kerja saja saya berapa kali melewati ruangan per divisi yang panjang-panjang. Belum kalau meeting atau check trial produck, bisa naik turun tangga. Belum lagi saat kuliah. Sholat di lantai 4, naik tangga ke lantai 4, selain itu kadang dapat kelas juga di lantai 4, walau sampai kelas muka sudah merah dan napas sudah terengah-engah. Kurang gerak apalagi? Minggu saya aktif juga di organisasi kepenulisan. Lahiran, lewat HPL. 

Begitu juga anak ketiga, antar anak sekolah, mengurus pekerjaan domestik sendirian (dari nyuci, ngepel, masak, bersihin rumput halaman, nyapu halaman sampai jalanan), belum kalau lagi liputan jadi buzzer kan lumayan juga ke lokasi, belum lagi sesi foto-foto kadang banyak jalan yang dilewati. Kegiatan kepenulisan juga biasanya jauh, lokasi yang dituju. Apalagi saya rutin jalan pagi yang cukup jauh, sampai kepala bayi berasa sekali kebawah. Suami saya saja pernah ikut rute jalan pagi saya dia berkata sangat jauh. Memang kontraksi selalu dirasakan tetapi timbul hilang-timbul hilang. 

Olahraga dengan pasangan (ini yang disarankan dokter/bidan) pun sering dilakukan. Ibaratnya kalau menjelang HPL banyak-banyak deh suami nengokin agar cepat lahiran juga. :)

  • Bekam
Semua ikhtiar diatas sudah dilakukan dari periksa kehamilan secara rutin, asupan gizi, istirahat yang cukup dan rajin berolahraga. Namun semua tak kunjung juga ada pembukaan. Maka bisa pilih ikhtiar lainnya yaitu Bekam.

Bekam sendiri sudah ada sejak lama, berawal dari Timur Tengah, Mesir dan china. Bekam atau dalam bahasa Arab yaitu Al Hijamah merupakan salah satu metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia. Bekam dipercaya juga untuk mengeluarkan zat berbahaya, sebagai proses penyembuhan dan juga mengurangi rasa sakit. Mengobati peradangan di seluruh tubuh serta membuat tubuh fit kembali dan pikiran relaks. (sumber : wikipedia dan alodokter).  

Memang di kehamilan pertama dan kedua saya tidak pernah pakai cara bekam ini. Saya juga belum pernah bekam sama sekali, bahkan donor darahpun tidak pernah. Bukan pelit sama darah, saya yang sejak sekolah selalu menjadi petugas donor karena ekskul yang saya ikuti yaitu Palang Merah Remaja (PMR) pastinya sering dilibatkan kegiatan sosial ini. Sayang, berat badan saya yang tak idela, tensi yang tidak bagus juga, serta anemia yang melekat. Membuat saya tak pernah lolos jadi pendonor darah yang dicari.

Untuk kehamilan ketiga ini saya melakukan bekam. Ketika saya datang periksa ke Bidan Fitri di perumahan Graha Asri Residence. Ketika itu saya adalah ibu hamil yang lewat HPL seminggu. Memang saya mencari bidan yang sabar menemani saya periksa kehamilan dan sabar pula menanti sang buah hati lahir. Jangan selalu sodorkan kata operasi. Saya masih yakin insyaAllah semua proses lahiran itu alami.

Bu bidan Fitri ini sungguh sabar (bu bidannya sebenarnya masih muda, tetapi saya panggil ibu saja). Saya begitu nyaman saat periksa dengan Bu bidan Fitri. Selalu menenangkan dikala suara sumbang selalu menyerbu pikiran saya. Saat ditawarkan bekam untuk titik kontraksi saya langsung mengiyakan. Memang kehamilan ketiga ini kontraksi saya hilang pergi terus. Tidak naik dengan terjadinya pembukaan jalan lahir, ikhtiar dengan cara berbekam pun akhirnya saya lakukan.

Sebagai ibu hamil yang lewat HPL, serta memiliki dua anak yang aktif sekali dengan usia 4 tahun dan 2 tahun. Saya memang sedang lelah-lelahnya menjadi seorang ibu. Badan saya sering terasa pegal-pegal, tidur malam kurang karena anak kedua sering tantrum di malam hari. Kakaknya pun tak kalah manjanya jika saya sedang menggendong adiknya, pasti ikutan cemburu dan rebutan minta di gendong atau dipeluk.

