Menu
/
Dengan keindahan yang terpancar dari rona wajahnya nan cantik, kulitnya yang putih mulus, tak seharusnya kesedihan itu masih bersarang dalam jiwanya. Dengan apa yang sudah ia miliki, selesai kuliah kariernya tambah sukses, suami kaya, anak sejahtera, rumah nyaman dan kendaraan mewah. Apalagi yang ia harus tangisi dihadapanku ini. Rumah kontrakan petak, suami masih kerja banting tulang, karierku juga berhenti. Hanya mengurus anak dan itupun tak ada pembantu yang sekedar membantu pekerjaan rumah ketika aku ingin teriak lelah. Mana ada pembantu yang mau bekerja dikontrakan.

"Ada apa Lin" Tanyaku sambil membawa teh hangat dihadapannya.
"Aku gak kuat" Tangisnya semakin meledak.
Jantung makin berdegup kencang, melihatnya merintih histeris, ada apa dengan wanita yang selalu jadi primadona pria di kampus ku enam tahun silam.
"Aku ingin cerai saja" teriaknya sambil menumpahkan air matanya dibahuku.

Aku yang cuma pakai daster butut, kulit kusut tak terawat, sangat terlihat jauh dengan kulit Lina yang putih mulus dan pakaian kantoran yang bermerk. Timpang sekali rasanya. Seharusnya aku saja yang teriak, kenapa aku hidup dirumah kontrakan petak, karier hilang, jauh dari kata mapan. Ternyata bahagia itu misteri. Akupun mulai bertanya kepada Lina tentang keputusannya itu sambil kubelai rambutnya yang panjang berwarna coklat merah pirang.

"Aku benci  suamiku"
"Benci kenapa, dia selingkuh, tidak  kasih nafkah, atau kamu mendadak jatuh miskin"
"Dia susah diatur, menyebalkan."
"Diatur? Untuk apa?"
Kepalaku mulai pusing tak karuan, tak mengerti apa yang ada dipikiran sahabat karibku ini.
"Lin, tenangkan dirimu, pikirkan anak-anakmu, kenapa hanya karena susah diatur olehmu, kamu mendadak membencinya? Bukankah kalian sudah memiliki segalanya" aku pun menegaskan.


 Lina hanya menangis sesegukan sepertinya cinta yang dulu bersemi indah itu telah menguap tanpa alasan yang jelas. Aku pun membiarkan sang primadona masa lalu itu untuk menumpahkan bulir putih yang sudah dibendungnya entah sejak kapan. Aku hanya bisa memetik hikmah dari kejadian ambigu ini bahwa ketenangan hidup hanya datang dari hati. Ketika semua sudah ada dan sempurna tanpa ketenangan hati hanyalah hampa. Pun sebaliknya pasangan kita yang tetap satu visi dan misi serta selalu membangun cinta disaat badai rumah tangga meniup kencang adalah salah satu ketenangan hidup.



 Aku jadi semakin bangga dengan suamiku yang berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup kami walau penghasilannya harus dibagi-bagi untuk keluarga kecilnya, dua orangtuanya dan mertua, adik-adikya yang butuh biaya kuliah serta dia sendiri yang sedang menyelesaikan kuliah keduanya. Seorang lelaki yang menjadi tulang punggung dan tidak meminta tulang rusuknya untuk menjadi tulang punggung. Aku tetaplah istri rumahan yang merawat anakku. walaupun dahulu aku adalah salah satu staff terbaik di sebuah perusahaan asing. Dengan gaji yang mungkin bisa untuk menyicil rumah dan menambah dapur ngebul. Sekali lagi aku tetap berada di rumah. Mungkin itulah alasan kenapa aku begitu bisa nyaman membangun rumah tangga. Karena kita punya fokus dan tujuan bersama-sama. 

 Bukan berarti salah dengan Lina yang tetap mempertahankan kariernya, setidaknya ada masa yang tak bisa dibayar dengan uang berapapun ketika seorang ibu membelai lembut anak-anaknya yang baru lahir dan memberikan ASI ekslusif. Kedekatan inilah yang tidak akan kembali. Mata Lina sembab, wajahnya memerah. Matanya menerawang entah apa yang dipikirkannya. 
 "Sudah Lin, anak-anakmu pasti mencarimu pun dengan suamimu,"
 "Mereka tidak akan mencariku, karena sosokku telah hilang dihadapan mereka," Kata-kata Lina membuatku terdiam. Semua semakin tidak kumengerti kenapa sosok wanita dihadapanku ini begitu tidak berharga lagi dikeluarga mungilnya. "Sebaiknya engkaulah yang hadir dalam hidup mereka," diriku masih menasehati. 


 Dari titik inilah Lina menceritakan kisahnya. Bagaimana bahagianya saat rumah tangga mereka baru menikah. Bulan madu keluar negeri mengelilingi dunia. Hingga Lina mengandung anak pertama dan melahirkannya ke dunia. Semua begitu lengkap dan sempurna. Ketika sebuah jalan tak lagi sama. Lina masih tetap ingin melanjutkan kariernya sedangkan suaminya ingin Lina menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya dengan merawatnya penuh cinta. Kejadian itu menjadi es beku dalam rumah tangga Lina, apalagi Lina sering keluar negeri mengurusi klien-klien perusahaan. Lina tak memberi ASI untuk anaknya dalam jarak enam bulan Lina kembali hamil dan tetap bekerja. Ada ruang yang membuat Lina tidak betah dirumah. Ya, menjadi ibu rumah tangga bukan passionnya. Hingga anak kedua itu pun lahir. Jarak itu semakin jauh. Anak-anak lebih dekat kepada ayahnya. Bahkan saat Lina mengajak jalan mereka menolak. Sebagai seorang ibu Lina baru merasakan sakit dihatinya ketika anak-anak tak membutuhkannya. Pun sama dengan suami Lina yang membebaskan Lina kemanapun dan sampai kapan pun yang dimau, tanpa ada kekhawatiran, tanpa ada komunikasi sedikitpun. Jarak inilah yang membuat Lina semakin tersiksa dengan rumah tangganya. Ketika Lina ingin mengambil alih menjadi ibu sekaligus isteri mereka sudah asing. Lina pun marah dan menganggap suaminya dan anak-anaknya susah diatur. Dalam kekacauan dan kegalauan hati Lina memutuskan ingin bercerai. Sebuah keputusan yang begitu menyakitkan. Dan aku wanita tanpa air mata tetap memberi semangat Lina untuk berubah. meminta maaf atas apa yang terlewat. Memasuki dunia ibu dan isteri untuk keluarga yang tersayang. Akhirnya Lina mau berubah dan berusaha, walaupun belum tahu hasilnya. Semoga sosoknya benar-benar kembali dalam cinta seorang ibu dan isteri yang disayang suami. Apapun yang terjadi nanti, jika ketenangan hati sudah diraih dan cinta mengalir dalam darah, kesulitan akan terlewati.
1 comments:

Wanita memang hebat, kesedihan tidak harus di tunjukkan dengan air mata, kebesaran jiwa yang berkata.

Reply