Menu
/
Sebagai seorang wanita yang telah melewati fase demi fase yang merubah cara pandang dalam hidup. Awal menikah, aku masih penyesuaian dengan masa memasuki dunia istri dan perlahan meninggalkan dunia remaja. Walau dunia itu tidak ada perbedaan yang begitu besar, hanya setelah memasuki yang namanya gerbang pernikahan, maka cara pikir dan cara pandang masa depan yaitu bersama pasangan dengan tujuan akhir adalah sama-sama mencari ridhonya Allah SWT. Setelah menikah saya masih tetap berkarier dan juga masih berstatus mahasiswi.


Menjadi istri, karyawati, dan mahasiswi tidaklah mudah dalam satu waktu. Apalagi saya setelah menikah, bersama suami hidup berdua saja di rumah sewaan. Tentu banyak suka duka yang kami lewati berdua. Hidup mandiri dari orangtua, walau sebelumnya aku adalah anak kost yang hidup merantau jauh dari tanah kelahiran. Setelah empat bulan dari tanggal pernikahan kami, aku jatuh sakit dan tak kunjung membaik. Ke dokter sudah bolak balik, hingga ke spesialis. Hingga akhirnya tanpa disadari (sudah melalui pemeriksaan dari dokter) aku ternyata hamil. Namanya pasangan baru, dan kami belum tahu apa-apa tentang gejala atau tanda awal kehamilan maka, kehamilan pertamaku harus berakhir dengan keguguran janin. Sedih, ya sangat sedih. Kembali lagi ke takdir. Serta percaya Allah akan menguatkan ku menjadi seorang ibu yang baik. 

Tiga bulan kemudian, tanda-tanda kehamilan tak nampak, namun aku punya gejala sakit yang sama, pusing, mual, lemah, dan seperti vertigo berat. Belajar dari pengalaman pertama, dan dokter pun menyarankan hal yang sama, obatnya adalah testpeck satu pack :), jika lebih dari itu tidak ada dua garis positif, maka dokter akan memberikan obat. Ternyata memasuki bulan kedua, aku ternyata positif hamil, jarak kehamilan hanya tiga bulan dari keguguran. Ya, penuh resiko jika kuretase tidak bersih, atau ada sisa daging yang menempel di dinding rahim tak bersih, akan membahayakan janin baru.  Bismillah.... semua akhirnya baik-baik saja. Di kehamilanku yang kedua ini aku masih menyelesaikan tugas akhirku sebagai mahasiswi, menyusun skripsi yang begitu mepet waktunya. Serta perlahan mulai mempersiapkan surat resign kepada perusahaan. Tentu ini kulakukan untuk menjadi ibu ASI dan merawat buah hatiku. Alhamdulillah di tengah Ujian Akhir Semester, anakku lahir normal dan sehat. Perasaan haru bahagia menjadi ibu, membuatku semangat mengejar kembali UAS yang tertinggal dan bimbingan skripsi yang padat setelah melahirkan. Semua dilewati dengan perjuangan hingga akhirnya selesai sudah kuliahku. Dan aku pun menjadi ibu yang sehari-hari merawat anakku. 

Bully, tentu saja. Banyak yang menyayangkan aku tidak memakai ijazah sarjanaku. Bahkan ketika temanku sudah kerja diperusahan ini, pergi ke luar negeri, semua hanya kuhadapi dengan senyuman bukan tangisan. Kerja, ya aku sudah cukup merasakan dunia kerja lebih dari 6 tahun, waktu yang tidak sebentar, bukan?. Cukuplah aku menjadi Full mother time. Bayiku tumbuh sehat dan juga sudah mulai bermain dengan teman-temannya. Aku pun sedikit demi sedikit bekerja dari rumah. Walau hanya penulis freelance, tetapi setidaknya ada "me time" bagiku. Kesenangan yang tidak kugunakan untuk mengejar sesuatu, semua kulakukan ketika anakku sudah terlelap tidur. 

Masa ASI anakku dua bulan lagi akan selesai, genap sudah dua tahun usianya nanti. Namun ternyata Allah memberiku kado istimewa kembali, lagi aku dititipkan anak ketiga dalam rahimku. Ya, inilah kehamilan ketigaku. Tentu menjalaninya berbeda dengan yang pertama, kedua, dan saat ini. Dari mulai harus menstop ASI "menyapih" anakku. Tidak mudah rasanya, aku yang tengah mabuk hamil muda dua bulan, harus menyapih anakku yang tentu sangat mendadak dan membuatnya merasa tak disayang lagi. Berdoa, dan berdoa tiga hari yang membuat tidak tidur nyenyak akhirnya selesai. Anakku akhirnya sudah tidak ASI lagi. Perjuangan menjadi orangtua, beruntung suamiku sangat sabar. Lagi-lagi jauh dari orangtua kita, membuat kita belajar menjadi orangtua itu tidaklah mudah. Sabar dan selalu memberi perhatian penuh untuk anak, adalah kunci anak akan mengerti keadaan orangtuanya.

Kejadian sore hari ketika kehamilanku memasuki usia 4 bulan, ketika sedang melipat pakaian yang sudah kering di jemur. Anakku sedang asyik bermain bola. Tanpa disengaja dia pun menyundul perutku sangat keras dan terasa sekali ada yang bergerak dalam rahimku. Keringat dingin, ya keringat dingin. Ketakutanku akan keguguran yang pertama itu datang lagi. Aku bergegas pergi memeriksakan ke bidan terdekat. Dan Alhamdulillah jika tidak terjadi pendarahan, sakit, atau masih ada gerakan maka tidak apa-apa.

Memikirkan kejadian ini, memang ada perubahan dari sikap anakku ini, dia semakin manja, apalagi jika ada yang mengejeknya kalau punya adik tidak akan disayang, maka dia akan murung. Anak kecil sangat cepat daya tangkapnya dan menyimpannya dalam memorynya. Maka jadilah sikap manjanya yang berlebihan. Ingin tidur dalam pelukan mamanya, selalu ingin dilihat dan diikuti mamanya, hampir tak ada gerak buatku. Memasuki usia kehamilanku 7 bulan, gerakku semakin lambat, perut semakin besar, aku juga sering sakit leher karena tidurku yang harus berpelukan dengan tangan mungil anakku. Sebagai seorang ibu tentu bahagia, anaknya menjadi sangat dekat, namun dengan kondisi hamil ternyata sulit juga. Tetapi akan menjadi kenangan yang indah bagiku, kelak ketika anak sudah dewasa dan sudah punya kehidupannya sendiri. Menikmati hari-hari bersamanya, yang tak selamanya.