Ketika bekam tubuh sedang lelah tidak karuan, kurang tidur dan juga pandangan mata berkunang-kunang seperti masuk angin. Kepala juga terasa berat karena banyak pikiran, memikirkan kapan lahiran, si Kakak yang ikutan libur sekolah menunggu mamanya lahiran dahulu, dan faktor lainnya.

Bu Bidan Fitri melakukan bekam ditiga titik kontraksi, yang saya ingat adalah satu titik di punggung dan dua titik dekat pinggul.

Kira-kira gambarannya seperti ini


Setelah bekam selesai, badan terasa ringan sekali. Pandangan mata jelas dan kepala juga tidak sakit. Badan terasa fit kembali. Alhamdulillah juga, kontraksi semakin sering, walau belum juga rutin dan naik pada pembukaan.

Sambil menungu lahiran tak lupa saya pun merapalkan doa agar dimudahkan lahiran ini. Agar saya dapat mengurus ketiga anak saya di tanah rantau. Jauh dari keluarga dan mengurus ketiga anak-anak sendirian, serta menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Serta pekerjaan lain saya sebagai penulis, blogger dan juga mentor menulis online maupun offline. Masih banyak hal yang harus saya kerjakan dan juga dakwah lewat tulisan. Dalam sepertiga malam sholat tahajud selalu berdoa mohon dimudahkan lahiran anak ketiga ini,begitu juga ketika sholat qobliah subuh doa yang sama selalu saya panjatkan. Serta merapal doa ini :



Robbi Yassir, Walaa tu'assyir
Fainna Taisir, kulli 'asiir, 'alaika yasiir. 
Allahumma tammim Bil khoir.
Birohmatika yaa arrhamar Rohiimin.


Alhamdulillah, pada pertengahan bulan Maret lalu saya melahirkan normal di tempat bu Bidan Fitri. Ba'da sholat magrib saya sedang ngemil kurma dengan anak kedua saya yang berusia 2 tahun dan minum sesendok minyak kelapa yang dibuat sendiri atau minyak kleutik. Jam 10 malam saya sudah mulai mulas teratur. Suami sedang di depan laptop masih mengerjakan pemograman alat counter. Saya pun ikut menyalakan laptop dengan mengerjakan beberapa kerjaan saya dengan klien sebuah brand untuk produk anak. Jam 12 malam sudah mulai sering kontraksinya. Suami bertanya kepada saya, mau langsung dibawa ke Bidan atau nanti saja. Saya malah meminta suami istirahat dahulu, karena sudah jam dua belas malam belum tidur. Jadi ketika suami tertidur dekat anak-anak, saya sendirian bolak balik menahan mulas. Jam 1 pagi sudah mulai semakin sering, saya ajak sholat tahajud, agar bayi sedikit tenang. Menunggu waktu subuh ketika suami sudah bangun sholat subuh atau ke Bu bidan pun tak terganggu di jam istirahatnya. Namun, karena nggak tega lihat istrinya menahan kontraksi akhirnya dibawa ke bidan. Sampai di rumah bu bidan langsung diperiksa bukaan dan diberi dua sendok minyak zaitun. Alhamdulillah, ba'da sholat subuh tak beberapa lama dapat lahiran anak ketiga. 

Setiap kontraksi saya baca doa diatas, bu Bidan pun membaca doa sambil memegang perut saya. Sangat menenangkan, ditambah alunan murotal yang menemani selama proses persalinan berdua. Ya, berdua saja dengan Bu Bidan. Biasanya anak pertama dan kedua suami selalu menemani, sekarang sibuk mengasuh anak-anak yang menangis di rumah. 

Alhamdulillah pengalaman yang tak dapat dilupakan, setiap kehadiran buah hati selalu ada cerita yang terkenang. Maha Besar Allah Yang Maha Kuasa dan Penolong hamba-hambanya yang berpasrah kepadaNya. Terima kasih pula untuk kesabaran dan kebaikan hati Bu Bidan Fitri, semoga kebaikannya Allah SWT yang membalas. 


