Menu
/
Terlahir menjadi seorang anak perempuan yang tak pernah jauh-jauh dari area rumah, membuat saya sering dipanggil si anak rumahan oleh sahabat-sahabat saya semasa kecil. Pulang sekolah saya pasti langsung pulang ke rumah lalu belajar di kamar saya hingga semua pekerjaan sekolah selesai. Ikut pengajian Ba'da Magrib pun masih di rumah sendiri karena memang guru ngajinya mengontrak di samping rumah. Jarang keluar rumah membuat sosok saya tak begitu akrab dengan teman-teman di sekitar rumah, ditambah dengan kepribadian saya seorang introvert yang sulit berkomunikasi dengan orang sekitar bahkan keluarga sendiri. Saya lebih senang menulis semua yang saya alami dan inginkan di buku catatan harian.


Si pendiam sejati, begitulah kakak-kakak saya menjuluki saya. Menjadi bagian 5 bersaudara, yang membuat rumah tak pernah sepi dari sekedar canda tawa serta tangis rebutan mainan bersama saudara-saudara saya. Saya sendiri anak ke empat dari lima bersaudara. Kakak pertama adalah laki-laki yang hobi main bola, kakak kedua dan ketiga adalah kakak perempuan yang hobi main boneka dan masak-masakan, dan si bungsu yang masih balita lebih dekat dipangkuan ibu saya. Jarak yang superdekat kurang dari dua tahun, memang sering membuat saudara satu dan lainnya bertengkar meributkan mainan, padahal mainan yang dibelikan bapak sangat banyak.  Saya lebih memilih mengurung diri di kamar dan membaca buku daripada ikut bermain boneka bersama dua kakak perempuan saya, apalagi bermain dengan teman-teman sebaya saya di luar rumah.

Sejak kakak laki-laki saya lulus SD dan masuk ke pondok pesantren yang jauh dari kota Bogor yaitu di pondok pesantren Kananga, Banten. Namun, dua kakak perempuan saya tetap melanjutkan ke sekolah di area yang tak jauh dari rumah. Saya sendiri ada keinginan untuk sekolah yang jauh juga dari rumah. Keinginan ini bukan untuk mengekor kakak pertama saya, tetapi lebih pada niat sendiri untuk merasakan hidup merantau. Walau hal itu sangat sulit bagi anak perempuan seperti saya yang terdidik sebagai anak rumahan. Benar saja keputusan itu ditolak oleh ibu saya, karena anak gadis tak boleh jauh-jauh melangkah. Tak diizinkan merantau, saya akhirnya membuka kursus pelajaran sekolah dan belajar baca tulis gratis di rumah saya. Hal ini untuk mengisi rutinitas saya yang hanya sekolah, mengerjakan PR, mengaji, sekarang ada kegiatan mengajar les dengan anak-anak kecil di sekitar tempat tinggal saya.

Memang bukan suatu kebetulan jiwa merantau saya ini tumbuh, sebagian besar mengalir dari bapak saya yang kebetulan perantauan dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Bapak yang suku Minang menikah dengan ibu saya yang bersuku Sunda. Ibu saya sendiri anak tunggal, yang dididik menjadi anak rumahan. Jadi walaupun menikah dengan orang perantauan, tak sekalipun ibu saya pernah ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Selalu keluarga bapak yang datang berkunjung ke Bogor. Hal ini disebabkan nenek yang tak pernah mengizinkan ibu pergi jauh-jauh. Hingga ibu saya pun menerapkan sama pada semua anaknya.

Ketika kakak pertama saya yang lulus pesantren kemudian pergi ke Bukit Tinggi pun, ibu selalu memberi nasehat, lekas pulang dan kembali menetap dekat ibu. Sehingga hampir ke empat anak ibu saya, saat ini rumahnya berdekatan dengan ibu. Bahkan di samping rumah kakak saya sudah ada petakan tanah untuk saya jika kelak saya ingin menetap dekat dengan keluarga.

foto keluarga besar

Merantau Sebuah Awal Keluar dari Zona Nyaman


Selepas SMA saya keluar dari label anak rumahan, pergi merantau ke Kota Patriot, Bekasi. Bukan perkara mudah, ibu saya awalnya tak mengizinkan anak perempuan merantau apalagi untuk bekerja sambil kuliah dengan biaya sendiri. Banyak kekhawatiran yang merasuki pikiran ibu saya, hingga di detik-detik saya berangkat, ibu saya jatuh sakit.

