Menu
/
Jika menjadi Ibu itu harus gendut karena hamil aku akan tinggalkan tubuhku yang langsing ideal.

Jika harus kulewati erangan sakitnya melahirkan daripada operasi cesar, aku memilih melahirkanmu dengan normal walau erangan itu sangat sakit sekali.


Jika Air susu ibu (ASI) adalah kunci perkembangan emasmu, aku akan berikan ASI dengan penuh kasih sayang.


Jika aku harus memilih jadi Ibu dan meninggalkan karier, aku akan memilih menjadi Ibu. walau ijazahku serta karierku tamat dirumah.


Jika kelak kamu dewasa nak, Ibu hanya ingin kamu mendoakan ibu dan ayah disepanjang sholatmu. 

---**---

Ketika aku sedang menggendong-gendong anakku yang gendut dan sehat rasanya sangat senang sekali, akupun berpikir jika saja wanita-wanita rela "bekerja" di rumah untuk benar-benar menjadi ibu rumah tangga yang merawat anak-anaknya dan mengurus suami tercintanya. Maka akan ada kisah-kisah yang luar biasa melebihi kisah Habibie&Ainun.
Karena dari rumahlah semua cerita cinta, suka duka, hingga amazing story akan lahir. Terkadang sebagai sosok wanita yang dikenal bahwa anak wanita itu rajin belajar, kalem tidak ugal-ugalan seperti anak laki-laki. Yang di sekolahnya menjadi bintang prestasi, lulusan terbaik hingga duta pendidikan. Namun jika benar mereka (wanita) yang begitu cemerlang, ketika sudah menjadi ibu dan mengabdikan untuk mengurus anaknya sendiri akankah redup sinarnya?

Sekali lagi aku bercermin dari sosok bu Ainun Habibie, yang kubaca dari kutipan di internet : 

“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu.


Namun saya pikir: buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak waktu itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri? Anak saya akan tidak memiliki ibu.



Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun-tahun kami bertiga hidup begitu.”


Kata-kata bu Ainun ini seperti seorang ibu sejati. Atau pahlawan tanpa tanda jasa. Apapun itu kaitannya dengan ucapan bu Ainun, memang sangat luar biasa, dipandanganku ini yang sama-sama juga mengabdikan diri untuk keluarga. Jaman bu Ainun mungkin teknologi tak seperti sekarang, dimana ibu-ibu rumah tangga bisa menghilangkah jenuh dengan berseluncur ke dunia maya, bisa FB, Twitter, Skype, Line, Wechat, YM, BBM, atau menulis di blog.

Disanalah totalitas bu Ainun terlihat. Seorang dokter yang merawat keluarganya dan menjadi ibu rumah tangga berijazah dan memiliki gelar sarjana. Ibu rumah tangga yang selalu dipandang sebelah mata. Yang terkadang pekerjaan Ibu rumah tangga disamakan dengan pekerjaan pembantu atau asisten rumah.

Jelas berbeda, Ibu rumah tanggalah yang mengatur segala sesuatu tentang rumah tangga, menjaga serta merawat. Membesarkan anak-anak dan mengajarkannya ilmu pengetahuan hingga anak-anaknya sukses. Memasak, belanja, bahkan ada juga yang sambil berkarier dirumah. Jam kerjanya pun dibilang melebihi wanita karier yaitu mulai buka mata hingga tidur. Adakah hari libur tentu tidak ada, full 24 jam non stop untuk memberi kenyamanan keluarga.


Film Habibie&Ainun sangat laris, sampai memecahkan rekor perfilman. Ditonton lebih 2,1 juta penonton dalam waktu 14 hari .


"Pertama kali dalam sejarah perfilman Indonesia! Film H&A mendapat 2.1 jt penonton dalam 14 hari," tweet Manoj Punjabi. "Terima kasih kepada Tuhan yang Maha Esa." (http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00029913.html)

Ditonton oleh jutaan pasangan, jutaan mata. Adakah yang berubah. Adakah peningkatan ibu yang memberikan ASI ekslusif untuk anaknya? atau hanya tontonan bagus yang setelah melihatnya tak ada pesan yang sampai.

