Menu
/


Memiliki keluarga adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai. Berkumpul dengan orang tercinta dengan senyuman hangat setiap harinya membuat hidup bersemangat. Namun, ketika satu persatu anggota keluarga terserang penyakit, ada kesedihan, ketakutan, penyesalan menjadi satu paket dalam wadah kegelisahan. Sudah maksimalkah perlindungan yang diberikan kepada orang-orang tercinta? 


***
Hidup sehat memang dambaan setiap orang. Begitupun dengan ibu saya yang menginginkan semua anak-anaknya sehat. Memiliki 5 anak dengan jarak yang berdekatan, membuat ibu saya ekstra dalam pengasuhan anak. Bapak pun selalu siaga, kesehariannya selepas pulang bekerja adalah ikut membantu mengasuh anaknya. Rumah selalu ramai dan pastinya berantakan akan mainan yang berserak dimana-mana. Namun bapak dan ibu tak pernah merasa kesal apalagi harus marah, bapak dan ibu selalu terlihat tenang dan senang melihat kami semua anaknya aktif bermain di rumah. Walau terkadang terdengar gaduh karena berebut mainan. Kasih sayang orangtua saya membuat saya menjadi seorang ibu yang melindungi anak-anak saya.

Anak-anak Saya dan Balada Imunisasi

Menjadi ibu rumah tangga dengan gelar sarjana, selalu saja di cibir bahwa ijasah saya ini sia-sia. Saya menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT) yang mengurus anak -anak juga dikatakan sia-sia dan malah tetangga saya bilang saya seperti Asisten Rumah Tangga (ART). Tak perlu menanggapi perdebatan yang tidak ada ujungnya, saya milih diam dan berada di rumah dengan belajar dan banyak baca buku-buku parenting. Ternyata perdebatan itu belum juga usai, ketika anak saya demam sehabis imunisasi dan rewel,efeknya tetangga membuli. 
Anak sehat kok dibuat sakit, sudah gitu bayar mahal lagi, kasihan masa pertumbuhan anak jadi terganggu, awas jangan-jangan anaknya menolak di suntik imunisasi karena anak bayi kan suci jadi rewel karena tahu ada darah babi, nanah dan formalin di kandungan imunisasi."

Pernah dengar suara miring diatas? Ya, sejak zaman ibu saya hingga kini saya menjadi ibu, Imunisasi masih saja pro-kontra. Tak tanggung-tanggung di tahun yang katanya sudah era digital ini masih ada juga pemikiran yang tanpa landasan pasti. Termakan isu dan gosip yang tidak ada pembenaran sampai sekarang. Bahkan saya didatangi tetangga saya untuk diberi dua lembar fotocopyan yang sumbernya saja tidak bisa dipertanggung jawabkan, dan isinya benar-benar luarbiasa membuat orang yang enggan imunisasi makin yakin dengan pilihan mereka. Lalu bagi saya? Saya pun memberikan dua lembar fotocopyan tersebut kepada suami saya, dan sudah saya tebak jawabannya sama seperti saya, lembar fotocopyan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. 

Saya pun searching di internet dan membeli buku secara online "Kontroversi Imunisasi" karya 33 dokter yang pasti isi bukunya bisa dipertanggungjawabkan. Berikut kutipan sebagian isi bukunya:

Buku Kontroversi Imunisasi, kumpulan 33 Ahli, dokter, pakar kesehatan, dan pakar Syariah, membahas dengan lugas semua serba-serbi imunisasi dengan referensi yang relevan. Cerita Imunisasi dari Jepang yang ditulis oleh Lusiana Sofyan dan Fariz Nurwidya (Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan FAHIMA di Jepang) yang berdomisili di Tokyo. Jepang sebagai Negara maju mewajibkan vaksinasi bagi seluruh anak-anak, termasuk warga asing. Tidak hanya mewajibkan vaksinasi, tapi juga memberi tunjangan konkret. Sama dengan di Indonesia, di Jepang ada vaksinasi yang wajib (gratis) dan ada yang tidak wajib (berbayar). (halaman 43).

Menurut Siti Aisyah Ismail, isu imunisasi bukanlah sebuah isu yang hanya menyangkut anak saya atau anak Anda. Ia bukan hanya urusan individual, tapi menyangkut anak-anak kita dan semua anak di seluruh dunia. Orangtua yang menolak imunisasi sering tidak menyadari bahwa imunisasi itu terkait dengan kesehatan komunitas. Banyak yang berpikir bahwa isu ini cuma tentang anaknya sendiri. Jadi, mereka cukup puas ketika anaknya sehat. Mereka lupa kalau seorang anak bisa saja tidak sakit, namun menjadi pembawa (carrier) sebuah penyakit dan menularkannya pada anak lain. (halaman 46).

