Menu
/
Bagi seorang ibu bisa menyalurkan hobi menulis adalah anugerah tersendiri. Memang tidak se'power' ketika masih gadis yang bebas menerobos waktu dan juga menuruti deadline. Setelah menjadi ibu ada focus yang utama yaitu anak-anak. Apalagi sudah memiliki dua balita aktif, perhatian sudah terbagi rata kepadanya. Menulis, masih tetap dijalani penuh cinta dengan sisa kekuatan yang ada. Memang sejak Sekolah Dasar sudah suka menulis walaupun menulis dengan gaya sendiri. Sampai pada saat kuliah baru mendalami dengan berguru dan juga ikut berbagai komunitas menulis serta mengikuti kelas menulis. Sehingga semakin cinta sama dunia menulis.


Sejak 2008 menapaki jalan dunia kepenulisan sehingga menghasilkan karya baik buku paket, buku duet, buku antologi fiksi dan non fiksi, puisi, artikel dan beberapa resensi buku. Serta menjadi salah satu kontributor penulis media Islami online, menjadi sebuah prestasi. 


Apabila menulis bisa dijadwalkan ketika anak-anak terlelap tidur, atau disepertiga malam menjemput pagi, atau diwaktu yang bisa digunakan untuk menulis sehingga tidak ada hambatan ketika dihati selalu terpatri niat untuk menulis. Namun jika karya tersebut telah terbit, tentu penulis juga memiliki peran agar karyanya bisa dikenal masyarakat dengan promo-promo selain di blog, fb, twitter, instagram, whatsaap, email, line, dan media sosial lainnya. Mulai menghubungi radio-radio (yang bisa promo gratisan), mengadakan acara bedah buku baik disponsori penerbit atau toko buku ataupun menjadi pembicara di event-event tertentu. Salah satunya Islamic Book Fair (IBF) Bogor kemarin yang saya menjadi salah satu pembicara yang diundang untuk bedah buku. 


Kesempatan untuk mempromosikan karya tentunya menjadi tujuan utama. Bonusnya adalah bisa bertemu penulis-penulis lain sehingga menjadi ajang silaturahim. Bonus paling berkesan lagi adalah bisa satu panggung dengan Manini alias bunda Pipiet Senja. Waaawwwww, cuma bisa bilang luar biasa sekali semangatnya. 
"Hidup adalah bergerak. Bergerak untuk berkarya. Jangan lihat Manini sudah punya ratusan karya, semua juga dari nol." ucap Manini.

Benar sekali, tidak ada penulis yang langsung ratusan karya, pasti melewati anak tangga demi anak tangga, hingga tabungan karya itu ada. Bergerak dan menulis terus hingga lahir karya yang menjadi jembatan ilmu. Menulis bisa dikatakan berbagi ilmu, berbagi pengalaman, berbagi apa yang bermanfaat, dan tentu akan ada feedback bagi penulis yang kelak sesuai dengan apa yang dituliskannya. 

Serunya, sampai lupa aku ternyata bawa dua anak. Tentu yang masih 7 bulan tetap dipangkuan. Sudah disiapkan sebotol air putih untuk sewaktu-waktu haus. Ketika baru datang ke IBF Bogor langsung laporan ke panitia, lalu cari tempat ASI di mesjid (khusus akhwat) dan memberi ASi deh biar si dedek kenyang. Lalu keluar masjid dan duduk dibangku peserta sambil bertanya sama si kakak Fatih, 
"Mau ikut ke panggung atau mau nunggu di bangku penonton saja?"
"Duduk aja." Jawab kakak Fatih 
Sambil nitip Kakak Fatih kepada suamiku, aku pun pamit. Tepat ketika sang moderator cantik yaitu dek Sekar Ayu Wulandari telah memanggil namaku, sebelumnya Manini Pipiet Senja. Selang beberapa menit datang lagi penulis cantik namanya Belda Eldit Janitra dari FLP Ciputat. Serta lelaki yang menyukai puisi yaitu Usup Supriadi dari FLP Bogor.