Saya hanya bisa memastikan bahwa akan menjaga diri baik-baik, dan fokus mengejar cita-cita saya. Ibu saya mulai luluh dengan niat hati saya yang tulus dan penuh tekad, namun nenek saya datang kembali membawa riak gelombang dengan mengatakan bahwa lebih baik menikah saja tak perlu merantau apalagi kuliah yang menurut nenek saya, pendidikan tinggi bagi wanita tak ada artinya apabila kelak jadi ibu rumah tangga. Sederet nama asing pun disebutkan untuk melanjutkan perjodohan yang tak diinginkan ini. Seperti tradisi wanita disini yang sudah terbiasa menikah di usia muda.

Saya merenung, langkah begitu berat tanpa restu bagi saya yang hendak pergi merantau. Namun, menyetujui semua dan menutup mimpi dan cita-cita saya juga bukan sebuah jalan keluar yang ingin saya pilih. Rapat keluarga pun dilalui, pro kontra merantau memang membuat sebagian anggota keluarga menjadi pecah dua suara. Alhamdulillah, di detik terakhir masih ada kata restu dari ibu saya.


Bermodal restu, saya pun melangkah tak mau menyianyiakan kesempatan ini. Menjadi anak kost adalah pelajaran pertama bagi saya untuk hidup mandiri. Membawa uang seadanya, dan pakaian secukupnya tak menyurutkan semangat saya dalam menjemput impian. Gaji pertama saya pun tak lupa saya berikan sebagian kepada ibu saya, kemudian saya bagi untuk biaya hidup ngekost dan menabung untuk kuliah.

Berteman sepi di perantauan, saya yang masih sulit berkomunikasi dengan orang sekitar, membuat diri ini tak banyak memiliki teman. Hanya teman satu kost-an itu pun tak semuanya akrab dengan saya. Seperti biasa di kost an pun saya dapat julukan si "Putri Malu" karena sering banyak menghabiskan waktu di kamar. Sehingga dianggap tak pandai bergaul dan akhirnya dapat amanah menjadi Bendahara kost selama beberapa tahun. Dari mulai mengkolektif bayaran kost an, menjadi bendahara kost yang mencatat iuaran anak kost perbulan untuk membeli gas, sabun cuci, pembersih kamar mandi, dll.

Duka hidup di tanah rantau juga pernah saya alami, bagaimana sedihnya tatkala sakit dan hanya dapat berbaring seharian di kamar kost-an, pernah menangis ketika naik kendaraan umum dan ternyata jalannya muter-muter lalu diturunkan di tengah jalan kemudian saya tak tahu jalan pulang. Kehabisan uang bulanan dan bertahan sampai menunggu gajian, biaya kuliah yang membengkak dan juga keperluan mendesak di kost dan tempat kerja.


Satu Persatu Mimpi Itu Terwujud


Menjadi pekerja yang selalu mengerjakan pekerjaan dengan sempurna, tak banyak bicara dan selalu sesuai deadline yang diberikan atasan, membuat saya dipercayai atasan untuk menjadi pegawai tetap di usia yang cukup muda. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan, selanjutnya melanjutkan untuk memasuki bangku perkuliahan, sesuai dengan rencana awal saya ketika ingin merantau. Tangga karier yang melaju dan perkuliahan yang lancar membuat saya berada di titik kesempurnaan dalam hidup masa remaja.

Setiap hari saya berangkat pagi untuk pergi bekerja di daerah Cikarang. Serta pulang dari jam kerja saya langsung menuju Bekasi Timur dimana saya kuliah di sebuah kampus swasta. Pulang pun masih penuh perjuangan harus kembali ke kostan saya di Bekasi Barat. Jadi setiap hari rute saya dari Bekasi Barat-Cikarang-Bekasi Timur. Menghabiskan waktu perjalanan dengan membaca, menulis dan merenung, saya menjejaki bahwa hidup saya ini begitu biasa saja, masih dalam zona nyaman sendiri. Semua yang saya kejar hanya untuk diri sendiri, "Memang inikah yang dicari bagi si introvert sejati?", dimana hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri, tanpa bisa berbagi.