Dirga Sakti Rambe menjelaskan definisi vaksin sebagai substansi/preparat yang dapat memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara menstimulasi produksi antibodi yang spesifik. Vaksin merupakan produk bioteknologi yang memiliki standar keamanan sangat tinggi. Setiap tahapan dalam proses produksi vaksin wajib mengikuti kaidah Good Manufacturing Practice (GMP) dan diawasi dengan sangat ketat oleh lembaga yang berwenang. World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan panduan teknis untuk mengatur hal ini,sehingga vaksin yang diproduksi oleh produsen dari negara manapun memiliki kualitas yang sama. (halaman 84).

Imunisasi merupakan salah satu pencegahan yang telah diakui sebagai upaya untuk mencapai eradikasi dan mengurangi penyakit infeksi berat yang menimbulkan kematian dan kecacatan, sehingga akan menyelamatkan kehidupan dan mengurangi penderitaan manusia. 

Kampanye vaksinasi atau pekan imunisasi dapat meningkatkan cakupan imunisasi untuk menekan epidemic penyakit. Namun, di balik upaya mencapai cakupan yang tinggi terdapat kelompok yang anti terhadap imunisasi dengan alasan takut efek samping, kurang yakin terhadap keberhasilan imunisasi dalam mencegah penyakit, atau alasan lainnya. Oleh karena itu, penerangan mengenai value dari vaksinasi perlu disebarluaskan, baik untuk masyarakat luas termasuk tokoh masyarakat, selain petugas dan pejabat pemerintah di bidang kesejahteraan masyarakat. Sedangkan setiap orang yang terlibat dalam imunisasi harus secara konsisten berusaha untuk mempertahankan value of vaccination yang dapat dinilai secara individual value, collective value, social value, dan economic value. (halaman 111).

Vaksinasi tidak perlu diragukan lagi merupakan the most cost effective public health yang terukur. Walaupun demikian, di seluruh dunia pengertian dan pelaksanaan imunisasi masih undervalued dan under-utilised. Hal ini penting dipahami oleh pemerintah, health policy maker, dan international agencies, untuk tetap memegang teguh nilai pencegahan melalui imunisasi dengan benar. Terpenting adalah peran kita sebagai provider program imunisasi kepada masyarakat untuk senantiasa memberikan penjelasan mengenai nilai (value) dari vaksinasi. Akhirnya imunisasi akan berarti untuk kesehatan global dan kesejahteraan generasi mendatang apabila semua masyarakat dapat melindungi dari penyakit infeksi yang berat dan fatal. (halaman 113).

Vaksin ini telah diberikan kepada semua anak-anak dari semua bangsa dan agama di seluruh dunia, termasuk anak-anak Muslim dari lebih 50 negara dan keamanannya telah terbukti. Tidak ada pemerintah daari negara-negara Islam tersebut, Di Afrika dan Asia, menyatakan pemberian vaksin tersebut adalah melanggar syariat Islam. Tidak ada mazhab dari masjid Al-Azhar atau Qorawiyin (Maroko) atau dari dua masjid suci di Mekkah dan Madinah, atau negara Muslim yang mengharamkannya. (halaman 173).

Manfaat imunisasi pada skala individu dapat menguatkan daya tahan tubuh seseorang dan melindunginya dari penyakit yang mematikan. Sedangkan pada skala komunitas, imunisasi akan melahirkan masyarakat yang sehat, berguna dan produktif




Ketika saya sedang membeli sayur di abang sayur depan rumah tetangga saya, ternyata ada ibu bidan yang datang ke rumah tetangga saya itu dan mengajak si ibu untuk membawa putri ketiganya untuk imunisasi. Wajah bu bidan sedih, setelah mendapat dua lembar fotocopyan yang begitu dibanggakannya. Saya hanya melihat saja dan kemudian berlalu meninggalkan pemandangan yang miris sekali. Ibu bidan itupun pulang dan tidak berhasil membujuk ibu tersebut.