Acara berjalan lancar dan banyak interaksi dari audiens. Senang dan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Apalagi Kakak Fatih naik ke panggung, duduk bersama kakak-kakak penulis, dan bergerak bebas sesuka hatinya. Manini yang baik hatinya sesekali menggendong anakku Fay ketika saya sedang berbicara. Saya yang memiliki dua visi membedah buku Kuliahvskuli-ah dan antologi Super father (ada tulisan saya juga) karena Amanda Ratih Pratiwi batal hadir sudah ada pemberitahuan lewat FB nya. Saya memahami Amanda sebagai sesama ibu yang punya balita, apalagi suaminya di Ambon. Kebayang perjuangannya, karena suami saya juga sering meninggalkan saya beberapa hari atau mingguan. Dengan segala kerempongannya menjadi ibu. 


Sesi tanya jawab. Ada salah satu pengunjung yang bertanya anaknya yang hobi menulis, bagaimana peran orangtua? Dari ibu Rosa di Ciomas. 
Manini menjawab tentang dua anaknya yang ternyata sama luarbiasanya, dua anaknya sama-sama jadi penulis. Bahkan sejak SD sudah mulai menulis dan terbit menjelang SMP. Anak manini satunya lagi sejak SMA sudah menjadi penerjemah buku. Sehingga biaya sekolah mereka tidak pernah berkeluh kesah. Menjadi penulis dan memiliki penghasilan saat ini sangat bisa sekali. 
Tentu Manini yang sudah punya pengalaman dalam mendidik anak menjadi penulis menjadi penyemangat tersendiri. 
Saya pun menjawab pertanyaan ibu Rosa, walau anak saya masih usia 7 bulan dan 3 tahun. Tetapi mengenalkan dunia tulis menulis saya terapkan kepada keponakan atau anak tetangga. Saya hanya memberi kepada anak-anak yang memang berminat tidak ada paksaan. Bisa dikatakan saya menjadi fasilisator anak-anak yang ingin berkarya. Hasilnya anak tetangga memiliki karya, keponakan-keponakan ada juga yang sudah tembus majalah anak. Sehingga mereka senang dan terus ingin berkarya. Begitulah peran orangtua, mengenalkan dunia yang disukai anak,  menjadi fasilisator anak, dan terus mengawasi. 
Anak-anak hobi menulis maka ibunya pun harus banyak membaca. Banyak mencari info, ikut komunitas kepenulisan baik online maupun offline. 

Kak Belda pun menjawab bahwa imajinasi anak harus dikembangkan secara alami. Peran orangtua adalah mengawasi ketika ada hal-hal yang memang butuh penjelasan. 

Atas pemintaan audiens akhirnya Kang Usup Supriadi membaca puisi. Menyentuh dan membuat hening. Tak terasa waktu sudah bergulis jauh. Anakku Fay sudah mulai meminta jam makannya disegerakan. Kakak fatih sudah dua cup makan jagung rebus kesukaannya. Setelah acara ditutup saya langsung mundur cantik. Mendahulukan permintaan anak untuk segera makan. Acara sesi foto-foto ada beberapa yang terlewat. Tetapi semua lancar dan menyenangkan. Terakhir bertemu penulis kembar yaitu mbak Aisya Avicenna dan Keisya Avicenna, keren sekali sama-sama jadi penulis.




8 comments

Mudah-mudahan esok atau lusa, saya jg punya kesempatan emas utk satu panggung dengan Mamah Fatih, tapi jangan panggung lenong. Saya nggak bakat acting ^_^

Reply

Mudah-mudahan esok atau lusa, saya jg punya kesempatan emas utk satu panggung dengan Mamah Fatih, tapi jangan panggung lenong. Saya nggak bakat acting ^_^

Reply

Panggung yang ruar biasa

Reply

wow keren ya kaas.. kesepatan yang luar biasa..

btw follbek ya maak.. http://mutheas.blogpsot.com

Reply

Kang ali sudah mampir, guru menulis saya adalah kang ali muakhir. Hatur nuhun cikgu

Reply

Sudah mak. Hatur nuhun sudah mampir

Reply

Salut mba dg perjuangannya, terus menulis di sela kesibukan sbg ibu

Reply

Salut mba dg perjuangannya, terus menulis di sela kesibukan sbg ibu

Reply