Menetas di Komunitas



Masih ingat dengan si anak rumahan, si putri malu, si pendiam sejati, dan sebutan lainnya yang disematkan untuk saya, ternyata memang benar-benar melekat pada keseharian saya. Saya bermodal nekad ingin mendaftarkan diri disebuah komunitas kepenulisan terbesar di Indonesia. Melalui pelatihan offline selama 9 bulan saya melewati masa karantina peserta baru dan berhasil di inaugurasi dari angkatan pramuda menjadi muda. Menjadi anggota komunitas membuat saya memiliki kegiatan lain yang tidak untuk diri sendiri.


Bongkahan rasa tak percaya diri satu persatu terkikis oleh semangat dari teman-teman komunitas yang saya ikuti. Yang tadinya hanya menuliskan sebuah bait-bait puisi kemudian di dorong maju untuk ke depan, membacakan sebuah puisi. Yang tadinya hanya menyulam kalimat per kalimat hingga menjadi sebuah karya cerpen, artikel dan akhirnya maju menjadi pembicara saat launching buku. Bukan hanya itu disini juga dipupuk kerja sama untuk bermain drama, sebuah adegan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Jika menulis saja saya begitu percaya diri dibalik layar saat buku terbit saya diajarkan promo karya bukan untuk pamer dan membuat diri jadi terkenal namun bagaimana syiar buku yang telah terbit bisa sampai ke pembaca, akhirnya saya pun berani mengudara di radio Dakta. Bukan sekali dua kali on air bedah buku yang telah terbit.

Di komunitas saya mengikuti event-event berbagi, bersentuhan dengan mereka yang hidup di jalanan. Mulai dari acara ta'jil on the road dengan membagikan makanan di sekitaran Bekasi, membawa bantuan barang untuk korban banjir di Babelan, saya sendiri walau telah merantau 4 tahun tetap tidak hapal jalan untuk menuju lokasi banjir sungguh penuh perjuangan.

Jika dahulu saya duduk dibelakang untuk menyimak setiap materi kepenulisan. Sejak menjadi anggota dan mulai berkarya saya diminta untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepenulisan saya.

foto bersama setelah selesai memberi materi kepenulisan


Karya demi karya saya telah terbit, saya yang anak rumahan telah keluar dari zona nyaman. Mengubur rasa tak percaya diri dengan terus berkarya dan berbagi manfaat pada orang lain.

sebagian jejak karya saya 


Baca juga : Rekam Jejak Karya Saya


Keluar Dari Zona Nyaman Part 2


Selain merantau dan ikut suami yang juga perantauan memang membuat kisah perjuangan hidup saya tak pernah berjalan mulus. Melepas karier dikala gelar sarjana didapatkan bukanlah hal mudah. Cibiran dan cemoohan pun sering membuat saya down dan hilang percaya diri. Apalagi tawaran pekerjaan dari dalam bahkan sampai luarnegeri datang, tetapi suami hanya mengizinkan saya untuk menjadi ibu rumah tangga.

"Sekolah tinggi-tinggi jadinya ngasuh anak, babysitter aja gak lulus SD bisa kali."
"Belum punya rumah aja, berhenti kerja, apa gak sayang karier?"

Saya pun menghabiskan waktu setelah mengurus rumah dan merawat anak dengan kursus menulis online. Baik berbayar maupun gratisan, selain itu saya pun membeli buku-buku tentang bisnis rumahan. Tak perlu bersedih jika tidak dapat berkarier dari rumah yang penting bisa berkarya dari rumah, itu menjadi penyemangat bagi saya.

Alhasil, walau saya di rumah saya tetap menulis beberapa buku, baik cerpen, puisi, artikel, resensi di koran, majalah dan media online. Bahkan di tahun 2015 saya begitu produktif menulis diberbagai media, menulis buku pesanan untuk penerbit, dan lain-lain.

Tahun 2016 naskah solo saya lahir berupa cerita anak, buku nonfiksi remaja, dan mulai aktif menjadi mentor kepenulisan online dan offline.

Berbagi untuk Memberi Arti


Kalau ditanya rasa percaya diri, saya akan ada dibarisan paling belakang, karena saya si introvert sejati yang tak pernah menganggap dirinya ini memiliki kelebihan. Jangankan untuk berbicara di depan banyak orang, untuk orang sekitarpun mulut ini terkatup rapat.

