Menu
/
Menjadi seorang wanita memang selalu ada garis-garis kritis di masyarakat. Ketika memasuki usia kepala dua misalnya, pertanyaan yang datang sepanjang itu adalah "kapan nikah?". Asyikkan diperhatikan dunia dan sekelilingnya. Namun, tidak semua wanita mau mendengar pertanyaan "weker" seperti itu. Ada yang langsung pasang muka jutek, rata, datar bahkan hambar. Ada juga yang santai-santai saja, memasrahkan jodoh akan datang pada waktu yang tepat. Selalu berbaik sangka kepada yang bertanya dan menitip jawaban kepada Yang Maha Memiliki Semesta. 


Sudah menikah pun, akan ada lagi pertanyaan. Apalagi sudah memasuki kepala tiga. Rumahnya diperumahan mana, suaminya kerja apa, makannya apa (hihihi nggak segitunya juga)
"Kok lama amat nundanya?"
"Yang mana yang gak subur?"
"Kalau punya anak masih muda, fisik masih kuat jangan nunggu tua baru punya."
dan pertanyaan sejenis. 

Memang pertanyaan ini seakan menusuk-nusuk hati sebagai wanita. Karena perasaan wanita begitu lembut, tidak suka dengan hal-hal pribadi yang sensitif. Walau ada juga yang tegar menghadapinya. Bahwa, jodoh, anak, rezeki, kematian itulah kekuasaan Allah SWT. 

Lalu fase yang membahagiakan pun hadir. Menjadi wanita yang sempurna ketika menjadi ibu. Ada suami yang setia dan anak-anak yang lucu. Tetapi menjadi ibu tidak melulu dibelai pujian terkadang cacian pun selalu melabelkan dirinya sebagai wanita yang kurang perfect. 

"Sarjana kok kerjanya nyuci ompol dan empup?"
"Dulu mah waktu gadis cakep banget, sudah lahiran duh gendut banget sih!.
"Waktu kuliah mah bawa buku satu aja, banyak yang nawarin bawain buku. Sekarang mah gendong-gendong 10kg aja sendirian."
"Katanya S2, anaknya kok kurus."

Kepala dua, tiga, empat,lima, enam, sampai tujuh. Justru itulah timer kita untuk menabung pahala. Mencari setiap amalan untuk dijalankan. Fase kehidupan adalah catatan sejarah yang kita jalankan. Seberapa mampu membuat kita bersyukur kepada Sang Pencipta, bukan sebagai fase sempurna atau telah memiliki segalanya. 

Tetapi, yang merasa mendapat pertanyaan seperti itu, jangan bersedih, kecewa, putus asa. Jadikan cambukan penyemangat dalam mendekatkan diri kita kepada Sang Maha Sempurna. 

Maka sebagai makhluk sosial, jaga sikap kepekaan dalam kehidupan, seperti :
- Saling menghormati dan menghargai
- Tidak mengukur kehidupan seseorang dengan kaca mata kesempurnaan manusia
- Berbuat baik selalu kepada sesama, agar hidup harmonis dan berdampingan.
- Semangat beribadah, bekerja dan menjalani setiap fase kehidupan. 

Namun, terkadang yang namanya ujian itu tidak mudah. Sampai keimanan menjadi naik turun untuk meredam amarah kepada seseorang yang memang sudah diluar batas kewajaran. Memang ada ya? Banyak. Kadang malah si "pembuat onar" malah semakin berulah jika di diamkan. Sekali lagi mohonlah kepada Allah agar selalu menyejukkan qolbu kita. Jangan sampai terpancing kepada rayuan syetan. Diam bukan berarti kalah. 

Berikut 6 cara meredam marah :
1. Segera berwudhu, bisa dilanjutkan shalat sunnah dan membaca alqur'an
2. Berhijrah dari orang-orang yang selalu memancing kepada keburukan.
3. Pergi berlibur/piknik.
4. Beristirahat di rumah, di cafe nyaman, toko buku 
5. Diam. Membiarkan mereka lelah sendiri. Dan menyerahkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. 
6. Jika sudah "over" sekali maka laporkan kepada pihak yang berwajib. 

Salam.



6 comments

Karena wanita ingin dimengerti, katanya lagu sih gt hehee...

btw, tengkyu ya tips menahan marahnya. oke banget! :)

Reply

Dunia kita banget yaa...

Reply

Dunia kita banget yaa...

Reply

Makasi kang Dedi sudah berkunjung

Reply

Iya mba ekaa. Terima kasih sudah berkunjung.

Reply

Gue banget nii,
Pas belum dapat momongan hingga tahun ke 7 perkawinan.
Telinga tebal setabl-tebalnya :)

Eh, keren lho judulnya.
Aku sukaaa... dan langsung mampir :)
Di tunggu kunjungan baliknya ya
Hahahaha... *modus

Reply