Menu
/
Sebagai ibu dari dua putra saya merasakan pengalaman hamil dan melahirkan yang berbeda. Kehadiran kedua buah hati  membuat saya bisa merasakan arti dari  pengorbanan ibu yang sangat  luar biasa. Suka duka menaiki tangga demi tangga kesabaran dimulai ketika dua garis indah itu muncul, kemudian melewati proses persalinan di ruang syahidah. Namun perjuangannya pun belum usai dimana seorang ibu harus merawat buah hatinya hingga mereka dapat hidup mandiri. Perjalanan cinta yang panjang  dan ada setangkup harapan agar kelak buah hati inilah yang selalu menyebut namanya dalam setiap doa.  


Ketika mengandung anak pertamaku, aku masih berjuang menata rumah tangga yang baru berusia 4 bulan,  ekonomi yang belum stabil karena kami sama-sama mahasiswa, sehingga harus bekerja untuk biaya hidup dan kuliah. Aku keguguran dikehamilan pertama, suamiku memintaku untuk menjadi ibu rumah tangga saja dan focus kuliah. Tetapi aku tidak ingin membebaninya dengan biaya kuliahku, maka akupun tetap bekerja dengan perjanjian kalau aku hamil lagi, aku akan menjaganya dengan doa dan ketika anak kita lahir aku akan jadi ibu rumah tangga yang memberikan ASI dan merawatnya.  

Tiga bulan setelah keguguran aku pun hamil lagi, suamiku tentu khawatir akan terjadi kejadian yang sama. Dengan banyak berdoa di kehamilan ini aku diberi kekuatan yang luar biasa. Tidak ada ngidam, morning sick parah, aku masih bisa menjalankan aktivitasku sebagai karyawan dan mahasiswi. Hingga kehamilanku menjelang HPL, aku masih hilir mudik di kampus mengikuti UAS, dan bimbingan skripsi. Di tempat kerja sudah lapor atasan akan resign, walau mereka banyak yang menyayangkan karena sebenarnya aku dapat cuti melahirkan 3 bulan. Namun keputusan ini sudah bulat dan memenuhi janjiku sebagai ibu untuk anak-anakku. Akhirnya aku melepas status karyawan tetapku, setelah bekerja selama 6 tahun lamanya. Tinggal focus skripsi dan UAS. Dipertengahan UAS aku sudah masuk rumah sakit. Detik-detik menjelang melahirkan, aku pasrah. Kalau lahiran cesar aku sudah siap cuti kuliah demi pemulihan kesehatanku. Kalau bisa melahirkan normal aku akan berjuang kembali menyelesaikan harapan ibuku untuk melihat anaknya sampai sarjana. 

Sudah semalaman aku menginap di kamar bersalin, tiba-tiba bercak darah tanda lahir sudah tidak keluar lagi, pembukaan yang tidak naik-naik. Aku pun dipindahkan ke kamar pasien, dan diminta untuk banyak jalan. Secara reflex aku minta izin jalan ke kampus saja sambil mengikuti ujian, dokter kandunganku pun tersenyum, melihat semangatku yang selalu penuh. Walau hasilnya aku tetap harus berada di rumah sakit. Menjelang siang, aku sudah masuk kamar bersalin lagi, aku menyebutnya ruang syahidah, ruang dimana para ibu sedang berjihad. Induksi sudah mulai mengalir dari tetes-tetes infusan di lenganku. Mulas mulai bereaksi dan membuatku melilit sakit perut tiada henti, punggung yang semakin panas, dan ketuban yang pecah. Aneka rasa bersatu tidak karuan. Aku pun diminta puasa untuk operasi cesar karena tidak ada pembukaan naik. Aku pasrah mengikuti, ketika ruang operasi siap, detik-detik keajaiban datang. Akhirnya aku melahirkan secara normal walau dengan bantuan vacum yang bikin luka sobek banyak. Alhamdulillah dengan sisa tenaga yang ku punya aku masih bisa menatap malaikat mungil itu di dadaku. Aku pun tersenyum lega walau sakit disekujur raga. Hamil dan melahirkan inilah kado terindah dari Tuhan.