Seorang guru kepenulisan yang begitu saya hormati, yang tak pernah meminta balas jasa apapun, namun jasanya begitu luar biasa. Menempuh perjalanan jauh Ciputat-Bekasi dengan sepeda motornya, untuk memberikan ilmunya kepada saya dan teman-teman satu tim. Bukan saja kelas kepenulisan tetapi juga kelas skenario dan semangatnya yang tak mengenal jarak inilah yang membuat saya tak bisa meninggalkan kecintaan pada dunia tulis menulis. Bergerak untuk terus berkarya dan bermanfaat, menjadi kunci hidup saya selanjutnya.


Katanya pemalu kok ada di panggung Islamic Bookfair? Kalau ada yang bertanya tentang itu, saya juga masih bertanya-tanya kenapa saya punya tekad berani datang dan duduk bersanding dengan para penulis lainnya termasuk penulis senior bunda Pipiet Senja. Saya yang sedang jadi 'emak rempong' yang memiliki duo bocah aktif, pikiran apa yang merasuki hingga nekad membawa mereka ke atas panggung, disaat saya harus berbagi ilmu kepenulisan dan bedah buku karya saya. Tentu tidak mudah, kalau saya pilih zona nyaman lebih baik saya tiduran di rumah daripada harus menahan malu kalau ada kejadian yang diluar keinginan saya. Ternyata salah satu support terbesar adalah komunitas yang saya ikuti, walau saya maju mundur takut mengiyakan ikut partisipasi ini, ternyata para panitia yang kebetulan satu komunitas memberi kepercayaan penuh kepada saya. Sehingga saya memiliki keberanian untuk pertama kalinya berbicara diatas panggung di IBF. Alhamdulillah karena niat berbagi ilmu kepenulisan  ini begitu kuat, anak-anak saya duduk tenang dipangkuan hingga acara selesai, Maha Besar Allah yang menjaga buah hati saya dan saya tak hentinya mengucap puji syukur.

Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki energi positif akan selalu bersinergi dan membuat niat untuk berbagi akan terealisasi dengan saling memberikan dukungan yang terbaik.


Pernah lihat mentor kepenulisan online hadir diacara offline, mungkin kalau kelas online tak akan pernah tahu ketika saya memberikan materi ternyata sambil mengasuh anak, sambil mengerjakan PR si kakak, dan terkadang sedang mengusap-usap anak yang mau tertidur. Tetapi ketika pertemuan workshop kepenulisan yang diadakan di kampus Umar Usman Jakarta, saya harus berangkat pagi-pagi sekali sambil membawa dua balita saya. "Kok nggak punya pengasuh?" 
Pernah sih dengar celetukan seperti itu, saya tak perlu menjawab. Saya hanyalah manusia yang menjalani peran menjadi hamba Allah yang ingin memberi manfaat disekitar saya. Menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten rumah tangga dan babysitter tak perlu membuat hidup saya minder, belajar dari kehidupan putri tersayang Rosulullah SAW, Fatimah yang hidup dalam kesederhanaan. Allah SWT lah yang mengizinkan saya memiliki segalanya ataupun tidak. Tak perlu menunggu sempurna dan memiliki semuanya dahulu baru ada niat untuk berbagi. Berbagilah dengan ikhlas apa yang bisa dibagikan dan bermanfaat untuk yang lain. Dengan berbagi kebaikan akan datang kebaikan yang berlipat-lipat. Alhamdulillah anak saya selama acara tenang, dan pulang juga senang dan sehat ceria walau pulangnya sampai malam dan kehujanan.
Tak memiliki rasa percaya diri karena kurang cantik, kurang kaya, dan kekurangan lainnya yang hanya dinilai dari penampilan fisik, saatnya bersyukur dengan apa saja yang telah dimiliki, itulah salah satu diantara beberapa cara untuk menaklukan penyakit minder.