Dimana sebagian masyarat begitu mudahnya terpengaruh dengan sumber-sumber yang tak jelas, kemudian termakan isu yang tidak bertanggung jawab. Perasaan saya semakin sedih ketika si ibu tetangga memarahi anak pertamanya yang terjatuh, dan bilang gara-gara kamu di imunisasi jadi lemes dan lamban. Dengan dibandingkan dua adiknya yang sehat dan gesit, serta tak sering sakit karena dua-duanya tak diimunisasi. 


Saya, seperti bapak saya yang berusaha memilih keyakinan untuk memberikan imunisasi wajib kepada anak-anak. Apa yang saya alami semasa kecil, tak pernah membuat saya trauma imunisasi, bisa saja saya dapat segera pulih karena tubuh saya cepat membuat antibodi dari vaksinasi yang disuntikan melalui imunisasi, seperti yang dikatakan Pak Dokter. Suami saya pun mendukung anak-anak diberi imunisasi, walau kami tinggal di lingkungan yang masih pro dan kontra imunisasi. Ikhtiar yang kami lakukan bukan berarti kami yakin terbebas dari serangan wabah penyakit. Setidaknya di zaman yang semakin penuh sesak orang dan kebersihan semakin diabaikan, banyak penyakit baru yang berdatangan. 


Cara saya melindungi kesehatan anak-anak saya yaitu  :
  • Sebelum menikah ada syarat suntik imunisasi TT (syarat dari KUA). lakukan saja imunisasi ini jangan termakan gosip ini akan membuat susah hamil. Saya pun melakukan suntik TT ini dan tiga bulan menikah bisa hamil, ada juga yang langsung hamil. Lama tidaknya hamil bukan dari suntik imunisasi ini menurut dokter kandungan. Namun, suntik ini bertujuan melindungi calon ibu dan bayi dari penyakit. 
  • Ketika hamil periksa rutin kehamilan dan beri asupan makanan yang baik untuk janin
  • Setelah lahir bayi diberikan ASI, 
  • Menjaga kebersihan tubuh bayi
  • Menjaga kebersihan rumah dan sekitar, 
  • Segera memeriksakan ke dokter dan berikan imunisasi wajib, 
  • Menerapkan pola hidup sehat dengan memilih makanan yang bersih, mengolahnya dengan jadi makanan sehat.
  • Istirahat yang cukup

Baca juga : catatan imunisasi anakku

Bagaimanapun anak adalah titipan dari Sang Maha Pencita,  yang  harus dirawat, dijaga dan dididik agar kelak menjadi generasi yang cerdas dan memahami arti kehidupan dengan penuh cinta dan kasih. 

***

Ada yang beranggapan membawa anak ke rumah sakit, walaupun sehat pasti akan diberi obat dan jadi sakit. Membawa ke rumah sakit pasti pulang jadi sakit dan malah kena virus penyakit. Anak sudah takut duluan sebelum di periksa dokter. Ketakutan masyarakat yang enggan ke rumah sakit, tidak sebanding dengan pilihan alternatif yang menawarkan pilihan yang lebih baik. Lebih percaya datang ke individu yang masih belum ada sertifikasi sebagai tenaga kesehatan pprofesional apalagi datang ke dukun untuk berobat malah menjadi pilihan yang semakin rumit. 

Sekarang sudah zamannya teknologi, periksa ke rumah sakit, konsultasi dokter dan pemeriksaan lainnya sudah ada solusi terbaik dari In Harmony: One Stop Wellness Solution. 

Apa sih In Harmony Health Clinic?

In Harmony Health Clinic berkomitmen untuk menciptakan pusat pelayanan kesehatan holistik, yang menyediakan berbagai opsi layanan medis, alternatif, dan preventif, serta memiliki kerjasama strategis antara berbagai institusi dan penyedia layanan terkait. Fokus pada pelayanan kesehatan untuk vaksinasi anak hingga dewasa membuat in Harmony Health Clinic banyak dikunjungi orang. Alamat in Harmon Health clinic sudah ada di beberapa tempat Anda bisa datang ke In Harmony Health Clinic bersama keluarga.

In Harmony Health Clinic bertekad untuk menjadi pelopor klinik imunisasi dan vaksinasi terlengkap, terdepan, serta pengembang layanan preventif terkemuka di Indonesia, serta dengan jangkauan pelayanan terluas di Indonesia. One stop solution, yang menjadi target banyak bisnis di dunia, juga menjadi impian manajemen In Harmony Health Clinic, dengan tersedianya segala layanan medis dan alternatif yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Jangan berpikiran imunisasi dan vaksinasi hanya untuk bayi dan anak-anak saja, tetapi juga untuk orang dewasa. Karena perlindungan terhadap virus, penularn penyakit menular terkadang tak mengenal usia. Lingkungan yang tidak bersih, pola hidup yang tidak sehat serta daya tahan tubuh yang melemah membuat berbagai penyakit mudah menyerang.