Jujur saya belum melihat film ini, berarti saya bukan  dua juta orang yang dimaksud. Saya yakin Bu Ainun pasti tahu alasannya saya tidak pergi ke bioskop dan mengantri untuk melihat kisahnya. Karena dia tahu saya seorang ibu, yang tak akan duduk tenang walau dibangku terempuk sedunia sekalipun jika harus meninggalkan anaknya kepelukan baby sister atau menitipkannya di neneknya hanya untuk pergi menonton film yang kira-kira durasinya dua jam.

Bagaimana yang meninggalkan anaknya kerja dari pagi hingga sore kira-kira delapan jam. Tentu jika melihat bu Ainun pasti sudah tahu jawabannya. Memang menjadi ibu rumah tangga berijazah serta memiliki gelar sarjana itu sangat berat godaannya. Mendengar kabar teman lebih maju dalam karier dan kehidupan, ilmunya terpakai dan juga ada kebanggaan tersendiri jika karier itu sangat pesat. Saya pun masih tergoda kadang terisak, kadang nangis bombay atau menjadi melow dan hampir jadi ibu galau. Melihat teman-teman kampus sudah ada yang pergi ke Jepang, jadi guru, dosen, jadi penterjemah, manager, atau ada teman satu organisasi  yang selalu mengeluarkan buku-buku baru. Sedangkan saya karier berhenti hanya untuk memberikan ASI hanya untuk anak, dan ijazah tak terpakai.

Melihat bu Ainun yang berdedikasi kepada keluarga, rela meninggalkan gelar dokternya hidup pas-pas an sambil membesarkan anaknya, yang dia tidak tahu akankah suaminya jadi ilmuwan atau presiden. Namun itulah keputusan yang tepat. Bahwa dengan menjadi Full time mother anak-anaknya menjadi cerdas. Anak sulung ibu Ainun yaitu Dr Ing Ilham Akbar Habibie, MBA CEO menjadi  Direktur Ilthabi Rekatama, cerdas, santun serta membanggakan. Inilah hasil pengorbanan seorang ibu Ainun.

Dear Bunda, menjadi ibu tak perlu ijazah namun jika berijazah tidak lah salah. Karena Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak kita.

Bunda hebat, profesimu bukanlah pembantu rumah tangga namun ada dirimulah rumah itu tertata.

Bunda cerdas, karier memang menggiurkan, namun itu hanya pemenuhan untuk gengsi dan keuangan, sesungguhnya anak adalah anugerah Tuhan yang tak ada bandingannya.

Bunda sayang, dari kelembutan dan kasih sayangmu lah lahir sosok manusia yang akan menebar cinta di dunia ini. Jangan biarkan buah hati kita menjadi korban keegoisan kita.

Bunda sabar, Jangan malu jika bekerja di rumah, punya gelar sarjana, karena ibu berijazahlah yang akan menciptakan anak-anak luar biasa. 

Berbanggalah menjadi Ibu yang merawat anaknya dengan sentuhan tangan sendiri, memberikan ASI untuk anak-anaknya dan berbakti kepada suami.

Untuk para suami, peka hati dan pikiran. Bahwa Anda adalah kepala keluarga, imam yang baik untuk istri, ayah yang bertanggung jawab untuk anak-anak.  Duhai para ayah :
- Carilah nafkah dengan penuh semangat.
- Jemputlah rezeki dengan cara yang halal.
-Yakin dengan apapun profesi yang digeluti itu dari keringat yang bersih.
- Berikan yang terbaik untuk masa depan anak.
- Sehebat apapun istri bekerja di luar, namun lebih hebat istri yang mendidik anak-anak di rumah dengan penuh kasih sayang. menjadikan anak-anak generasi cerdas dan bernurani.
- Cintai dan sayangi istri sekaligus ibu dari anak-anak Anda.
- Berdoa bahwa Allah selalu memberi rezeki kepada semua umatnya.


Selalu ucapkan terima kasih kepada orang-orang yang menyayangi  dan memberikan cintanya sepanjang perjalanan hidup bersama kita.

By : Bundanya fatih
140313



1 comments:

I Feel you bunda :')

Reply