Kalau mau bilang nggak pede perut lagi gendut karena hamil lagi anak ketiga, maka saya akan percaya diri saja untuk berdiam diri di rumah sampai lahiran dan body langsing lagi. Namun, gimana jadinya jika ternyata ada pemilik sanggar anak-anak jalanan yang memintamu mengajarkan kelas blogging untuk anak-anak marjinal. Jika hati selalu diniatkan untuk selalu berbagi, maka tak perlu ada lagi syndrom tidak pede karena penampilan, dan alasan repot bawa anak. Saya pun membawa dua anak saya ini ketempat pelatihan yang jaraknya dua jam dari rumah saya. Cukup lumayan jauh bagi ibu hamil usia janin 4 bulanan, tetapi ketika sampai di sanggar, menatap wajah-wajah mereka yang semangat untuk mengikuti kelas ngeblog maka semangatpun hadir kembali. Tak terasa pelatihan sekaligus praktek ngeblog ini sejak sore sampai malam masih banyak anak-anak yang berdatangan. Antusiasme yang luarbiasa.
Merasa kurang beruntung, menganggap hidup ini tak seindah yang diinginkan, banyak-banyaklah berkunjung ke tempat yang membuat Anda merenung dan mensyukuri apa yang telah dimiliki saat ini. Karena masih banyak orang yang hidup penuh perjuangan, salah satunya adalah anak-anak jalanan yang harus berjuang keras melawan dinginnya malam, teriknya mentari untuk mencari sesuap nasi. Bahkan mereka banyak yang putus sekolah karena tak ada biaya.



Perjalanan yang cukup jauh sekitar tiga jam perjalanan ditempuh dengan kendaraan roda empat. Bagi ibu hamil usia kandungan 6 bulan dan membawa anak membuat perjalanan ini tak mudah. Walau masih satu kabupaten Bekasi ternyata SMK Attaqwa ini cukup berada di pedalaman. Tak ada trayek kendaraan umum untuk menempuh ke sekolah ini. Sampai di sekolah, saya terkejut dengan bangunan sekolah yang begitu banyak ruang kelas yang rusak, toilet yang tidak ada dan beberapa ruangan yang tak layak pakai.

Kalau dibilang raga lelah, tak bisa dipungkiri. Tetapi sekali lagi melihat tatapan penuh harapan dari para siswa yang memiliki cita-cita serta keinginan untuk bisa berkarya membuat semangat kembali bergelora.

Saya jadi flashback dimana ketika saya masih sekolah dahulu lebih banyak menghabiskan diri di rumah. Tak pernah tahu dunia luar yang ternyata begitu penuh warna. Tak berani membangun mimpi karena terkurung tembok raksasa hingga hilangnya rasa percaya diri. Beruntung saya mampu meruntuhkan rasa tak percaya diri dengan berani keluar dari zona nyaman dan menikmati indahnya hidup penuh perjuangan di tanah perantaua, yang pada akhirnya merubah cara berpikir sekaligus membuka jalan dalam pencarian jati diri.

Saya tak pernah menyesali apa yang terjadi, memiliki orantua yang mendidik saya menjadi anak rumahan yang tak pernah mengenal dunia luar. Namun, saya bersyukur ketika kesempatan datang kepada saya, sebuah niat yang memang masih berwujud batu besar dapat saya utarakan, sebuah keinginan ingin keluar dari zona nyaman. Walau langkah awal begitu berat tetapi berkat doa restu yang mengalir semua berjalan lancar.

Mungkin keluarga saya masih banyak yang tidak tahu, bahwa saya ini telah menjadi seorang penulis, blogger, mentor kepenulisan bahkan  menjadi mompreneur untuk bisnis rumahan yang saya rintis. Tetapi saya telah menaklukkan gunung ketakutan dan rasa tak percaya diri saya. Saya berubah bukan untuk diri sendiri tetapi bagaimana bisa berbuat baik untuk sesama umat. Saya ikut tes kepribadian di www.serioxyl-confidence.com, hasilnya bisa dilihat sebagai berikut :



Hasil test diatas sangat membantu saya untuk menata kembali sebuah impian yang telah saya buat. Bahwa hidup tak hanya mencapai sebuah target yang tinggi tetapi juga harus selalu diiringi perenungan agar tak keluar dari koridorNya. Masa lalu bukan sebuah penyesalan namun menjadi sebuah pembelajaran. Hari ini adalah memaksimalkan energi positif untuk menebar kebaikan. Hari esok adalah sebuah doa dan usaha yang tinggal memetik hasilnya.  Yuk pecahkan bongkahan batu besar yang menutup rasa percaya dirimu, yakinkah bahwa setiap manusia tercipta dengan sempurna dan penuh manfaat.