Lindungi diri dan keluarga bersama In Harmony Health Clinic, Anda bisa berkonsultasi, menanyakan jadwal periksa, membuat perjanjian,  juga menanyakan harga vaksin secara  online. Sebuah kemudahan yang membuat Anda dapat terhubung dengan ahlinya. 



Kenapa orang dewasa juga butuh vaksin, untuk melindungi diri dari kuman dan virus lainnya. Ketika Anda memiliki pola makan yang tidak sehat misalnya dengan jajan sembarangan yang tidak terjamin kebersihannya dan pengolahan makanan yang tidak bersih maka akan  terkontaminasi dengan bakteri Salmonella enterica serotipe Typhi. Bakteri ini merupakan kuman penyebab infeksi berat pada saluran cerna, yang dapat menyebabkan penyakit Demam Tifoid atau penyakit tifus. Apabila infeksinya cukup berat, penyakit ini pun dapat mengancam nyawa.



Dikutif dari www.inharmonyclinik.com, masa inkubasi kuman tifoid adalah 6-30 hari. Tanda dan gejalanya antara lain demam yang semakin lama semakin tinggi terutama menjelang sore-malam hari (38°C–40°C) pada hari ke-3 dan ke-4, sakit kepala, lemah, lesu, dan menurunnya nafsu makan. Komplikasi serius dari penyakit ini dapat terjadi pada minggu ke-2 dan ke-3, yaitu perdarahan atau perforasi usus yang berpotensi mengancam nyawa. Pencegahannya adalah dengan menghindari konsumsi yang tidak bersih dan berpotensi menularkan penyakit, serta melakukan vaksinasi tifoid. Kini Anda tinggal datang bersama keluarga tercinta melindungi diri dengan vaksinasi dan hidup sehat bersama In Harmony Health Clinic. 

Memberikan perlindungan kepada diri dan keluarga untuk masa depan yang sehat. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati, setuju?

SalamSehat

13 comments

Wah pengalaman yang berharga terkait tindakan pencegahan ya mbak, saya juga suntik TT setiap Hamil, harusnya sebelum nikah ya tapi tidak ada kata terlambat lebih baik mencegah daripada mengobati. Selamat mbak.

Reply

terima kasih kakak rodame, senang dengan kunjungan kakak disini :)

Reply

Mencegah lebih baik daripada mengobati, itu juga saya yakini benar2.

Waktu hamil Hasna dulu sempat galau juga tergoda antivaks. Hehe. Tapi akhirnya Hasna divaksin. Wong sebelum nikah sy jg TT :) alhamdulillah sehat, moga sehat2 seterusnya. Aamiin..

Reply

Masya Allah- semua terjadi atas kuasanya yah mbak :) Luar biasa sharingnya. Semoga pengalaman pribadi yang berharga jadi pijakan untuk melakukan yg terbaik ke anak2 tercinta ya... Sukses lombanya *tosdulu :D

Reply

terima kasih ya sudah mampir :)

Reply

amin mba, sehat juga buat dede Hasnanya ya :)

Reply

Cerita yg sangat berkesan mba.. semoga menginspirasi org2 untuk mulai tak memandang remeh vaksinasi ini...

Reply

Ya Allah, Mba..kayak baca cerpen kisah dirimu waktu kecil
itu keajaiban Allah SWT ya, bisa bayangin gimana happynya ibu dan bapak. klo aku kecil dulu kena batuk 1000 hari krn imunisasi jg ga lengkap

Reply

iya mba, aku disebutnya anak mahal sama saudara-saudara ibu. Karena biaya pengobatannya yang memang mahal antar kota juga jauh sekali. Alhamdulillah bisa melewati wabah penyakit dengan vaksinasi.

Reply

terima kasih mba ira. amiin

Reply

Jadi vaksin ini halah yaaa

Reply

maksudnya halal ya kang mas cumilebay?iya kang sesuai fatwa MUI. Terimakasih ya sudah mampir, senang sekali dimampiri seleb blogger ngehits kang mas cumilebay :)

Reply

Antisipasi lebih dini tentunya akan mendatangkan dampak baik bagi yang menjalani.bener kan, mbk Erna?😊

Reply