Just Info :

INFO THIBBUN NABAWI


💠 WAKTU TERBAIK UNTUK BERBEKAM 💠

*Hari Terbaik untuk berBEKAM adalah 17, 19 dan 21 bulan Hijriah. 
( HR. Abu Hurairah )

*Gaya GRAVITASI BULAN sedang Kuat-kuatnya terhadap BUMI TERUTAMA di tanggal-tanggal GANJILnya sehingga kondisi Darah menjadi Bergejolak dan berada di Permukaan, jadi saat Manusia berBEKAM di waktu ini akan Maksimal dan Efektif untuk mengeluarkan Darah Statis, Darah Kotor, Racun-racun dalam darah dan Sumbatan-sumbatan Darah.

*Diperintahkan melakukan bekam pada pertengahan bulan, ketika cairan-cairan tubuh bergolak keras dan mencapai puncak penambahannya karena Gaya Gravitasi Bulan yang sangat Kuat, saat pertengahan Bulan”

*Imam asy-Syuyuthi menukil pendapat Ibnu Umar, bahwa berbekam dalam keadaan perut kosong itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan.  

*Maka disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-4 jam sebelumnya.

*Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, bersabda: 
“Barangsiapa berbekam pada hari ke-17, 19 dan 21 (bulan Hijriyah), maka ia akan sembuh dari segala macam penyakit.” 
(Shahih Sunan Abu Dawud, II/732, karya Imam al-Albani)


Sunnah Bekam pada Bulan ini jatuh pada tanggal:

❤ Minggu, 14 Mei 2017 
❤ Selasa, 16 Mei 2017 
❤ Kamis, 18 Mei 2017 


Turut berbagi Info Sehat Kita :
Yang mau berbekam silahkan bisa datang ke Bidan Fitri
Melayani : Bekam Wanita (Bidan Fitri) dan Pria (Abu Alifa)
Alamat : Perum Graha Asri Residence Blok D8/10



Salam Inspirasi




19 comments

Wah luar biasa mba.
Tks sharingnya ya

Reply

sama-sama Mba Nurul

Reply

Perkataan orang2 itu yg sering bikin bumil tdk tenang ya Mbak. Padahal kan si ibu butuh ketenangan.

Reply

Emang enak setelah bekam itu badan jadi ringan aku pas hamil juga pakai bekam di pundak.

Reply

Masya Allah kegiatannya, Mba. Jadi pegawai, kuliah juga, dan jadi ibu mau ketiga anak. Setelah resign jadi pegawai mungkin agak berkurang kegiatan di luar rumah ya, Mba. Insya Allah dede dan kakak2nya sehat2 terus ya.

Reply

Aku baru sekali bekam belum lama ini. Rasanya badan jadi enteng dan lebih fresh ya mba Erna.. :)

Reply

iya mba, malah lebih banyak bikin down banget. Harus banyak sabar.

Reply

Wah, sama ya mba Naqy juga pernah bekam saat hamil. Iya mba jadi enak sekali badan dan pikiran jadi relaks juga

Reply

Itu pas anak pertama mba, kerja dan kuliah. Anak pertama lahir sudah resign.
sekarang anak ketiga kerja di rumah saja mba, by online kerjanya.

Reply

huum Mba, ini juga pengen bekam lagi. Biar fresh cuma nunggu Pak suami yang lagi sibuk.

Reply

Duuuh dari dulu penasaran pengen bekam, abis baca ini jadi makin penasaran lagiii.. Eheheee. Makasi banyak infonya ya maaaak

Reply

Saya pernah lihat orang di bekam
saya melihat sendiri bagaimana ada darah yang encer dan ada darah yang mengental dan membentuk semacam residu atau ampas, yang dipercaya sebagai "darah kotor" atau racun yang harus dibuang

namun sampai saat ini saya masih belum berani di bekam. Takut lihat melendung-melendung darahnya ... (om-om cemen)

Salam saya

Reply

Mbak erna lagi hamil jg ya... wah... lancar jaya ya proses persalinannya. smoga ibu dan bayi sehat

Reply

nice artikel,thank for sharing

Reply

hihihi iya om,saya juga pertama kali bekam. :)

Reply

Alhamdulillah sudah lahiran mba Nunu. :) terima kasih doanya

Reply

Duh saya belum pernah bekam nih mba apalagibpas hamil kemarin hehhe btw tfs ya semoga sehat selaluuu

Reply

Aku sampe sekarang gak berani dibekam, ngeri ngeliat darah soalnya

Reply