Salam Inspirasi 
29 comments

Wah lompatan yang hebat mb Erna, akhirnya bisa tembus dinding ketakutan dan menebar kebaikan buat banyak orang. Saluut

Reply

Terima kasih Teh Winny, bagi saya jika kita masih memikirkan diri sendiri baik karena kurang percaya diri atau lainnya tanpa mau memberi arti kepada orang lain , masih hidup dalam zona nyaman.

Reply

Larut membaca kisahmu Mak Erna, mbayangin menjadi anak rantau huhuu,
Tapi ya pengalaman hidup bikin kita bangkit ya, keluar dari zona nyaman meski agak susah.

Yang penting saat ini, tetep harus pede dan semangat. Sukses selalu buatmua Mak

Reply

Mba Erna luar biasa euy mampu 'mengolah' rasa tidak percaya diri menjadi sesuatu yang produktif :)

Reply

Luar biasa..mengawali kehidupan secara mandiri sedini mungkin itu semakin membuat dewasa ya mba, banyak pelajaran yang bisa diambil, banyak sandungan hidup yang akan menjadi barometer kehidupan,aku juga anak rantauan sejak kecil..

Reply

Semangat untuk terus menginspirasi mbaknyaaa.

Salam,
Gabrilla.

Reply

Whuaaa keren banget prestasimu mba. Btw memang lho setelah merantau kita lebih strong dan lebih mandiri. Kalau di rumah melulu kadang terlena dengan segala fasilitas.

Reply

Saya juga dulu anak rumahan Mbak. Eh, sampe sekarang juga jadi emak rumahan hehehe...
Kayaknya perlu belajar sama Mbak Erna, supaya bisa lebih percaya diri dan bisa bermanfaat untuk orang lain.

Reply

Makasi Teh Nchi Hanie iya suka duka anak perantauan, makasi buat doanya

Reply

Banyak merenung karena terbiasa hidup dikurung di rumah, untungnya bisa kesempatan merantau dan tahu kehidupan yang tak senyaman di rumah, dan melihat sekitar ternyata banyak yg lebih menderita juga.

Reply

iya mba, merantau melatih mental manja pergi. Banyak jg pelajaran yang bisa dipetik hikmahnya, dan sejak muda sudah bisa menentukan langkah jangan sampai salah pergaulan.

Reply

Terima kasih atas kunjungannya :)

Reply

Huum kalau mau dibuat sebagai pelajaran hidup, ada juga yang terbawa arus. Semoga saya terus dijalur yang baik :)

Reply

Iya mba, apapun yang kita bisa berbagi maka berusaha bagikan yang kita bisa. Bisa berbagi lewat harta, ilmu ataupun kehadiran kita tak mengganggu oranglain juga termasuk memberi kenyamanan dimana saja berada

Reply

Si pemalu yang bicara dengan karya ya Mbak ;)

Reply

Biarkan karya yang bicara. Gitu ya, Mbak.
Heheee...
Jadi semangat nih! ^^
Makasih sharingnya, Mbak Erna sayang :*

Reply

Dulunya saya juga anak rumahan mbak..tapi setelah ikut komunitas..semua berubah..

Reply

Dulunya saya juga anak rumahan mbak..tapi setelah ikut komunitas..semua berubah..

Reply

Luar biasa!
Kisah yg inspiratif, mbak Erna.
Keep sharing!

Reply

Keren Mbak Erna penulis produktif. Ternyata kita sama2 perantau ya, tos dulu :))

Reply

iya, saya sebenarnya masih melabeli diri pemalu, sampai sekarang teman dunia nyata sedikit, tetapi moga dengan berkarya dapat memberi arti kehadiran saya ini yang jarang sekali terdengar suaranya

Reply

Asyikk judul yang keren nih, biarkan karya yang berbicara. Love love juga alma sayang

Reply

iya mba komunitas bikin hidup menetas ya mba :)

Reply

iya mba komunitas memberi warna pastinya dalam hidup kita

Reply

Terima kasih mba Frida, senang sekali dikunjungi mba Frida :)

Reply

Iya mba April, senang sekali mba April mampir disini saya juga suka mampir di blog mba April yang informatif skali.

Reply

menulis untuk menebar kebaikan. Nice.

Reply

Terima kasih sudah berkunjung

Reply